The Wife ( Istri Yang Teraniaya )

The Wife ( Istri Yang Teraniaya )
Maaf Tiada Guna


__ADS_3

Elno tertawa atas kejadian yang menimpa dirinya. Sahabatnya sendiri tega menipu. Mengorbankan dirinya, pernikahannya, dan sampai sekarang Elno tidak habis pikir. Berbagai pertanyaan selalu terlintas dalam pikirannya. Apa yang membuat sahabatnya itu sampai tidak punya hati melakukan ini semua.


"Gila!" ucap Elno. "Apa untungnya bagi kalian?"


Ilmi mengusap bibirnya yang terluka. "Aku menginginkan semua yang kamu miliki. Aku benci karena selalu dikalahkan olehmu."


Elno berpaling pada Tedy. Ia sudah mengetahui segalanya saat sahabatnya itu datang menemuinya di rumah lama. Finola yang ia sayangi adalah darah daging Tedy.


"Aku hanya membantu waktu itu. Aku juga merasa bersalah," kata Tedy.


"Demi Sari dan Ilmi, kamu mengorbankan Kara?" ucap Elno.


"Kesalahanku memang tidak bisa dimaafkan. Aku menyesali semua perbuatanku."


"Sekarang kalian puas, kan? Aku sudah berpisah dari Kara. Dia bahkan tidak ingin memaafkanku. Aku sekarang hidup di bawah rasa sesal yang teramat dalam. Kalian senang melihatku begini, kan?" ucap Elno lirih sembari memandang mantan istrinya.


Kara memalingkan wajah ke arah lain. Ia melipat bibir karena ini semua bukanlah kesalahan Elno seorang. Ini salahnya juga yang memberi peluang pada mereka yang ingin menghancurkan hubungannya bersama Elno.


"Kalian tau perjuanganku. Kalian pikir demi siapa aku bekerja keras?" tanya Elno.


Ilmi menundukkan kepala begitu juga Tedy. Siapa yang tidak tahu betapa kerasnya usaha Elno yang ingin menjadi suami impian Kara.


"Kalian juga menghancurkan impian Kara. Kalian tahu kerja kerasnya di negeri orang," ucap Elno.

__ADS_1


"Jangan diteruskan, Elno," sela Tedy.


Tidak sanggup bila mengenang masa lalu. Tidak mudah bagi Elno berada dalam posisinya sekarang. Semua itu bukan didapat dengan mudah, tetapi usaha selama bertahun-tahun.


"Aku minta maaf," ucap Ilmi.


Elno tertawa. "Apa bisa mengembalikan semuanya dari awal? Memang tidak bisa karena aku juga bersalah. Aku yang menjadikan rencana kalian itu berhasil."


"Kamu boleh menghukum kami, Elno," ucap Tedy.


Elno bangun dari duduknya. Ia berjalan gontai menuju pintu depan tanpa menanggapi ucapan Tedy. Menghukum? Apa yang bisa Elno lakukan? Menghabisi Tedy dan Ilmi? Melaporkannya ke pihak berwajib? Jika itu bisa mengembalikan kehidupannya yang dulu, maka Elno akan senantiasa melakukannya.


"Elno," panggil Kara.


"Aku minta maaf," ucap Kara.


Elno menoleh, lalu mengangguk. "Aku juga."


Kara ingin menghentikan Elno, tetapi ia urung melakukan itu. Mungkin ini jalan yang sudah ditentukan untuk mereka. Baiknya menjalani hidup baru tanpa saling mengenal lagi.


"Kara, kamu tidak mencegahnya pergi," ucap Delia yang menyusul.


Kara menggeleng. "Ini lebih baik bagi kami berdua."

__ADS_1


"Kamu yang sabar."


"Terima kasih, Delia. Ayo, kita pulang," kata Kara.


"Tunggu!"


Kara memejamkan mata saat mendengar suara dari pria yang telah melecehkannya. Ia memutar tubuh sepenuhnya menghadap Ilmi serta Tedy.


"Apalagi, Ilmi?"


"Maaf, Kara. Hanya itu yang bisa kupinta darimu," kata Ilmi.


"Jangan lagi menemuiku, Ilmi. Jangan menganggap kalau kita saling mengenal," ucap Kara.


"Aku bersalah."


"Sadari salahmu itu. Suatu saat nanti kamu akan menyesal telah menghancurkan hidup sahabatmu. Kamu akan merasakan kehilangan sahabat terbaikmu," ucap Kara.


Ilmi mengangguk. "Aku akan terima rasa sakit dari penyesalanku itu."


Kara membalik diri, lalu berjalan bersama Delia. Langkahnya tegap dengan semua beban yang telah terlepas. Kara tidak akan lagi mengenal mereka, dan kini saatnya memulai hidup baru.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2