
"Baru tau kalau istriku jutek," celetuk Elno ketika keduanya telah berada di dalam mobil.
"Bukan istri, ya," ralat Kara.
"Yaelah, calon istri. Lagi kedatangan tamu, ya, Sayang? Marah melulu."
"Aku enggak marah. Hanya mencoba untuk berkata tegas. Pantas saja kamu itu bisa terjerat sama rencana mereka. Kamu, ya, dikit-dikit pakai perasaan," ucap Kara.
"Perasaan aku cuma sama kamu, Sayang. Buat apa aku selama ini menduda kalau bukan ingin balikan sama kamu. Aku datang setelah sukses agar bisa melamar kamu. Kita adakan pernikahan yang megah."
"Bagaimana dengan orang tua kita?" tanya Kara.
Elno menoleh pada Kara. "Kamu tidak menemui ayahmu?"
Kara menggeleng. "Buat apa? Toh, dia bakal mengusirku."
"Kita harus datang menemui mereka untuk meminta restu. Aku juga akan membawamu ke hadapan orang tuaku," ucap Elno.
"Tunggu, deh. Memangnya siapa yang ingin nikah sama kamu?"
"Eh, bukannya tadi ada yang ngomong kalau aku bakal punya keluarga baru?"
"Ya, aku hanya mengarang saja," kata Kara.
"Ya, aku cuma ingin mengundangmu saja bertemu orang tuaku."
Kara mendengkus kemudian memalingkan wajahnya ke arah jalanan. Sementara Elno menyunggingkan senyum melihat tingkah malu-malu kucing wanitanya.
__ADS_1
Keduanya sampai di apartemen. Dengan desakan Elno akhirnya, Kara mengijinkan mantan suaminya bertamu. Untungnya ruangan telah Kara bersihkan. Tidak ada barang dagangan yang bertumpuk di kursi maupun kertas serta majalah yang berserakkan di meja.
"Sayang, buatin minuman dingin," pinta Elno.
Kara berdeham. "Aku ganti baju dulu sebentar."
Elno membuka sepatu serta kaus kakinya, lalu merebahkan diri di atas sofa. Meski apartemen kecil, tetapi terasa nyaman di tempat wanita yang dicintai.
"Kok, tidur," tegur Kara sembari membawa dua gelas es teh.
Elno membuka mata perlahan kemudian beringsut duduk. "Enggak, kok. Cuma pejam mata doang."
"Minum dulu. Lapar enggak? Aku bisa buatin makanan buat kamu."
Elno menggeleng seraya meneguk minuman dinginnya. "Masih kenyang."
Kembali Elno merebahkan diri, tetapi dengan pangkuan Kara sebagai bantalnya. Ia menepuk kepalanya, dan Kara membelai rambutnya.
"Umurku sudah tua. Pasti ada," jawab Elno.
Kara menyibak belahan rambut, lalu mencari rambut berwarna putih yang disebutkan oleh Elno. Ada beberapa dan Kara menyadari jika umur mereka sudah bertambah.
"Kamu kebanyakan mikir," kata Kara.
"Mikirin kamu yang enggak mau balikan sama aku."
"Satu helai uban harganya seratus ribu."
__ADS_1
"Boleh, pokoknya ambil sebanyak yang kamu mampu. Harus rambut yang warna putih," ucap Elno.
"Jangan tidur."
"Iya, aku cuma pejam mata, kok," sahut Elno.
"Bentar, aku ambil pinset dulu."
Elno harus sabar menunggu Kara yang pergi mengambil pinset. Wanita itu kembali dengan memperlihatkan benda kecil berwarna putih di tangan setelah itu duduk lagi dengan kepala Elno di pangkuannya.
Buktinya Elno tertidur ketika Kara asik mencabuti rambut putihnya. Parahnya malah terdengar suara dengkuran dari bibir yang terbuka itu.
Kara merapatkan bibir itu, tetapi malah terbuka lagi. Napas yang berbunyi keras menandakan Elno begitu pulas di alam mimpi.
"Aku kira sudah jadi orang kaya, kelakuan tidurnya berubah. Rupanya masih sama seperti dulu," ucap Kara seraya menekan hidung Elno agar berhenti mendengkur.
Reflek Elno menepis tangan Kara dari hidungnya. Ia membalik diri menghadap Kara. Mendusel wajah pada kaus yang dipakai Kara untuk menyeka bibirnya.
"Elnooo!"
Elno terbangun. "Ada apa?"
"Cuci muka sana," kata Kara.
Elno malah memeluknya. "Nanti dulu. Masih ngantuk. Kamu cabut lagi rambutku."
"Ish, Kebiasaannya enggak pernah berubah," gerutu Kara.
__ADS_1
Elno tetap pada kehendaknya. Aroma Kara malah membuat rasa kantuk itu datang. Begitu tenang dan nyaman hingga ia kembali hanyut dalam buaian mimpi.
Bersambung