The Wife ( Istri Yang Teraniaya )

The Wife ( Istri Yang Teraniaya )
Persiapan


__ADS_3

Kara menatap lekat Delia yang saat ini tengah salah tingkah karena ketahuan telah bekerja sama dengan Elno.


"Jadi, kamu memberitahu semuanya pada Elno?" tanya Kara.


"Tidak semua. Aku hanya memberitahu kabarmu saja," jawab Delia. "Terus, apa yang terjadi di antara kalian semalam?"


Kara mengembuskan napas panjang kemudian mengenyakkan diri di sofa. "Dia mengatakan segalanya. Aku tidak mendengar kata rujuk, tetapi Elno cuma bilang dia masih mengharapkanku."


"Kamu juga masih mencintainya, kan?"


"Mengingat apa yang ia lakukan rasanya ragu untuk memulai kembali," ucap Kara.


Masih terngiang kebersamaan Elno dan Sari juga kekerasan yang ia alami. Rasanya sangat jelas meski sudah lima tahun berlalu.


"Seorang suami akan marah jika istrinya jalan bersama pria lain. Dia menamparmu bukan tanpa alasan, Kara. Aku tidak bermaksud membenarkan perbuatan Elno, tetapi di sini kamu juga salah," ucap Delia.


"Aku tau itu, Delia. Aku memaklumi kejadian itu karena aku pergi bersama Tedy. Wajar Elno marah dan menanyakan kesucian istrinya. Yang membuat hatiku sakit adalah kebersamaan mereka. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri," tutur Kara.


"Memang sakit, Kara. Meski aku belum merasakannya, dan berharap tidak pernah kejadian itu menimpa diriku. Tapi Elno melakukannya sebagai seorang suami."


"Itulah dalih Elno. Dia melakukannya atas dasar kewajiban sebagai seorang suami."

__ADS_1


"Dia sudah merasakan penyesalan, Kara. Mau bagaimana lagi dia harus menembus kesalahannya itu? Minta saja dia berlutut padamu, tetapi itu tidak akan mengubah apa yang terjadi. Kamu menolaknya, tetapi kamu sendiri yang akan menderita," komentar Delia.


"Aku tidak menolaknya. Dia juga tidak mengatakan apa pun," ujar Kara.


"Kalau kamu masih ada rasa, coba saja untuk dekat kembali. Kalau kamu merasa tidak cocok, ya, kalian tidak harus bersama. Mungkin kalian berdua bisa berteman dulu," saran Delia.


Kara mengangguk. "Benar sekali. Aku bisa mencoba menjadi teman untuknya."


Asik mengobrol, ponsel Kara berbunyi. Ia menempelkan jari telunjuknya ke bibir agar Delia diam dan memberi isyarat mulut pada sahabatnya jika Elno yang tengah menelepon. Kara menggeser logo gagang telepon warna hijau, lalu mendekatkan gawai ke telinga.


"Ya, Elno," jawab Kara.


Kara melihat Delia. Sahabatnya itu menganggukkan kepala tanpa tahu apa yang Elno bicarakan.


"Boleh, mau ketemuan di mana?" tanyanya.


"Aku jemput kamu."


Lagi-lagi Kara melihat Delia dan wanita itu mengangguk. "Oke, aku akan kirim alamat kantorku."


"Tunggu aku, ya. Aku langsung berangkat."

__ADS_1


Kara mengiakan sebelum memutus teleponnya. "Dia mengajakku makan siang."


"Setuju saja," sahut Delia.


"Aku perlu make up. Di mana tasku?" Kara bangkit dari duduknya. "Bajuku gimana? Bagus, enggak?"


"Bagus. Cocok buat jalan ke mal," sahut Delia sembari menyerahkan tas.


Langsung saja Kara menyambar tas tangan miliknya kemudian mengeluarkan bedak, lip tint serta parfum. Bedak ditempel di wajah. Bibir dipoles liptint supaya terlihat lebih muda. Parfum disemprotkan di leher serta pergelangan tangan.


"Persiapanmu kayak anak gadis mau pacaran," celetuk Delia.


"Ish, apa, sih?" sanggah Kara.


Delia tertawa. "Tuh, gigi, ada daun kucai yang tinggal."


"Beneran?" Kara melihat giginya di cermin dan ternyata daun itu terselip di antara giginya yang putih. "Gara-gara makan bakwan, nih. Ada permen wangi enggak. Nanti bau gorengan lagi, nih, mulut."


"Minta sama anak-anak di bawah. Mereka banyak bawa permen. Cola juga ada. Biar mulutmu wangi," kata Delia.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2