
Semua memang sudah terlambat bagi Elno. Pernikahan hancur memang karena salahnya yang tidak bisa mengerti apa keinginan Kara. Andai jika seseorang ditempatkan pada posisinya. Mereka akan tahu apa yang Elno rasakan. Ia diketahui telah meniduri seorang wanita dan membuatnya hamil. Ia menikahi perempuan itu dan bertanggung jawab atas anak yang dilahirkan.
Memang kesalahan Elno yang tidak jujur dari awal. Ia punya alasan untuk itu. Kara jauh di negeri orang dan dalam masa kontrak kerja. Tentu ia tidak ingin istrinya terbebani. Rasa bersalah itu ada selama dua tahun menjalani biduk rumah tangga bersama Sari.
Sebagai suami, tentulah Elno memberikan kewajibannya pada istri serta anak. Ia berusaha memberikan cintanya dengan rasa bersalah terhadap Kara.
Kedatangan Kara memang mengejutkan. Elno menantikannya, tetapi bukan kasih sayang yang ia berikan. Hanya luka yang terus ia torehkan di hati istri pertamanya. Menceraikan Sari hanya untuk keegoisan Kara tidaklah mungkin Elno kabulkan. Ia juga menimbang perasaan istri keduanya. Elno memutuskan agar keduanya hidup rukun bersama.
Faktanya memang tidak seperti khayalan. Tidak ada namanya adil bagi istri-istrinya meski Elno berusaha keras mewujudkan itu. Puncaknya ia yang dalam keadaan emosi mengucapkan kata perceraian. Kata yang membuatnya berada dalam penyesalan.
"Untungnya tidak ada cedera yang serius. Kamu mau bermalam di sini?" tanya Sari.
Elno mengunjungi rumah sakit untuk mengobati luka di tubuhnya sekaligus hatinya. Sayangnya dokter tidak bisa menyembuhkan hatinya yang terluka. Hal itu lebih teriris lagi ketika melihat wajah tidak bersalah Sari.
"Pergi dari sini!" usir Elno.
Sari menatap suaminya lekat. "Maafkan aku, Elno. Ini karena aku mencintaimu."
__ADS_1
"Mencintai dengan merebutku dari Kara?" Elno menatap tajam istrinya. "Tega sekali kamu, Sari. Kami tidak pernah berbuat salah pada kalian."
"Karena hal itu aku iri, Elno. Kamu begitu mencintai Kara dan aku menginginkanmu. Aku berhasil masuk merebut hatimu. Jika Kara tidak kembali, aku yakin kamu akan menjadi milikku seutuhnya."
"Itulah kesalahan dan kebodohanku. Memelihara rubah di dalam rumahku sendiri dan mengusir tuan-nya yang asli." Elno menggeleng. "Kali ini aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama. Wanita sepertimu tidak pantas untuk hidup bersamaku."
"Jangan bicara seperti itu, Elno. Aku istrimu. Kita punya Finola untuk dibesarkan bersama."
Elno menyadari jika Finola adalah kelemahannya. Putri kecil yang sekarang ia ragukan identitasnya. Setiap bertengkar, selalu Finola yang Sari sebut.
Sari terkesiap. "Elno!" bentaknya.
"Hubungan ini sudah tidak sehat. Kamu pikir aku bisa melupakan begitu saja setelah apa yang kamu lakukan padaku?" Elno menggeleng. "Di mana otakmu, Sari? Melihat wajahmu saat ini saja aku muak!"
Sari mendekat, meraih tangan Elno dan menggenggamnya. "Aku minta maaf. Kita lupakan semua ini, Elno. Kita buka lembaran baru."
Elno melepas genggaman Sari kemudian mendorong tubuh istrinya. "Cukup! Perempuan tidak tau malu. Kesalahan apa yang telah kuperbuat di masa lalu sampai bisa menikahimu. Aku muak denganmu, Sari. Pergi dari sini!" usir Elno.
__ADS_1
Sari menjatuhkan diri. Duduk berlutut seraya menangkupkan tangan memohon maaf pada suaminya. Air mata menetes mendengar ucapan Elno.
"Selama ini aku yang selalu menemanimu, Elno. Aku yang selalu ada di sampingmu. Kesalahanku memang menjebakmu malam itu. Tapi semua itu karena aku mencintaimu. Aku menginginkanmu seorang," ucap Sari terisak.
"Kamu berhasil, Sari. Kamu membuat Kara pergi dari hidupku." Elno mengusap wajahnya kasar. Tidak tahu lagi harus berkata apa. Ia terjebak dalam kebodohannya sendiri. "Pergi, Sari! Kumohon pergilah."
"Enggak! Aku ingin tetap di sini," kekeh Sari.
"Jangan sampai membuatku marah," ucap Elno.
"Beri aku kesempatan satu kali saja, Elno. Aku akan perbaiki semuanya."
"Pergi!" bentak Elno.
Sari bangkit berdiri. Ia menatap Elno dengan kesedihan sebelum membalik diri dan berjalan keluar dari ruangan rawat inap.
Bersambung
__ADS_1