The Wife ( Istri Yang Teraniaya )

The Wife ( Istri Yang Teraniaya )
Halal


__ADS_3

"Bagaimana, Saksi?" ucap Pak penghulu.


"Sah!"


"Sah!" diteruskan oleh tamu undangan yang hadir di rumah mempelai wanita.


Kara tersenyum, begitu juga Elno. Akhirnya, keduanya resmi menjadi sepasang suami istri. Perjalanan yang cukup panjang untuk sampai di tahap ini. Berpisah selama lima tahun. Namun, di antara keduanya sama sekali tidak bisa melupakan cinta pertama. Sempat diterpa badai, meluluhlantakkan cinta Kara, tetapi Elno berhasil kembali mendapatkan miliknya.


Cincin nikah tersemat indah di jari manis Kara. Ia mengecup punggung tangan pria yang kini telah menjadi suaminya dan Elno mengecup kening sang istri tercinta.


Keduanya sudah sama-sama mapan, dewasa, matang dalam membina rumah tangga. Berharap dengan pernikahan kedua ini semua berjalan indah. Sempurna, saling melengkapi kekurangan masing-masing.


Kara dan Elno saling meminta restu kepada orang tua. Pernikahan yang diizinkan oleh kedua keluarga mempelai, didoakan orang-orang terdekat. Sungguh tidak dapat dilukiskan kebahagian yang kini mereka dapatkan.


"Istriku," bisik Elno.


"Ya, Suamiku," jawab Kara.


Elno tersenyum. Ia menyenggol bahu Kara yang malah membuat mempelai wanita tersipu malu.


"Belum malam," celetuk Delia.


Kara langsung menjauh dari suaminya. Elno mendengkus karena teguran itu, sedangkan Delia terkikik geli melihat tingkah keduanya. Seperti sepasang pria dan wanita yang baru pertama kali menikah saja. Ya, memang benar. Pernikahan pertama tidak sama seperti yang kedua.


"Selamat, ya, Kara. Semoga pernikahan kalian damai, tentram dan penuh cinta kasih," ucap Delia dengan memberi kecupan pipi kiri dan kanan kemudian memeluk sahabatnya itu.

__ADS_1


"Terima kasih, Delia," balas Kara.


Delia beralih pada Elno. "Selamat, Elno."


"Makasih."


"Semoga lekas diberi momongan," ucap Delia menambahkan.


"Amin," sahut Elno seraya melirik Kara yang berdiri di sampingnya, "semoga cepat jadi."


"Yang banyak. Tiga atau empat sekalian," seloroh Delia.


"Kalau itu harus persetujuan Kara. Aku siap membuat sebanyak apa pun."


"Kamu dengar, Kara? Elno mau banyak anak," kata Delia. "Enam orang bila perlu."


"Semoga," ucap Elno.


Acara dilanjutkan lagi di hotel bintang lima. Ballroom hotel Paradise yang telah dihias dengan nuansa putih dan silver. Menjadikan dekorasi itu begitu mewah.


Kara sudah mengenakan gaun pengantin dengan bawahannya yang mengembang, seperti seorang tuan putri dari negeri dongeng. Sementara Elno memakai tuxedo berwarna putih gading.


Senyum terus terbit di bibir keduanya. Berterima kasih kepada tamu yang telah datang memenuhi undangan. Berfoto bersama mereka yang turut bahagia.


"Selamat untuk kalian berdua," ucap Tedy yang datang bersama istri dan Finola.

__ADS_1


"Terima kasih, Tedy," balas Elno.


"Selamat Papa, Tante Kara," ucap Finola yang kini tinggal bersama Tedy. Sang ibu masih berada di dalam penjara untuk beberapa bulan ke depan.


"Terima kasih, Sayang," kata Kara dengan mengecup pipi gadis itu.


"Buatin Finola adik."


Elno tertawa. "Iya, Papa pasti buatin adik yang banyak untuk Finola."


Hanya Ilmi yang tidak datang karena Elno dan Kara sepakat tidak mengundangnya. Memang keduanya sudah memaafkan kesalahan Ilmi maupun Tedy, tetapi keduanya ingin menjaga jarak.


"Undangannya sampai pukul berapa?" tanya Elno yang sudah lelah berdiri.


"Sembilan malam," jawab Kara.


"Masih ada setengah jam lagi."


"Kenapa?" tanya Kara.


"Aku mau minum jamu," bisik Elno.


Kara tercengang, sedetik kemudian ia mengatupkan bibirnya. "Buat apa minum jamu?"


"Buat stamina nanti malam, dong." Elno menaikturunkan alisnya."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2