
Sekuat apa pun Kara mencoba mengesahkan hubungan Elno dan Sari, tetap saja hatinya merasa sakit. Bayangkan di malam sebelumnya Elno bersama dirinya dan malam selanjutnya bersama wanita lain. Lebih sakitnya Elno diam-diam menyelinap ke kamar Sari saat ia tertidur.
Ini seperti Elno tengah menjambangi selingkuhannya, dan Kara merasa tidak terima sebab ia telah menerima Elno. Ia telah mengizinkan suaminya menyentuh dirinya. Jika Elno menginginkan kehangatan, Kara bisa memberinya. Se-liar apa pun gerakan Sari, ia yakin bisa menyainginya. Prasangka buruk mulai hadir. Benarkah Elno tidak bisa melepas Sari karena pelayanannya? Lalu, bagaimana posisi Kara di hadapan pria itu? Janji yang diucapkan Elno beberapa jam lalu. Pertanyaan itu yang terus bergelayut dalam pikiran Kara.
Air mata sayangnya turun tanpa Kara kehendaki. Sesak dan ia kesulitan untuk bernapas. Luka yang tidak tampak, tetapi bisa Kara rasakan perihnya.
"Kara, bukan pintunya," seru Elno. "Aku bisa jelasin ke kamu."
Kara tersenyum getir. Menjelaskan apa maksud Elno. Kara tidak pantas marah karena Sari berhak mendapat apa yang diberikan Elno. Cuma hati Kara yang masih belum siap.
"Sayang, aku minta maaf," ucap Elno dari luar sana.
Kara berjalan masuk ke kamar mandi. Menghidupkan keran air dingin, lalu membasuh tubuhnya. Air dingin bisa mendinginkan suasana hati yang panas.
"Jangan bayangkan. Jangan diingat. Biarkan saja," ucap Kara pada diri sendiri.
Berkali-kali Kara mengucapkan kata-kata itu guna menguatkan diri. Kara bersandar di dinding yang basah dengan air yang mengalir ke tubuhnya. Cukup lama hingga telapak tangannya berkerut. Kara mematikan keran shower, lalu melihat rupanya di cermin.
"Tidak apa-apa. Aku bisa menahannya," ucapnya.
Kara bersalin pakaian dengan mengenakan handuk kimono. Ia keluar kemudian merebahkan diri di atas tempat tidur. Tidak ada lagi ketukan di pintu dan suara dari Elno. Mungkin lelah karena diabaikan. Kara memejamkan mata. Tubuh yang dingin membuat rasa kantuk itu datang. Berharap ketika ia membuka mata nantinya, hal yang ia lihat tidak pernah terjadi.
...****************...
Kara terbangun ketika mendengar kembali ketukan di pintu. Namun, bukan suara Elno yang ia dengar, melainkan seorang wanita dan yang pasti bukan Sari.
"Nyonya, ini saya, Bibi."
__ADS_1
Kara bangun dari tidurnya kemudian turun dari tempat tidur. Bibi yang bersih-bersih rumah datang dan hendak membersihkan kamar.
Pintu dibuka dan saat itu Kara ingin menutupnya. Elno rupanya berada di depan dan sengaja menyuruh asisten rumah tangga mereka untuk mengetuk kamar.
Elno menahan pintu agar tidak tertutup. "Kamu tidak bisa seperti ini. Aku bisa jelasin."
Kara termundur ke belakang saat Elno mengerahkan tenaga mendorong pintu. Ia masuk, lalu menutup pintu dan menguncinya.
"Tidak perlu dijelaskan. Aku mengerti," ucap Kara.
"Aku salah karena ingkar padamu. Tapi, aku juga ingkar pada Sari. Seharusnya malam tadi aku bersamanya. Aku hanya menjalankan tugas, Kara. Aku akan berdosa jika tidak memberinya hal itu," ungkap Elno.
Dosa? Lalu, apa yang di lakukan Elno dan Sari dulu. Mereka mabuk hingga menimbulkan sebuah kesalahan dan korbannya adalah Kara.
"Dengan menyelinap ke kamar Sari dengan diam-diam? Lalu, untuk apa kamu berjanji padaku tadi malam?" ucap Kara.
"Sayang, awalnya aku hanya ingin minum. Sari menangis di kamar dan ia merasa diperlakukan tidak adil. Aku hanya menjalankannya saja."
Elno tersentak mendengarnya. "Aku sama sekali tidak pernah berpikir begitu. Kamu ingat, Kara. Aku yang selalu merindukanmu. Mencintaimu. Kita telah berjuang bersama sejak dulu. Kamu tau pengorbananku."
"Itu dulu, El. Sekarang tidak lagi. Aku tidak lagi mengenalmu. Tidak ada lagi Elno yang selalu menomorsatukan Kara. Hanya ada Elno yang memikirkan perasaan istri keduanya."
"Aku hanya bersikap sama!" ucap Elno kesal.
"Tidak ada di dalam pernikahan sikap adil!" tantang Kara.
"Aku lelah denganmu," ucap Elno. Kemudian membuka pintu, lalu keluar.
__ADS_1
Kara terduduk di tempat tidurnya. Satu kata dari Elno telah menyatakan jika suaminya telah muak akan sikap yang ia tunjukkan.
"Lelah?" Kara tertawa getir. "Aku akan menunggu tindakanmu, Elno."
...****************...
Siang hari, Kara berkunjung ke restoran tempat Delia bekerja. Ia butuh seorang teman untuk bercerita. Melepaskan sedikit sesak yang berkecamuk dalam hatinya.
"Menurutmu aku harus bagaimana?" tanya Kara.
"Jujur aku tidak terima Sari itu dapat hal segalanya. Elno sudah sukses dan dia tinggal nebeng saja. Nah kamu, pergi merantau dapat apa kecuali rasa sakit?" kata Delia.
"Elno tidak bisa memilih. Dia mencintai Sari. Apalagi ada Finola di antara mereka. Terlebih tadi pagi Elno mengatakan sudah lelah bersamaku. Mungkin saja sebentar lagi aku didepak dari hidupnya."
"Nih, ya, menurut ceritamu. Di saat bersama Sari, dia bertindak suami. Elno memberi nafkah kepada istrinya. Nah, saat bersamamu dia bertindak sebagai pria. Dia beranggapan kamu itu kekasihnya."
"Masa aku jadi selingkuhannya," protes Kara.
"Maksudnya itu." Delia tampak berpikir untuk mengatakan kata yang pas bagi kondisi Kara. "Kalian seperti pasangan mencintai. Dia bicara padamu seolah kalian berdua pasangan sejati. Perlakuannya beda," kata Delia.
"Yang jelas Elno mencintai Sari. Itu sudah pasti dan dia sendiri yang mengakuinya," ucap Kara.
"Nih, ya, Kara. Aku kasih saran. Jangan ungkit dan membahas soal Elno yang beristri dua. Jangan pernah meladeni Sari meski itu memancing emosi. Pokoknya jangan jadi wanita jahat. Jika terus membahas masalah itu, Elno sendiri yang akan muak padamu. Dia pasti lelah menjelaskan duduk persoalan kenapa bisa menikahi Sari. Kamu bawa santai saja" tutur Delia. "Jika kamu tidak tahan dan sudah diambang batas, maka pergi saja. Mending kamu nikmati hidup, deh."
Kara menghela napas panjang. "Mungkin ada benarnya. Terima kasih sudah mendengarkan curhatanku."
"Kamu memang perlu teman untuk cerita. Jangan sampai kamu stress. Kamu sakit, Sari bakal senang," ucap Delia, lalu tertawa.
__ADS_1
Kara cuma bisa tersenyum. Sakit hatinya sedikit berkurang setelah bercerita. Saran Delia ada benarnya. Lebih baik Kara menikmati hidupnya.
Bersambung