The Wife ( Istri Yang Teraniaya )

The Wife ( Istri Yang Teraniaya )
Peringatan


__ADS_3

Jantung Elno dan Kara berdetak kencang. Bagaimana tidak? Mereka menyaksikan sebuah mobil yang langsung saja menabrak seorang pengendara motor.


Perjalanan menjadi macet, Kara yang kesal pada Elno meminta pindah tempat. Ia tidak mau kejadian tabrakan tadi menimpa dirinya. Sungguh Kara meminta untuk dijauhkan dari segala mahabahaya.


"Kamu lihat tadi. Itu akibatnya berkendara tidak hati-hati. Hampir saja, Elno!" pekik Kara.


"Posisi mereka jauh dari kita," bantah Elno.


"Tetap saja kita menyaksikannya. Untung saja ini mobil enggak loncat waktu aku menginjak rem secara mendadak."


"Mobil enggak bisa meloncat, Sayang."


"Kamu, tuh, ya. Dibilangin masih engggak dengar. Gara-gara kamu kita jadi telat sampai di rumah."


"Iya, maaf," ucap Elno.


Kara mendengkus, melipat tangan di perut dan menoleh ke arah lain. Elno hanya tersenyum karena berhasil menjahili Kara dan wajah cemberut kekasihnya semakin membuatnya jatuh cinta.


Sesampainya di rumah, Elno meminta bayaran karena sudah dua hari tidak bertemu. Kara kewalahan mengimbangi permainan kekasihnya. Elno terlalu rakus dan jika diizinkan mungkin saat ini Kara sudah tepar dibuatnya.


"Bibirku bisa bengkak," ucap Kara.

__ADS_1


"Sebentar, Sayang. Masih kangen."


"Kita harus foto untuk preweeding," kata Kara mengalihkan perhatian.


Elno tiduran di pangkuan kekasihnya dan Kara membelai rambutnya. "Kapan?"


"Masa kamu enggak ingat, sih?" Kara mencubit hidungnya.


Elno meraih tangan itu, lalu mengecupnya. "Aku ingatnya cuma kamu."


Kara tidak menjawab, ia mengusap rambut Elno sampai pria itu memejamkan matanya. Perlahan Kara bergeser, mengganti pangkuannya dengan bantal yang lebih nyaman.


"Aku mencintaimu," ucap Kara dengan mendaratkan kecupan di kening.


Keduanya juga sempat bertengkar bila tidak ada kecocokkan dalam selera. Namun, itu semua bisa diatasi dengan salah satu dari mereka yang mengalah. Kadang Kara yang mengikuti keinginan Elno begitu pula sebaliknya.


Elno memeluk Kara erat meski sang fotografer sudah membubarkan pose seperti itu. Tingkah manjanya semakin menjadi-jadi seakan di dalam studio hanya ada mereka berdua, dan yang lain cuma makhluk tak kasat mata.


"Lepas dulu, dong, Elno," bisik Kara.


"Kamu kenapa, sih? Aku peluk selalu enggak mau."

__ADS_1


Cubitan yang Elno rasakan di lengan tangannya. "Aku mau ganti baju. Masih ada sesi foto untuk baju kebaya."


"Aku ingin segera selesai," ucap Elno


"Kamu harus serius. Aku juga mau cepat kelar."


"Seharusnya kita nikah dulu baru resepsi. Jadi, kalau aku ingin kamu, langsung tancep saja."


"Pikiranmu enggak jauh dari hal begituan," sahut Kara kesal.


Elno menyengir. "Awas saja kamu. Pokoknya siap-siap buat malam pertama."


Kara tersentak. "Kamu mau apa?"


"Tenang saja, Sayang. Aku bakal beli pelumas untuk kamu. Aku juga lagi latihan pinggul buat acara malam kita."


Kara langsung lari ke kamar ganti demi menghindar dari ucapan yang membuat wajahnya merona malu. Tidak habis pikir dengan ucapan Elno yang akan menyiapkan pelumas untuknya.


"Apa dia ingin melakukan hal itu tanpa henti?" gumam Kara. "Kita lihat saja apa dia mampu."


Penata busana yang mendengar ucapan Kara hanya bisa tersenyum. Memang sepasang kekasih yang tengah kasmaran begitu menggemaskan. Tidak ada obat untuk menghentikan senyum dan rona bahagia di raut wajah mereka.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2