
Putusan akhir memang belum diberikan. Namun, Elno ingin segera pergi dari Jakarta. Untuk kasus perceraian selanjutnya, maka Elno akan menyerahkannya kepada pengacara. Untuk hak asuh anak, Elno memberikannya kepada Sari, dan berjanji akan memberi sejumlah uang jika rumah barunya sudah terjual.
Berlama-lama di Jakarta akan membuat Elno menderita atas rasa penyesalan. Jika dia lari, maka memang benar. Lebih baik ia pergi dari semua hal yang membuat sakit hati. Terlebih jika bertemu Kara. Ia tidak dapat menahan kakinya untuk mengunjungi sang mantan istri.
Hubungannya bersama kedua orang tua juga renggang. Kembali seperti semula bukan masalah bagi Elno. Orang tua itu malah marah mendapati ia tidak bekerja lagi. Tidak ingin menjadi beban, lebih baik pergi.
Tidak ada yang mengantar Elno ke bandara. Ia sendirian menunggu waktu keberangkatan. Memang siapa yang akan datang mengantar dan memberi salam perpisahan. Ia sendiri, tidak punya siapa-siapa lagi.
Elno bangkit dari duduknya ketika mendengar pengumuman. Ia menoleh ke belakang, memang tidak ada siapa pun. Ia terlalu berharap jika Kara berada di sana. Elno menggeleng kemudian melangkah maju menuju pesawat.
Di lain sisi, Sari tengah bertemu dengan Tedy. Ini mengenai pembahasan mereka mengenai Finola. Sudah jelas siapa ayah kandung dari gadis kecil itu. Sari hanya ingin sang ayah bertanggung jawab saja.
__ADS_1
"Kamu ini seperti wanita yang kekurangan uang," kata Tedy.
"Aku hanya ingin kamu bertanggung jawab," ucap Sari. "Kamu tau sendiri jika aku tidak mendapat apa-apa dari Elno. Tinggal menunggu akta cerai itu saja, maka statusku akan resmi. Untuk kembali bersamanya juga tidak mungkin. Aku harus menikah lagi dengan seorang pria."
"Oh, jadi, kamu ingin aku menikahimu agar bisa kembali pada Elno?"
"Aku hanya ingin minta tanggung jawabmu."
"Kamu ingin Finola hidup tanpa ayah?" tanya Sari.
"Aku salut pada dirimu yang pandai bicara ini. Jangan coba-coba membujukku dengan kata-kata seperti itu. Aku tidak akan menikahimu karena kamu tidak pantas bersanding denganku!" ucap Tedy kemudian beranjak dari duduknya.
__ADS_1
"Tunggu dulu, Tedy," cegah Sari.
"Jangan mengangguku lagi. Hubungan kita hanya sebatas Finola. Gara-gara kamu hubungan persahabatan kami menjadi hancur begini. Ini semua berawal dari kamu, Sari! Kamu yang menjebak Elno."
"Enak saja menyalahkanku."
"Awalnya memang karena kamu!" bentak Tedy yang membuat pengunjung kafe melihat ke arah mereka. "Semoga kamu mendapat balasannya, Sari. Hidupmu ini sama sekali tidak ada penyesalannya."
Tedy pergi setelah mengatakan itu. Sari menahan amarah dalam dirinya. Sesak dan ia ingin berkata yang sebenarnya. Tidak ada lagi yang tersisa dalam hidupnya kini. Cintanya telah pergi untuk selama-lamanya. Bahkan Elno tidak memberi peluang untuknya kembali. Dalam kehidupannya, ia tidak pernah menang. Ia membujuk Elno dengan kata-kata bersalah dan tanggung jawab. Ia mendapatkannya dengan cara seperti itu. Namun, Sari menyadari jika apa yang ia miliki tidak pernah menjadi miliknya. Itu lebih menyakitkan. Berpura-pura menang, padahal ia telah kalah dari awal.
"Kamu pikir aku tidak punya perasaan. Kamu tidak tau artinya tidak diinginkan oleh orang yang kamu cintai," ucap Sari lirih.
__ADS_1
Bersambung