
Kara dan Elno tiba di tanah air setelah bulan madu selama dua minggu di Italia. Senyum kebahagian tentu saja terus terbit di bibir keduanya. Hari-hari pernikahan mereka pun terasa begitu menyenangkan. Hubungan antara mertua dan orang tua juga membaik. Bagaimanapun mereka adalah orang tua, yang mana doa-nya adalah berkat.
Bulan madu usai, pekerjaan menumpuk menunggu dan lebih beratnya Kara yang harus pandai mengatur waktu sebagai istri dan owner dari Kares beauty.
"Jangan terlalu banyak kerja, Sayang. Aku enggak mau kamu sakit. Biar saja bibi yang masak buat kita makan," kata Elno.
"Istrimu itu aku. Sedapatnya aku selalu ada untuk kamu," ucap Kara.
"Jangan terlalu dipaksakan. Pagi, kamu sibuk buat sarapan, terus ke kantor. Sore masak lagi, lalu malam tugas dinas lagi." Elno menutup bibir ketika mengucapkannya. Ia menahan tawa untuk kata yang terakhir itu.
"Itu memang kemauanmu. Tiada hari tanpa tugas. Kalau enggak dapat malam, ya, pagi kamu nyodok," ucap Kara secara gamblang.
"Supaya cepat jadi, Sayang."
"Kurangi kegiatanmu itu. Pokoknya seminggu tiga kali," kata Kara.
"Namanya juga pengantin baru," sahut Elno.
"Enggak ada yang namanya pengantin baru. Kita sudah lama jadi pasangan suami istri."
"Kan, sempat puasa. Lima tahun, tuh, lama kayak lima abad," kata Elno.
__ADS_1
"Hidupmu saja belum satu abab."
Elno mencebik, Kara malah tertawa karena berhasil mematahkan gombalan Elno. Rumah yang besar ini hanya ditinggali oleh mereka berdua, dua orang pelayan, dan satu penjaga. Kara berharap dalam rumahnya akan hadir tawa dari seorang bayi.
Satu bulan pernikahan dengan romansa indah antara Kara dan Elno. Namun, tidak ada tanda-tanda jika Kara akan hamil. Dulu saja rasanya begitu mudah untuk mengandung. Sekarang malah Kara kecewa saat mendapati dirinya tengah kedatangan tamu bulanan.
"Apa karena aku sudah tua, makanya tidak bisa hamil?" tanya Kara.
"Kamu masih muda, Sayang. Jangan terlalu dipikirkan soal anak," ucap Elno.
"Aku ingin bayi, Sayang."
"Aku takut kamu selingkuh."
Elno tersentak mendengarnya. Memang masa lalu itu tidak akan pernah pergi begitu saja. Kenangan buruk terus menghantui tanpa diminta.
"Bagaimana caranya agar kamu percaya kalau aku itu setia?" tanya Elno.
"Enggak tahu," jawab Kara.
"Kan, kita sudah buat perjanjian pra nikah. Harta aku ini buat kamu semua jika kita berpisah. Aku juga enggak boleh nikah lagi. Terus apa yang kurang?" tanya Elno.
__ADS_1
"Kan, aku hanya takut."
Elno menarik tangan Kara agar duduk di pangkuannya, tetapi sang istri menolak karena ia berada dalam fase tidak ingin disentuh.
"Aku bakal miskin kalau berberkhianat. Jangan pikirkan masalah momongan. Baru satu bulan. Masih ada bulan-bulan berikutnya," ucap Elno.
"Aku mau ke dokter. Kita program bayi kembar, bagaimana?"
"Boleh juga. Aku atur waktu kerja dulu terus kita buat janji sama dokter-nya," kata Elno.
"Kamu mau bayi perempuan atau laki-laki?"
"Laki-laki, sih. Elno junior," kata Elno. "Kalau perempuan juga aku mau. Yang pentig bayinya sehat dan ibunya juga."
"Jadi enggak sabar, Sayang," ucap Kara.
"Sabar, nanti ada saatnya kita juga memiliki buah hati."
Kara sudah pernah mengandung dan Elno terbukti bisa membuat istrinya hamil. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya masalah waktu saja kapan Sang Pencipta memberi hadiahnya kepada sepasang pengantin baru itu.
Bersambung
__ADS_1