
Elno melepas pelukan Sari. "Jika Kara tidak bisa bersamaku, maka aku tidak akan bersama wanita manapun. Maafkan aku, Sari."
"Apa maksudmu?" Sari bertanya dengan sedikit keras. Sungguh ia tidak percaya atas perkataan Elno.
"Jangan bertindak tidak waras, Elno!" ucap Sanjaya.
Elno tidak menjawab, tetapi ia langsung pergi menuju mobilnya. Elno masuk, lalu segera menghidupkan mesin dan berlalu dari sana.
Sementara Sari tertegun atas tindakan Elno. Ini tidak seperti yang ia inginkan. Sudah bagus Kara meminta pisah dan Elno menyetujuinya. Tapi, apa ini? Elno malah ingin rujuk lagi, dan jika tidak mendapatkan Kara, maka ia juga akan didepak. Elno sungguh tidak waras.
Elno kembali menyusuri jalanan. Entah ke mana lagi ia akan mencari Kara. Rasanya Jakarta ini begitu luas sampai ia tidak bisa menemukan wanita itu. Ditelepon dan dikirim pesan pun tidak dibalas.
"Apa telepon saja Tedy? Ya, terakhir Kara bepergian bersamanya. Bisa jadi dia tau keberadaan Kara," gumam Elno.
Pesan segera terkirim kepada Tedy. Elno mengajaknya bertemu di kafe biasa mereka nongkrong. Kali ini Elno harus berdamai atas tindakannya tempo hari pada sang sahabat. Berharap Tedy mau membantu mencari Kara.
Elno sampai lebih dulu di kafe. Tidak lama Tedy datang bersama Ilmi. Memang kebetulan keduanya kumpul bersama. Jadi, Tedy mengajaknya sekalian.
"Ada apa?" tanya Tedy yang wajahnya cemberut.
"Aku minta maaf atas kejadian tempo hari. Tapi aku mohon padamu untuk memberitahuku di mana keberadaan Kara. Dia pergi dari rumah," kata Elno tanpa memberitahu hal sebenarnya.
"Mana aku tau di mana Kara. Dia tidak menghubungiku," kata Tedy. "Kalau kamu, Ilmi?"
Ilmi mengedikan bahu. "Aku juga tidak tau."
"Coba kamu hubungi Delia. Mungkin dia tau keberadaan Kara," kata Tedy.
"Delia mana?" tanya Elno.
"Astaga, Elno! Wajar saja Kara pergi darimu. Kamu saja tidak tau tentang istrimu."
"Sebenarnya Kara menjadi pendiam. Aku juga sibuk karena pekerjaan," ucap Elno.
"Sebenarnya ada apa ini?" tanya Ilmi curiga. "Jangan bilang kalau kalian sudah berpisah."
"Ap-apa maksudmu?" Elno balik bertanya.
"Kamu panik, Elno. Pasti telah terjadi sesuatu hal di antara kalian."
"Tidak terjadi apa-apa. Kara hanya marah padaku."
"Sudahlah. Lebih baik cari Delia saja," sela Tedy.
"Kamu tau di mana dia?" tanya Elno.
__ADS_1
"Aku tau tempat kerjanya. Kita ke sana saja."
"Aku enggak ikut. Pacarku mau ketemu," sahut Ilmi.
"Oke, deh. Kalau gitu kita aja," ucap Tedy.
Elno meletakkan selembar uang lima puluh ribu di meja kemudian keluar bersama dua sahabatnya. Elno dan Tedy masuk ke mobil mereka masing-masing. Sementara Ilmi naik ke atas motor sport miliknya. Sama-sama jalan, tetapi beda tujuan.
Sesampainya di mal, Elno dan Tedy harus menunggu Delia selesai bekerja. Elno semakin tidak sabar dan membuat Tedy curiga padanya.
"Kamu takut Kara balik lagi ke luar negeri?" tanya Tedy.
Elno menggeleng. "Aku takut dia menghilang."
"Baru sehari, Elno. Sebenarnya ini salahmu juga. Kamu itu telah menyakiti hati Kara."
"Apa aku bermaksud begitu? Tau sendiri apa kesalahanku. Coba saja salah satu dari kalian mau bertanggung jawab pada Sari," ucap Elno.
"Sari saja mau sama kamu," jawab Tedy.
"Apa aku benar menidurinya?" tanya Elno yang berhasil membuat Tedy kaget.
"Sudah hampir tiga tahun, kamu baru menanyakan hal itu."
"Maksudku apa benar aku adalah orang pertama yang meniduri Sari? Waktu itu aku tersadar saat berada di pelukannya," ucap Elno.
Saat Finola lahir, diam-diam Elno meminta pihak rumah sakit melakukan tes DNA. Tedy dan Ilmi yang membantunya karena Tedy punya kerabat yang bekerja di rumah sakit tempat Sari melahirkan. Tes itu menunjukkan kalau Finola memang anak dari Elno.
"Aku mengucapkan talak pada Kara," ucap Elno.
"Apa?" Tedy kaget mendengarnya.
"Aku dalam keadaan emosi. Sungguh aku tidak berniat mengucapkannya. Kara memberiku surat gugatan cerai. Dia ingin pindah dan mengatakan telah membeli apartemen. Saat itu aku juga bertengkar dengan Sari. Tadi itu benar-benar kacau," ungkap Elno.
"Seharusnya sejak awal kamu sudah memilih, Elno," kata Tedy.
"Andai kamu jadi aku, Ted," ucap Elno yang tidak bisa lagi menjelaskan hasil perbuatannya.
Mungkin sebaiknya begitu. Tidak peduli nasib Sari dan Finola kelak. Saat Kara datang dan meminta ia menceraikan Sari, seharusnya Elno menerimanya.
Delia datang menghampiri Elno dan Tedy yang duduk di meja nomor sebelas. Ia sudah terbebas dari jam kerja, dan bisa bicara pada keduanya.
"Ada apa?" tanya Delia.
"Del, kamu tau keberadaan Kara?" tanya Elno. Setelah melihat sosok Delia, barulah Elno mengenalnya. Rupanya teman satu sekolah Kara.
__ADS_1
"Aku tidak tau di mana Kara," ucap Delia.
"Jangan bohong, Del. Kamu pasti tau di mana keberadaan Kara," desak Elno.
"Sekarang aku enggak tau. Kalau aku bertemu Kara, nanti akan aku beritahu."
"Apa dia bilang sesuatu padamu?"
"Dia ada cerita beli apartemen," kata Delia.
"Di mana?" tanya Tedy.
"Bintaro Park. Katanya dia dapat warisan gitu dari majikannya di Hongkong."
Elno mengusap wajahnya kasar. Ia menyesali segala hal yang telah ia ucapkan pada Kara. Tuduhan yang tidak benar dan itu yang membuatnya ingin mengutuk dirinya sendiri.
"Terima kasih, Delia. Jika Kara menghubungimu, lekas beritahu aku." Elno memberikan kartu nama kepada teman sekolah istrinya itu.
...****************...
Bel apartemen berbunyi. Kara yang telah bangun dari tidurnya berjalan membuka pintu. Ia tahu siapa yang datang karena ia sendiri mengizinkan orang itu untuk datang.
"Hai!" sapa Kara seraya tersenyum. "Masuklah."
"Aku bawakan makanan untukmu," ucap Ilmi.
Kara menyambut kotak makanan yang diberikan Ilmi. "Terima kasih. Kamu duduklah."
Orang yang membantu itu adalah Ilmi. Proses Kara mencari apartemen dan pengajuan gugatan cerai atas bantuan dari sahabat Elno sendiri.
"Elno mencarimu. Apa yang terjadi?" tanya Ilmi.
"Dia sudah menceraikanku," jawab Kara.
"Dia dan Tedy tengah mencari Delia. Apa kamu bilang membeli apartemen di sini?"
"Aku memang bilang pada Delia," kata Kara.
Ilmi menghela napas panjang. "Tidak lama lagi Elno bakal tau keberadaanmu."
"Untuk apa menghindar? Kami sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi sekarang. Justru yang menjadi masalah adalah hubunganmu dengannya."
"Jangan dipikirkan. Elno sudah sangat keterlaluan denganmu. Jika dia mencintai kamu, sudah dari awal Elno itu menceraikan Sari," kata Ilmi.
Kara terdiam dan ia berjalan menuju dapur menyalin makanan yang dibawa Ilmi ke dalam piring. Ilmi juga yang membantu Kara mengisi barang di apartemennya sehingga Kara bisa langsung tinggal saja.
__ADS_1
Bersambung