
Tanggal pernikahan memang masih lama, tetapi bukan berarti Kara harus bersantai. Malahan ia sangat sibuk mengurus pekerjaan demi menyiapkan waktu untuk hari besar.
Sementara Elno sudah terbang lagi ke Kalimantan Selatan untuk mengurus rumah yang sudah ia bangun. Terpaksa acara mengukur baju pengantin tertunda dan diganti esok lusa ketika calon suaminya itu pulang.
Kara juga sudah berdamai dengan ibu tirinya. Bagaimanapun ia butuh keluarga untuk mendampingi dan menemaninya dalam mengurus pernikahan meski bayangan pengkhianatan berkelebat di kepalanya.
Sang ibu tiri mengatakan jika ibu Kara sendiri yang mengizinkan dirinya untuk menikah bersama Handoko. Entah benar atau tidak, Kara tidak tahu. Namun, melihat keadaan ayahnya yang baik-baik saja dan terlihat bahagia, sepertinya memang benar.
"Kamu sudah siap? Kita pergi sekarang. Meeting terakhir buat masarin produk kita di mal Jakarta," ucap Delia.
"Bentar, aku hapus make up dulu," kata Kara.
"Yang ada pake make up bukan hapus make up, Non."
"Aku pakai tabir surya sama pelembab bibir saja. Elno bakal marah kalau lihat aku dandan buat bertemu cowok lain," sahut Kara.
"Elno jauh sana di Kalimantan. Enggak mungkin juga dia lihat."
"Mata-matanya banyak," ucap Kara.
Delia mendengkus, lalu memberikan blazer untuk dikenakan Kara. Keduanya keluar bersama dari ruang kerja menuju mobil.
"Ketemuan di mal langsung, nih?" tanya Kara yang sudah masuk mobil.
__ADS_1
Delia memasang sabuk pengamannya. "Iya, kita ketemunya di atas nanti sama bapak Ilmiah Saputro."
Kara mengerutkan kening. "Kayak nama Ilmi."
"Bisa samaan, ya. Jangan bilang kalau ini Ilmi," ucap Delia.
Kara mengangkat bahu. "Kita lihat saja itu Ilmi atau bukan. Sudah lama tidak mendengar kabar dari dia."
"Kalau Ilmi beneran bagaimana?" tanya Delia.
Kara terdiam, ia menghidupkan mesin kemudian mengendarai mobilnya. Kendaraan roda empat melaju menuju mal di daerah Jakarta Selatan. Rencananya Kara akan memasukkan produk kecantikan juga pakaian dengan labelnya sendiri di mal itu.
Sekitar empat puluh menit perjalanan, Kara dan Delia sampai. Langsung saja keduanya menuju lantai paling atas. Mereka juga disambut oleh seorang wanita yang mempersilakan keduanya masuk ke sebuah ruangan.
"Silakan duduk," ucapnya. "Saya panggil bapak Ilmi dulu."
Senyum Kara hilang melihat pria yang baru saja tiba. Sungguh nama yang disebutkan Delia merupakan milik dari salah satu pria yang menghancurkan pernikahannya.
"Kara Putri," ucapnya sembari mengulurkan tangan.
Ilmi menyambutnya. "Ilmi, Nona. Silakan duduk kembali."
Ilmi dan Kara begitu membedakan mana urusan pribadi dan pekerjaan. Delia, bahkan tadi sempat takut jika Kara berteriak atau marah melihat Ilmi. Namun, Kara sungguh bertindak profesional.
__ADS_1
"Tinggal menunggu kabar saja kapan kami bisa memasukkan produk kami di sini," ucap Kara.
"Secepatnya akan saya beri kabar," sahut Ilmi.
"Oke. Kalau begitu, kami undur diri." Kara beranjak dari duduknya begitu pula Delia.
"Tunggu, Kara," ucap Ilmi.
"Kamu bicara sebagai apa?" tanya Kara.
Ilmi bangkit dari duduknya. "Sebagai orang yang mengenalmu. Aku minta maaf. Aku dengar dari Tedy jika kamu akan menikah bersama Elno. Aku turut senang mendengarnya."
"Terima kasih, Ilmi," ucap Kara.
"Kamu masih tidak memaafkanku?"
Kara menatapnya, lalu tersenyum. "Aku sudah memaafkanmu."
"Aku tidak ingin kita menjadi musuh."
"Aku sudah memaafkanmu, Ilmi. Sungguh, tetapi akan sulit untukku menerima pertemanan seperti dulu, dan aku rasa bukan kepadaku. Permintaan maafmu salah tujuan. Ada pria yang lebih terluka karena pengkhianatanmu," tutur Kara.
Ilmi tersenyum. "Aku mengerti."
__ADS_1
Kara dan Delia keluar ruangan. Ilmi cuma bisa menatap wanita yang ia cintai. Sudah lima tahun mereka tidak bertemu, dan sampai sekarang ia belum menikah. Ilmi hidup dalam rasa bersalah serta penyesalan.
Bersambung