
Lain halnya dengan Ilmi. Kepergian Elno membuatnya terasa aneh. Ia sering bersama sahabatnya terlebih saat di kantor. Jam istirahat mereka akan berada di kantin. Bercanda bersama sembari membahas hal apa pun itu. Terlebih ketika keduanya kembali dalam dunia kerja. Ilmi akan berakting dengan Elno. Menjadi atasan dan bawahan. Baginya itu sangat lucu.
Kini tidak ada lagi Elno. Semua ini karena kesalahannya. Ia iri dan ingin memiliki semua milik Elno. Mereka bersahabat, kenapa yang tidak dimiliki Elno, tidak ia punya? Seharusnya Elno membaginya. Pikiran buruk itu serta dengki yang membuatnya rela menghancurkan kehidupan pria itu.
Apa yang ia dapatkan? Sama sekali tidak ada. Pekerjaannya tetap menjadi manager. Kara juga tidak ia dapatkan, malah sahabatnya telah pergi. Sahabat baik yang selama ini berada di sampingnya.
Sama hal dengan Tedy. Ia juga tidak mendapat keuntungan apa-apa dari hancurnya rumah tangga Elno, bahkan Finola saja tidak ingin bersamanya. Tedy mencoba untuk mendekat, tetapi anak itu malah menangis ketika ia pegang. Bagi Finola, Elno adalah ayahnya, dan ia hanyalah orang asing.
"Dia sudah pergi?" tanya Ilmi.
Tedy mengangguk. "Sepertinya. Terakhir aku bertemu saat persidangan mediasi mereka. Elno mengatakan ingin pergi. Setelah itu ia tidak memberi kabar apa pun. Sepertinya dia juga berganti nomor kontak."
"Untuk apalagi menghubungi. Kita yang membuat hubungan ini berakhir," kata Ilmi.
__ADS_1
"Aku berharap semoga dia baik-baik saja," ucap Tedy.
"Aku juga berharap begitu," timpal Ilmi.
Kesempatan datang jika Ilmi ingin mencoba mendapatkan Kara. Tapi, ia tidak akan melakukan itu. Cukup untuk mengejar wanita yang sebenarnya bukan miliknya dari awal. Elno berkata benar jika Kara tidak akan pernah menjadi milik Ilmi. Meski cara apa pun yang dilakukan, Kara tidak akan bisa ia dapatkan. Ilmi akan mengubur rasa cintanya itu. Membiarkan perlahan cintanya pergi dengan sendirinya.
Sementara itu, Kara mulai membangun hidupnya. Ia membuka usaha online shop bersama Delia. Usaha membuatnya tidak mengingat kejadian lalu. Walaupun wajah Elno masih terbayang ketika menjelang tidur.
Ia sibuk dengan karier-nya. Kara ingin mandiri, punya segalanya dengan hasil kerja keras meski ada saja beberapa halangan yang menundanya. Halangan adalah kesuksesan yang tertunda. Semakin banyak halangan, semakin ia bekerja keras. Karena Kara yakin, ia akan memetik hasilnya nanti.
Kara tertawa. "Belum rezeki artinya."
"Kamu selalu bilang begitu."
__ADS_1
Tiba-tiba Kara menitikkan air mata. Delia terperangah melihat itu. Sungguh ia tidak ingin membuat Kara bersedih. Ia tidak dapat menjaga mulutnya.
"Kita akan usaha lagi, Kara. Jangan menangis. Kamu membuatku sedih," ucap Delia.
Kara menggeleng. "Bukan karena ini. Aku mengingat Elno. Aku ingat usaha dia agar aku bisa makan enak. Dia rela makan nasi sama kuah demi membawakanku sepotong ayam goreng. Dia bilang, semoga besok kita ada rezeki lagi. Dia begitu dewasa, Delia. Umur kami bahkan belum dua puluh tahun waktu itu."
"Sabar, Kara. Tenangkan dirimu," ucap Delia.
"Kesusahan kita ini tidak seberapa. Kita harus kerja keras lagi. Elno juga pernah bilang kalau gagal berarti usaha kita belum keras. Kenapa aku terus mengingatnya?" Kara tidak dapat menahan tangisnya. Selalu saja terbayang pada Elno.
Delia memeluk sahabatnya. "Kamu tenangkan diri dulu. Bagaimanapun Elno pernah ada dalam hidupmu. Dia pernah menjadi pria yang paling kamu cintai."
"Terima kasih sudah mau mendengar keluhanku," ucap Kara.
__ADS_1
Untung saja ada Delia. Kara bisa mencurahkan isi hatinya pada wanita itu. Ia memang selalu mengingat Elno. Pria itu masih berada di dalam lubuk hatinya.
Bersambung