
Kara tersenyum getir mendengar pengakuan Ilmi. "Cinta dengan tidak setia pada satu wanita?"
Ilmi tersentak. "Aku ...."
"Kamu tau perbedaanmu dengan Elno? Dia berusaha setia hanya untuk satu wanita, dan kamu bisa lihat kesetiannya bertahun-tahun selama aku meninggalkannya. Apa dia bermain wanita? Kalau bukan karena jebakan kalian, dia tidak akan pernah menikahi Sari. Sedangkan dirimu bermain dengan banyak wanita. Itu yang kamu bilang mencintaiku."
"Aku hanya ...."
"Hanya apa, Ilmi?" potong Kara. "Hanya bersenang-senang untuk mengobati rasa lukamu. Hanya senang-senang karena tidak bisa mendapatkanku. Begitu maksudmu? Itu bukan cinta, Ilmi. Itu hanya keinginanmu yang tidak ingin kalah dari Elno. Aku tau segalanya sejak kalian bersahabat. Kamu iri padanya, dan itulah alasan kamu menghancurkan hidupnya."
Ilmi mengepalkan tangan. "Kamu memang benar!" ucap Ilmi dengan lantang. "Aku yang iri padanya. Dia selalu mengalahkanku dalam segala hal. Pertama dia mendapatkanmu. Selalu mengalahkanku dalam setiap permainan, bahkan dalam urusan pekerjaan dia yang lebih unggul. Kami bersama-sama. Belajar bersama, tetapi selalu saja dia yang beruntung."
"Kamu berhasil, Ilmi. Lalu, apa yang kamu dapatkan dari ini semua? Apa hatimu lega? Apa kamu puas?" sembur Kara.
"Diam!" bentak Ilmi.
"Kamu mungkin menang, tetapi sebenarnya kamu yang kalah di sini. Hatimu tetap mengatakan kalau apa yang kamu dapatkan adalah hasil dari kecuranganmu sendiri!" cerca Kara.
Kara tersandar di dinding saat Ilmi mendorongnya. Lengannya dicengkeram kuat. Sudah jelas saat ini Ilmi tengah berada dalam kemarahan.
__ADS_1
"Aku akan puas jika milik Elno menjadi milikku," ucap Ilmi.
"Kamu tidak akan pernah mendapatkannya!"
Ilmi memeluk Kara, menarik rambut panjangnya hingga kepala Kara mendongak ke atas. Ilmi mengecup bagian jenjang itu, menahan tubuh Kara dengan berat tubuhnya.
"Kita akan lihat apa dia masih setia padamu jika aku menidurimu," kata Ilmi.
"Hanya ini yang bisa kamu lakukan? Perbuatan tidak senonoh ini yang kamu bilang cinta?"
"Kamu pasti sudah pernah mendengarnya. Seseorang akan mendapatkan apa yang ia inginkan dengan cara apa pun," ucap Ilmi kemudian mengecup bibir Kara.
"Jangan lakukan ini, Ilmi!" bentak Kara.
"Mulutmu akan diam setelah merasakannya."
"Kara!" teriak suara dari luar sana.
Ilmi terkesiap mendengar teriakan di luar sana. Pintu dibuka dengan memunculkan Delia, Elno, dan Tedy. Elno langsung menghampiri Ilmi. Menjauhkan Kara dari pria itu.
__ADS_1
"Apa yang ingin kamu lakukan, Ilmi?" Elno mencengkeram kemeja Ilmi.
"Jangan ikut campur urusanku!"
Satu pukulan mendarat di pipi Ilmi. Tidak mau kalah, Ilmi membalas Elno. Keduanya adu kekuatan dengan disaksikan oleh Tedy, Delia dan Kara.
Saat Tedy ingin melerai, Kara menghalanginya. "Biar saja, Ted."
"Kamu baik-baik saja, kan? Saat aku menerima pesanmu, aku menghubungi Tedy," kata Delia.
"Kenapa Elno bisa datang?" tanya Kara.
"Aku memang pergi menemuinya di rumah lama kalian," sahut Tedy.
Kara menatap dua pria yang masih adu jotos. "Apa ini yang kalian inginkan?"
"Pisahkan mereka, Tedy," pinta Delia. "Kita tidak bisa begini. Bicarakan baik-baik."
Tedy maju dengan melerai keduanya. Baik Elno dan Ilmi sama-sama terduduk di lantai. Keadaan hening dengan kepala tertunduk seolah menyadari jika mereka telah berbuat salah.
__ADS_1
Bersambung