The Wife ( Istri Yang Teraniaya )

The Wife ( Istri Yang Teraniaya )
Nafkah


__ADS_3

Sehabis makan malam, Elno mengajari Kara mengendarai mobil. Keduanya mencoba bersama mobil baru yang diantar tadi siang.


"Kemarin aku belajar mengendarai mobil sama Tedy," celetuk Kara.


"Jadi, kamu dan dia bukan sengaja kebetulan bertemu?"


Kara mengangguk. "Begitulah. Aku tidak sengaja menemukan Tedy lewat media fesbuk."


Elno tersenyum sinis sembari mengendarai mobil. "Sejak kapan istriku pandai berbohong?"


"Sejak suami yang kucintai telah membohongiku. Aku baru sehari membohonginya, tetapi suamiku itu sudah dua tahun. Oh, ya, apa aku harus selingkuh dan menikah lagi? Kurasa itu ide bagus."


"Cukup!" bentak Elno.


Mobil menepi di pinggir jalan. Elno melepas sabuknya. Mencengkeram tangan Kara dan menatapnya tajam.


"Kamu pikir ini lelucon?" ucap Elno.


"Lepasin!" Kara menepis tangan Elno. "Pergelangan tanganku sakit."


"Kamu itu enggak tau rasanya bersalah, Kara. Setiap malam yang kuhabiskan bersama Sari itu merupakan kesalahan. Ada penyesalan di hatiku. Aku mencintaimu dan di sisi lain, aku juga harus mencintai wanita lain. Kamu dan dia ada dihidupku," ucap Elno.


Kara terdiam. Apa pun yang disangkalnya juga percuma. Kesalahan satu malam itu yang membuat masalah dalam rumah tangga mereka.


Elno kembali mengemudikan mobilnya ke rumah. Sesampainya di sana, Kara keluar lebih dulu, sedangkan Elno sibuk mengatur mobil. Taman rumah terpaksa dijadikan tempat parkir mobil sebab garasi sudah tidak muat.


"Pulang juga akhirnya," tegur Sari.


Kara menaikkan alis melihat Sari memakai baju dinas malam. Gaun warna maroon yang dilapisi renda hitam. Begitu menggoda ketika lapisan itu dilepas.


Kara berdeham saja dan berjalan menuju dapur. Ia perlu air dingin untuk menenangkan hati yang kembali teriris. Kara sendiri tidak tahu kapan ia akan terbiasa dengan situasi seperti ini.


Ketika ia keluar dari ruang dapur, Sari dan Elno masuk kamar. Malam ini giliran Sari dan selama tiga hari ke depan, Elno akan bersamanya.


Kara malah duduk di sofa dekat kamar keduanya. Sudah tahu sakit, tetapi Kara masih ingin mendengar suasana kamar yang panas itu. Terlebih malam tadi ia dan Elno melakukannya. Pastinya malam ini giliran Sari.


Sebenarnya Kara tidak mengerti terhadap istri yang bernasib sama seperti dirinya. Ada beberapa dari mereka yang tahan dalam pernikahan seperti ini. Apa mereka tidak sakit hati meski tidak melihat langsung kemesraan itu? Mungkin saja berbeda. Mungkin mereka telah mengizinkan dan ikhlas. Kara ingin seperti itu, tetapi kemarahan malah membuncah di lubuk hatinya.


Kara memejamkan mata saat mendengar tawa dari kamar. Mungkin saja Elno baru memulai pemanasan. Kara melihat kamar Finola yang berada di depannya. Anak kecil itu tengah tidur bersama pengasuhnya.

__ADS_1


Kara bangkit dari duduknya. Ia berjalan pelan dan berhenti di depan pintu kamar Elno dan Sari. Lagi-lagi tawa yang terdengar. Kara mendekat lagi untuk dapat mendengar jelas suara di dalam.


"Sebaiknya aku tidak berada di sini," ucap Kara.


Ia berjalan ke arah lemari pajangan. Kara mengambil kunci mobil yang Elno simpan di dalam laci. Kemudian membuka pintu, lalu keluar dari rumah.


"Baiknya tidur di hotel," ucap Kara.


Ragu-ragu saat ia menatap mobil. Kara pergi membuka pagar, lalu masuk ke dalam mobil barunya. Kara menarik napas, lalu menghidupkan mesin. Ia menyakinkan diri untuk bisa membawa kendaraan itu.


Mobil berjalan keluar dan saat itu Elno keluar dari rumah. "Kara!" teriaknya. "Sial! Mau ke mana dia?"


Elno masuk mengambil kunci mobil kemudian ikut menyusul istrinya. Giliran Sari yang berteriak memanggil suaminya. Mungkin tetangga di depan mendengar suaranya. Untung saja mereka tinggal di perumahan dengan pagar yang melindungi.


Mobil yang dikendarai Kara sudah keluar gerbang perumahan. Disusul Elno yang telah berada di sampingnya. Elno membuka kaca mobilnya.


"Berhenti Kara!" seru Elno.


Kara gugup ketika mobil Elno mendempetnya. Jantungnya berdegup kencang karena takut. Kara menginjak rem mendadak dan hampir saja kepalanya terbentur setir kemudi. Untungnya sabuk pengaman menyelamatkannya.


Elno segera turun dan menghampiri istrinya. Kara juga turut keluar dengan tubuh gemetar. Ia gugup karena Elno yang berteriak dan mobil mereka berdekatan. Langsung saja Elno memeluk Kara. Tubuh istrinya dingin dengan wajah yang pucat.


"Kenapa berteriak? Aku takut," kata Kara.


"Aku yang takut. Kamu mau ke mana malam begini? Kamu belum pandai mengendarai mobil."


"Aku mau ke hotel," ucap Kara. "Aku enggak mau dengar kamu tidur dengannya. Aku enggak mau," isaknya.


Elno menggeleng. "Aku tidak menidurinya."


"Kamu bohong, Elno. Kamu pembohong!"


"Aku janji, Sayang," ucap Elno.


"Malam ini bersamaku," pinta Kara.


Elno mengangguk. "Ya, malam ini aku akan bersamamu. Sekarang biar aku antar kamu pulang dulu."


"Mobilnya?" tanya Kara.

__ADS_1


"Tinggal dulu di sini. Aku akan bawa nanti."


Elno mengantar Kara lebih dulu, lalu kembali lagi mengambil mobil dengan di antar ojek online. Malam yang melelahkan dan kali ini entah apalagi yang harus ia hadapi.


Baru sampai di rumah sudah dihadapkan dengan dua istri. Kara dan Sari duduk di sofa menunggunya. Sesuai janji, Elno harus bermalam bersama Kara. Tapi Sari juga menagih janji itu. Tidak mungkin Elno menyatukan mereka di satu tempat tidur yang sama.


"Ayo, El. Kita tidur," ucap Kara.


"Malam ini giliranku," sela Sari.


"Malam ini aku bersama Kara dulu. Dia masih takut tadi," ucap Elno.


"Elno! Kamu ingkar lagi," ucap Sari lirih.


"Besok aku akan bersamamu. Malam ini Kara lebih membutuhkan diriku."


Elno berjalan melewati diri Sari. Ia meraih lengan Kara dan keduanya berjalan bersama menaiki anak tangga. Sari terisak, ia merasa tidak adil sama sekali.


...****************...


Kara terbangun ketika merasakan ingin ke toilet. Ia melihat sisi samping, tetapi Elno tidak berada di tempat tidur. Kara melihat jam beker di atas nakas. Pukul dua dininhari dan Elno menghilang.


Urusan bawah harus didahulukan. Kara masuk kamar mandi untuk meluruskan urusannya. Setelah itu ia keluar kamar tanpa alas kaki. Kara menuruni anak tangga secara perlahan dan berhenti di depan kamar tidur Sari.


Kara meneguk ludah, ia mendekatkan telinga mendengar sesuatu di sana. Elno sudah berjanji padanya, tetapi rasa penasaran itu menghantui.


Perlahan Kara menekan gagang pintu yang malah tidak terkunci. Kara membuka dan masuk begitu saja.


Sari berteriak dan lekas menutupi tubuhnya dengan selimut. Sementara Elno lekas memungut pakaiannya.


"Kara!" tegur Sari.


"Maaf, tidak sengaja. Lanjutkan saja," ucap Kara, lalu keluar dengan menutup pintu.


Bergegas Kara menaiki anak tangga menuju kamar. Ia masuk, lalu menutup pintu dan menguncinya. Tidak membutuhkan waktu lama Elno datang menyusul dan menggedor kamarnya.


"Dia istrinya, Kara. Suamimu tidak berselingkuh. Dia hanya memberi nafkah kepada istrinya yang lain," gumam Kara.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2