The Wife ( Istri Yang Teraniaya )

The Wife ( Istri Yang Teraniaya )
Ditolak


__ADS_3

Selesai makan siang bersama, Elno mengajak Kara berkunjung ke rumahnya. Awalnya Kara menduga jika itu kediaman yang dulu sempat mantannya katakan. Jika itu benar, maka Kara tidak akan menginjakkan kaki di rumah yang pernah ditinggali oleh Sari atau wanita lain.


"Rumah baru dan tidak pernah ada wanita yang datang kemari. Rumah lama sudah aku jual. Kan, aku membagi sebagian uangnya untukmu," kata Elno.


"Sebagian lagi untuk Sari, kan?" terka Kara.


"Itu kompensasi," jawab Elno.


"Bagaimana hubunganmu bersamanya? Apa kalian masih saling kontak?"


Elno terdiam sesaat sembari menatap wajah Kara. Membahas Sari membuat Elno merasakan kekhawatiran. Terlebih ia masih memperdulikan Finola yang sudah dianggap sebagai anak sendiri.


"Menurutmu aku harus bagaimana?" tanya Elno.


"Apa?" Kara balik bertanya. "Kamu belum menjawab pertanyaanku."


"Justru pertanyaanku ini adalah jawaban yang akan kamu dapatkan," kata Elno kemudian melanjutkan kalimatnya. "Bagaimana tentang Finola?"


Kara mengerti sekarang. Artinya, Elno masih menjalin hubungan dengan Sari karena anak dari Tedy.


"Kamu sangat mencintai anak itu? Enggak ngerti apa kamu yang memang terlalu baik. Tapi kamu tau sendiri jika ibunya pernah menghancurkan pernikahan kita. Aku enggak yakin jika tidak ada yang kedua kalinya. Ya, mungkin aku terlalu jahat, tetapi aku enggak bisa sama orang yang masih terikat pada masa lalunya," tutur Kara.

__ADS_1


"Sebenarnya perceraian kami agak sedikit rumit. Finola awalnya diketahui anakku. Waktu itu aku ingin berpisah dengan proses cepat. Aku sepakat untuk memberi nafkah pada Finola. Setiap bulan aku mengirimkannya uang," ungkap Elno.


"Memangnya tidak bisa diurus untuk masalah kewajiban kamu?"


"Memang sudah diurus, tetapi Tedy yang merupakan ayahnya tidak mau menikahi Sari. Aku bahkan harus menjalani tes DNA lagi."


"Jadi, hanya karena enggak mau ribet, kamu masih menjalani kewajibanmu itu?" tanya Kara.


"Jangan potong dulu kalimatku. Setelah semua selesai, aku terhindar dari kewajiban itu. Tapi kalau ada rezeki lebih, aku kasih buat Finola. Anak kecil tidak tau apa-apa, Kara. Aku juga menyayanginya. Di umur segini, aku menginginkan seorang anak," kata Elno.


"Kamu sering menemui mereka?"


"Kenapa tidak datang menemuiku?" Kara menatapnya lekat.


"Ada yang bilang kalau aku menemuinya, maka dia akan pergi lagi. Jadi, aku cuma bisa memandangnya dari layar ponsel."


"Antar aku pulang," kata Kara.


"Makan malam dulu di sini. Apa ini karena Finola? Sumpah, aku saja belum menemuinya. Aku juga enggak secara langsung kasih uang itu pada Sari. Aku titip pada bibi di rumah."


"Bukannya begitu, aku tidak ingin anak itu malah menjadi kelemahanmu. Tidak untuk dua kali, Elno. Aku tau dia tidak bersalah, tetapi aku tidak ingin ibunya nanti memperalatmu," ucap Kara mengungkapkan rasa takutnya.

__ADS_1


"Aku juga enggak pernah menemui Sari setelah urusan kami selesai."


"Terus, dari mana kamu bertemu Finola?"


"Dari bapaknya. Tiga bulan aku pergi, Finola telah menyebut Tedy sebagai ayah. Awalnya lucu banget, aku ingat raut wajah Finola yang heran saat Tedy memperkenalkan aku sebagai pamannya. Waktu itu dia masih menyebutku papa," kata Elno.


"Apa dia akan terus menyebutmu seperti itu nantinya?"


Elno mengangkat bahu. "Terakhir kami bertemu saat usianya menginjak tiga tahun."


"Enggak apa-apa kalau dia menganggapmu sebagai ayah. Masalahnya aku tidak ingin saja kamu kembali ada hubungan dengan ibunya."


"Kita nikah, yuk!" ajak Elno. "Kita bisa buat anak bayi."


Kara melotot mendengarnya. "Kenapa jadi bahas ini?"


"Agar kita punya anak sendiri. Supaya kita enggak anggap anak orang sebagai anak sendiri," ucap Elno.


"Ogah!" tolak Kara.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2