
Keheningan menjadi suasana yang lebih sering menemani dalam hubungan Kara dan suami. Seperti saat ini. Keduanya membisu dengan pikiran masing-masing. Kara berbaring membelakangi Elno yang masih setia duduk di sisi tempat tidur.
Elno menghela napas. "Sayang," tegurnya.
Kara tidak menjawab. Ia memejamkan mata berpura-pura tidur. Kara merasakan tempat tidur berguncang dan embusan napas mendekat.
"Sayang," bisik Elno.
Kara masing enggan untuk membuka mata. Ia merasakan pelukan dari tubuh suaminya, lalu resleting gaun yang perlahan diturunkan. Sesuatu yang lembut dan basah menyentuh punggungnya.
"Jangan menolakku, Sayang. Aku menginginkanmu," ucap Elno.
"Lakukan saja," kata Kara mengizinkan.
Elno tersenyum mendapat lampu hijau dari istrinya. Ia mengecup tengkuk Kara, lalu membuat sang istri pindah posisi menghadapnya.
"Aku merindukanmu," ucap Elno.
Kara tidak menjawab, tetapi ia membiarkan Elno mengecup bibirnya. Tangan Kara pun bermain dengan membuka pakaian yang dikenakan suaminya. Ini yang selalu Elno suka. Kara selalu agresif.
"Kamu merindukannya juga, kan?" bisik Elno.
Kara mengangguk saja, lalu melanjutkan apa yang tangannya inginkan. Ia bahkan sudah berada di atas Elno agar suaminya bisa melucuti pakaian yang ia kenakan.
"Semakin bertambah cantik saja," ucap Elno ketika memandang tubuh polos istinya.
Kara mengecup jakun Elno. Turun ke bawah dengan sapuan jari-jemari lentiknya. Memelintir dua kelembutan berwarna kecokelatan milik suaminya.
Tubuh Elno meremang. Hasratnya semakin bangkit atas sapuan tangan lembut Kara. Terlebih jemari itu menekan di bawah sana. Elno mendekap, menyatukan bibir mereka kemudian bertukar posisi.
Ia membuka bagian terakhir dari pakaian yang dikenakan. Ketegangan itu telah tegak dan siap untuk masuk ke tempatnya. Namun sebelum itu, Elno ingin memberi kepuasan lain pada istrinya.
Suara Kara berat ketika Elno menangkup dua sisi kelembutannya. Hangat saat tubuh mereka bersentuhan. Jelas sekali perbedaan dari Elno sepuluh tahun lalu dan sekarang. Tubuh kurus Elno kini bidang dengan otot kekar di lengan dan perutnya.
Kara mengangkat tubuh sedikit ketika sang suami berhasil menyesap ujung kemerahan dari sisi lembutnya. Bergantian dengan perasa yang memutar-mutar di sekelilingnya. Menggelitik hingga roma berdiri menegang. Di bawah sana telah berkedut meminta untuk disentuh. Basah dengan rasa menyiksa.
__ADS_1
Kecupan turun ke bawah. Turun perlahan sembari memberi gigitan kecil di perut rata Kara. Satu pun tidak terlewat dari sapuannya hingga bibir itu jatuh pada pusat kedalamannya.
Merekah merah ketika dibuka. Wangi yang khas merebak hingga Elno tidak tahan untuk membenamkan wajahnya di sana. Menggelitik bagian tersembunyi yang membuat suara Kara semakin berat.
Tubuhnya terangkat saat pengecap Elno beradu dengan mulut manisnya. Begitu rakus dan Kara mengerang ketika sang suami dengan jahilnya memberi gigitan di sana.
Kara mengeluh ketika satu jari masuk ke dalam. Elno berharap sang istri menyebut namanya. Lagi dan lagi hingga apa yang ia inginkan tercapai. Kembali menyesap, membuat Kara menjerit nikmat.
"Elno," ucap Kara serak.
Elno tersenyum penuh kemenangan, lalu kembali bermain dengan bibirnya. Memutar, menyapu dari sisi terdalam dan terluarnya. Memberi sensasi yang Kara rindukan.
Napas Kara terengah-engah. Sudut bawah sana sudah sangat basah dan ia kembali mengerang ketika Elno malah membersihkan cairan itu dengan perasanya.
Elno maju mengecup bibir Kara dengan posisi menekan. Kara merasa ketegangan itu menyentuhnya. Elno, bahkan mengosokkan benda terlarang itu ke tempat miliknya.
Kara terkesiap. Ketegangan mulai menginginkannya. Pas di sana dan Elno mulai mendorongnya masuk. Kara menggigit bibir. Begitu mendesak hingga menimbulkan sedikit perih.
Kara memejamkan mata saat embusan napas Elno mengenai daun telinganya. Suaminya itu bernapas lega karena berhasil menerobos masuk.
Kara mengalungkan kedua tangan di leher Elno selagi suaminya itu datang menghunjam. Menghentak kuat. Membenamkan diri dalam sedalamnya.
"Aku merindukanmu, Sayang. Sangat merindukanmu," ucap Elno.
Pelan kemudian kecepatan itu bertambah. Maju mundur seiring irama daging yang berbenturan. Suara mendayu yang menguasai kamar. Semakin panas oleh kobaran api hasrat.
"Terima kasih, Sayang," ucap Elno kemudian mendaratkan kecupan di kening.
"Puas?" tanya Kara.
"Belum. Sekali lagi, ya, Sayang. Aku masih rindu," jawab Elno.
Kara mengangguk, lalu ia kembali membangkitkan gelora Elno. Tidak lama hingga keduanya kembali bergulat dalam satu tempat tidur. Napas keduanya terengah-engah. Elno menjerit saat mencapai titik puasnya.
"Puas?" tanya Kara.
__ADS_1
Elno mengangguk. "Sangat, Sayang."
Kara tersenyum. "Kamu bisa memilih sekarang."
Elno mengerutkan kening. "Memilih? Apa, Sayang?"
"Antara aku dan Sari, mana yang lebih membuatmu puas."
Mata Elno membelalak mendengar pertanyaan itu. "Kamu sengaja melakukan ini padaku."
"Aku hanya penasaran. Di antara kami berdua siapa yang bisa memuaskanmu? Apakah Sari lebih baik dibanding diriku sampai kamu tidak punya alasan untuk berpisah darinya?" tanya Kara.
"Kamu tau alasannya, Sayang."
"Finola? Aku bisa memberimu seorang anak, Elno."
"Kamu anggap apa Finola, Kara. Dia membutuhkanku."
"Dan aku juga membutuhkanmu, Elno," sahut Kara. "Aku cuma minta satu hal. Pisah dari Sari. Aku sudah mencoba untuk berbagi, tetapi tidak bisa."
"Karena kamu enggak ikhlas. Karena kamu tidak bisa menerimanya. Karena kamu kurang mencobanya."
"Tentu saja aku tidak bisa menerimanya. Coba diposisiku, El. Saat kamu melihatku bersama Ilmi, kamu marah, kan? Begitu juga perasaanku. Melihatmu bermesraan bersama Sari, hatiku sakit."
"Cobalah berada di posisiku, Kara. Coba kamu jadi aku. Kamu ingin aku menjadi pria yang tidak bertanggung jawab?" ucap Elno.
"Kamu sudah menikahinya. Apalagi?"
"Astaga, Kara. Setelah manisnya aku ambil, lalu kamu ingin sepahnya aku buang? Kamu ingin aku menjadi pria seperti itu?" tanya Elno. "Kita bisa jalani ini bersama, Kara. Kita bisa."
Tanpa terasa satu tetes air mata jatuh di pipi Kara. Mungkin kata-kata Elno ada benarnya. Ia masih belum terlalu lama mencoba. Belum lama menerima kenyataan.
"Ya, aku coba menerima pernikahanmu. Mencoba untuk tersakiti lagi sampai batas waktu aku bisa bertahan. Tapi perlu kamu ingat, Elno. Kesabaranku ada batasannya. Saat aku ingin pergi, maka biarkan aku pergi."
Bersambung
__ADS_1