
"Oh, sengaja mau melindungi selingkuhanmu. Kalian berdua bermain di belakangku. Kamu sengaja pergi ke Bandung agar bisa bersama Tedy rupanya," tuduh Elno.
Tedy yang melihat Kara kewalahan menenangkan Elno segera berjalan menghampiri. "Kami tidak melakukan apa-apa. Tadi pagi aku hanya mengerjaimu. Kara pergi ke toilet restoran bukan kamar mandi di kamar inapku."
Elno mendorong Kara ke samping kemudian melayangkan tinjuannya ke rahang Tedy. Sontak hal itu mendatangkan kegaduhan di antara pengunjung yang melihat.
"Kara istriku! Jangan harap kamu bisa memilikinya. Sahabat macam apa kamu ini," ucap Elno.
Tedy mengusap rahang yang terkena pukulan Elno. "Aku bilang ini salah paham."
Kara menarik lengan suaminya. "Ayo, kita pulang."
Tatapan tajam masih Tedy dapatkan ketika Elno beranjak pergi bersama Kara. Salah dirinya juga yang iseng mengangkat telepon Kara dan akhirnya ia mendapat akibatnya.
"Sialan kamu, Elno!" umpat Tedy.
Kara membawa Elno menjauh dari Tedy sembari menunggu taksi yang sudah ia pesan. Tidak lama mobil datang dan keduanya masuk ke dalam. Elno membawa Kara menuju hotelnya menginap. Tidak begitu jauh dari tempat Kara menginap bersama Tedy.
Sesampainya di hotel, Elno memesan kamar lagi untuk mereka berdua. Masih dalam puasa bicara keduanya berjalan menuju kamar yang telah dipesan.
Elno mendorong Kara masuk disusul oleh dirinya seraya menutup dan mengunci pintu. Lengan Kara dicengkeram karena Elno masih belum memberi pelajaran pada istrinya.
Tanpa bicara, Elno membuka paksa pakaian yang istrinya kenakan. Kara menepis tangan itu, tetapi Elno tidak menyerah untuk membuka baju yang Kara pakai.
"Biar aku buka sendiri!" ucap Kara. "Kamu mau periksa tubuhku, kan?"
Kara sungguh menerima tantangan Elno. Ia membuka habis pakaiannya di depan suami yang merasa tersakiti.
"Lihat baik-baik dengan mata kepalamu sendiri. Apa ada bekas dari Tedy?" ucap Kara.
Tantangan itu membuat Elno marah. Ia mencekik leher Kara kemudian mendorongnya sampai Kara jatuh di atas tempat tidur.
"Kamu kira aku bodoh. Kamu sudah tidak perawan dan Tedy bisa melakukannya tanpa jejak," kata Elno.
Mata Kara membelalak mendengar itu. Ia mencoba tersenyum walau napasnya megap-megap. "Memangnya kenapa kalau aku tidur bersamanya? Kamu mau apa?"
Satu tamparan Kara dapatkan. Elno memukulnya dan itu karena salahnya juga meski apa yang dituduhkan tidaklah benar. Kara tahu itu salah, tetapi ia sengaja mencari kesalahan itu.
"Terima kasih, Elno," ucap Kara dengan napas tersengal.
__ADS_1
Elno melepaskan tangannya dari Kara. Ia membuka habis pakaian yang dikenakan kemudian meniduri istrinya.
"Kamu butuh ini, kan?" ucap Elno dengan menghentak Kara kuat. "Aku berikan, Kara."
Kara malah tertawa. "Apa aku begitu menarik? Bukannya kamu lebih memilih menyelinap ke kamar Sari demi melakukan ini? Sekarang kamu malah begitu semangat memasukiku."
"Karena dia lebih baik darimu. Kamu tau alasan kenapa aku tidak ingin lepas darinya? Karena dia lebih baik darimu!" ucap Elno marah.
Kara menjerit ketika Elno semau hati menghentaknya. Suara hentakan dari penyatuan kulit terdengar cukup kuat. Kara mendorong perut Elno agar suaminya itu melepaskannya.
"Apa Tedy melakukan gerakan ini juga?" tanya Elno.
"Dia lebih baik darimu," ucap Kara.
Elno tersentak mendengar hal itu. Tidak mengira jika Kara sungguh bermalam bersama Tedy. Elno semakin menyiksa Kara dengan gerakkannya sampai ia jatuh kelelahan di samping sang istri.
"Kenapa kamu melakukan ini, Kara?" tanya Elno.
"Kamu yang menuduhku seperti itu."
"Katakan, Sayang. Apa yang kamu lakukan bersama Tedy?"
"Maafkan aku," ucap Elno. "Aku menyakitimu."
"Kapan kamu tidak menyakitiku? Aku selalu tersakiti. Tapi terima kasih karena sudah jujur padaku. Aku tau alasan yang sebenarnya kenapa kamu mempertahankan Sari," ucap Kara. "Sebagai istri aku banyak kekurangan. Dia melayanimu dengan baik. Aku tau kini kekuranganku. Seharusnya aku banyak belajar darinya."
"Kamu yang terbaik. Aku hanya emosi saja tadi," ucap Elno.
Kara tersenyum getir. Karena emosi itulah kebenaran yang sesungguhnya. Suatu ucapan yang tertunda. Emosi yang keluar itulah arti kejujuran. Kata yang terpendam akhirnya bisa keluar dari emosi itu.
"Aku percaya," ucap Kara dengan membalik diri membelakangi Elno. "Aku minta maaf. Selama ini telah menuntut hal yang tidak bisa kamu lakukan. Jangan hiraukan aku, Elno. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Sungguh! Kali ini aku menerima Sari dalam hidupmu dan hidupku."
"Sayang, kamu sungguh-sungguh akan ucapanmu?" tanya Elno.
"Iya. Aku bersungguh-sungguh. Jangan khawatirkan perasaanku. Kamu lakukan tugasmu sebagai seorang suami."
Elno memeluknya. "Terima kasih, Sayang. Terima kasih."
Kara memejamkan mata. Ia menahan sesak di hati. Kejujuran Elno sungguh menyakitkan. Ia telah kalah sekarang. Sari memang lebih unggul darinya. Sari dan Elno saling mencintai dan Kara cuma sebagai istri yang harus dibalas budinya.
__ADS_1
****************
Kara sama sekali tidak marah ketika melihat Sari juga ikut ke Bandung. Ia sudah mengatakan untuk tidak lagi cemburu atau mengeluh. Elno boleh melakukan apa saja sesuai keinginannya.
"Malam ini kamu harus bersamaku, Elno. Jatahku belum habis," ucap Sari.
Elno tersenyum. "Iya, aku akan bersamamu. Sekarang cepat habiskan makan malammu."
Ketiganya memang berada di restoran menyantap menu makan malam. Kara tidak peduli lagi dengan apa yang Sari ucapkan atau balasan perkataan Elno untuk menyenangkan istri mudanya. Kara menerima itu semua dan berjanji untuk tidak mengeluh.
"Pakaianku masih ada di hotel lain. Aku harus mengambilnya," kata Kara.
"Biar aku antar," ucap Elno.
"Jangan lama-lama, Sayang," sahut Sari.
"Iya, cuma ambil baju saja."
Selesai makan malam, Elno mengantar Kara ke hotel untuk mengambil pakaian. Kara membereskan semua barangnya untuk dibawa ke hotel tempat Elno menginap.
Karena jatah Sari masih tersisa, Elno bermalam bersamanya. Sementara Kara tidur sendirian. Biarlah bayang-bayang Elno dan Sari terus menghantui. Kara sudah bertekad untuk patuh.
****************
Besok paginya sebelum pulang, ketiganya sarapan bersama. Kara melihat dua tanda merah di sekitar leher Sari karena memang madunya itu memakai kaus berleher rendah.
Malam yang panas rupanya sudah terjadi antara Sari dan Elno. Kara cuma bisa memaklumi dan suaminya pun tampak bahagia hari ini karena keputusan Kara.
"Sepertinya Finola akan punya adik," kata Kara.
Elno berdeham. "Apa kamu tidak ada pakaian berkerah tinggi?"
"Semua bajuku seperti ini. Aku akan tutupi dengan rambutku. Lagian ini semua karena kamu. Aku sudah bilang untuk tidak membuat bekas," ucap Sari.
Elno melirik istri pertamanya. "Sudahlah. Jangan dibahas."
Ini tidak seperti sebelumnya. Kara tidak akan lari, tetapi ia akan menghadapi kenyataan pahit itu. Faktanya ada wanita lain yang harus diperlakukan sama dengannya.
Bersambung
__ADS_1