
"Tidak akan pernah!" ucap Sari tegas. "Ingat Finola, Elno. Dia membutuhkan dirimu. Tidakkah kamu tau apa dampak perceraian orang tua bagi anak. Pikirkan itu. Aku tidak ingin anakku tidak punya seorang ayah."
Elno meraih tangan Kara. "Sayang, aku akan membawa Sari pindah dari rumah ini. Kamu tidak akan melihatnya lagi dan aku akan membagi waktuku."
Sedikit memohon agar Kara menerima permintaanya. Namun, Kara menepis tangan Elno. Ia tidak ingin lagi berada dalam pernikahan mengerikan seperti ini. Hatinya sudah tidak sanggup.
"Satu rumah saja kamu enggak adil, Elno. Aku membiarkanmu berbuat semaunya dan sungguh itu menyakiti perasaanku. Kamu pikir hatiku menerima ketika kamu bermesraan dengan Sari, lalu berganti bersamaku. Betapa jijiknya aku disentuh olehmu, tetapi tetap saja aku menahannya!" ucap Kara keras. Ia menggelengkan kepala. "Tidak lagi, Elno. Aku tidak ingin merasakan sakit hati. Pilihanmu hanya satu. Aku atau Sari."
Kara masuk kamar setelah mengatakan hal itu. Terlalu sakit hingga Kara tidak lagi bisa menerima permohonan Elno. Bukannya dia tidak mencoba menerima dan bukan ia tidak berusaha ikhlas. Kara tidak sekuat itu hingga ia memutuskan untuk berpisah. Ia mencintai Elno, tetapi cinta malah membuat penyakit bagi dirinya. Lebih baik melepas cinta itu agar ia bisa bebas.
Elno dan Sari turun ke lantai bawah. Karena telah diusir, Sari lekas mengemasi barang-barang miliknya. Sementara Elno terduduk di sofa meratapi permintaan Kara.
Dilema melanda. Antara Kara dan Sari. Manakah yang harus ia pilih? Kara adalah cintanya dan Sari adalah hidupnya. Ada seorang anak di antara mereka. Jika melepas salah satunya hidup Elno akan hampa. Elno juga tahu dampak perceraian orang tua bagi seorang anak. Ia bingung sekarang. Ia tidak diizinkan untuk menjadi serakah dan harus memilih di antara keduanya.
"Silakan kamu mau pilih Kara. Tapi dengar ini, Elno. Aku tidak akan mengizinkanmu untuk bertemu Finola jika kamu menceraikanku," ucap Sari.
"Apa yang kamu katakan? Finola juga putriku," protes Elno.
"Kembalilah bersama Kara. Suatu hari nanti dia akan kembali meninggalkanmu. Bertahun-tahun tanpa memikirkan perasaanmu dia pergi. Kita tidak ada yang tau. Siapa tau di sana dia punya kekasih dan tidur dengan banyak pria. Siapa tau juga dia itu tiduri oleh majikannya. Kamu itu telah dibohongi!"
"Diam!" bentak Elno. Ia beranjak dari kursi, lalu melayangkan tamparan di pipi Sari. "Jaga bicaramu! Kara bukanlah wanita seperti itu. Kamu tau kenapa dia pergi? Karena Kara ingin menjadikanku seperti ini. Dia ingin suaminya sukses!"
"Oh, kamu masih ingin membelanya. Silakan pergi. Kembali bersama istri pertamamu itu. Ingat ini, Elno!" Sari menunjuk wajah suaminya. "Selama ini aku yang mengurusmu. Kara kembali hanya untuk berkeluh kesah tentang pernikahan kita. Dia memang menjadikanmu sukses dengan uang yang ia berikan. Tapi aku adalah istri yang selalu mendukungmu dan aku yang selalu mendengar keluh kesahmu."
Sari masuk kamar, lalu keluar dengan mengeret dua koper di tangannya. Ia keluar rumah dan berlalu dari sana.
Satu titik air mata jatuh. Baru ini buliran bening itu jatuh dari kelopak mata Kara. Ia mendengar semua dari atas sana juga melihat pertengkaran antara Sari dan Elno.
__ADS_1
Benar apa yang dikatakan Sari. Jika selama ini Kara mendukung suaminya dengan uang, sedangkan Sari selalu berada di sisi Elno dengan dukungan yang wanita itu berikan. Saran, nasihat dan semangat dari Sari yang membuat Elno menuju kesuksesan.
Kara menghapus air matanya, lalu ia menuruni anak tangga satu per satu. Elno yang melihat istrinya segera berjalan mendekat.
"Jangan dibuat pusing, Elno. Kamu tau siapa yang ada di hatimu. Maaf karena telah membuatmu memilih," ucap Kara.
"Aku mencintaimu, Kara. Aku tidak ingin kita berpisah," kata Elno sembari memegang kedua tangan Kara.
"Aku akan pindah dari sini. Terlalu menyakitkan untuk berdiam di rumah ini."
"Apa yang kamu katakan, Sayang? Ini rumahmu," ucap Elno.
Kara menggeleng. "Ini bukan lagi rumah impianku. Tidak lagi semenjak kamu membawanya. Pergilah bersama Sari, Elno. Selama ini dia yang terus ada di sampingmu. Apa yang Sari ucapkan benar. Kamu berada di posisi ini sekarang berkat dia. Dia adalah wanita yang berjasa bagimu."
Perlahan genggaman tangan itu terlepas. Kara membalik diri, lalu menaiki anak tangga secepatnya menuju kamar atas. Kara juga harus pindah. Tinggal di rumah ini membuatnya mengingat segala kesakitan yang ia alami.
Elno menyusulnya masuk kamar. Rupanya Kara memang telah bersiap untuk pindah. Bajunya telah dikemas di dalam koper, bahkan Elno tidak tahu kapan istrinya itu mengepak pakaian.
"Aku bisa pindah ke mana pun. Aku akan menunggumu di pengadilan," kata Kara kemudian melangkah melewati Elno dengan menyeret koper.
Elno meraih lengan istrinya. "Kita tidak akan berpisah. Aku akan bawa kamu ke rumah baru."
"Aku sudah beli apartemen."
Elno tersenyum getir. "Sudah lama kamu merencanakan ini rupanya. Dari mana kamu dapat uang beli apartemen? Uangmu enggak sampai seratus juta."
Suaminya ke luar kota, maka Kara berkesempatan mencari apartemen untuk ia tinggali serta mengajukan gugatan cerai.
__ADS_1
"Aku punya uang dan kamu enggak perlu tahu asalnya."
"Apa kamu bermain dengan banyak pria di luar negeri sana? Katakan, Kara. Jujur padaku. Dari mana kamu dapat uang itu?" tanya Elno.
"Dari majikanku!" jawab Kara.
"Benar rupanya. Kamu tidur dengan majikanmu dan membohongiku. Selama delapan tahun aku setia menunggumu pulang dan kamu berselingkuh hanya karena uang!"
"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku dapat warisan dari majikanku."
Elno menggeleng tidak percaya. "Dari awal kamu memang tidak jujur padaku, Kara!"
Kara melepas tangannya dari cengkeraman Elno dan mundur beberapa langkah. "Kalau benar kamu mau apa?" tantang Kara.
"Aku talak kamu! Saat ini kamu bukan istriku lagi!" ucap Elno.
Kara terkesiap mendengar ucapan Elno. "Ka, kamu menceraikanku."
"Ini, kan, yang kamu minta dariku. Mulai saat ini kita bukan suami istri lagi!" ucap Elno.
Kara mengerjap beberapa kali agar tidak bersedih. Hatinya terasa perih. Ternyata rasanya sakit berpisah dari orang yang dicintai. Mendengar secara langsung suami yang ia cintai menceraikan dirinya.
"Terima kasih, Elno," ucap Kara. "Semoga kamu bahagia bersama pilihanmu."
Kara melangkah pergi dari hadapan Elno. Langkahnya gontai menuruni satu per satu anak tangga dan ia hampir saja terpeleset. Kara tidak dapat menahannya. Air mata meluncur bebas seiring langkahnya keluar dari rumah.
"Kenapa sesakit ini? Seharusnya aku bahagia," isaknya.
__ADS_1
Kara berjalan kaki keluar dari perumahan. Ia tidak membawa mobil serta perhiasan yang Elno berikan. Kara cuma membawa barang miliknya saja.
Bersambung