
Elno berkeliling di daerah apartemen yang Kara tinggali. Ia hanya bisa berada di sekitarnya dan berharap Kara keluar hendak membeli sesuatu atau apalah. Tidak mungkin Kara berdiam di apartemennya. Pasti akan ada saatnya wanita itu keluar.
Sudah pukul sepuluh malam, tetapi Elno tidak menemukan apa pun. Ia tetap menghubungi Kara dan mengirim pesan untuk bertemu. Namun, pesan itu hanya dibaca tanpa dibalas sama sekali.
"Di mana kamu, Sayang. Aku minta maaf," ucap Elno lirih.
Akhirnya, Elno memutuskan untuk kembali ke rumah. Ia akan datang lagi besok sampai bisa menemukan Kara. Kendaraan roda empat melaju ke jalan raya besar dan tidak lama sebuah motor sport keluar dari area apartemen.
Ilmi pulang setelah menemani Kara. Ia sama sekali tidak bersalah sebab Kara sudah bukan istri Elno meski sidang mereka belum diputuskan.
Pulang ke rumah, Elno membereskan kekacauan yang telah ia buat. Ia akan tetap tinggal di kediaman Kara sampai batas waktu Kara kembali padanya. Elno yakin jika Kara tetap bersamanya. Saat Kara kembali ke rumah ini, maka Elno akan menuruti segala permintaan yang mantan istrinya minta.
Tiba-tiba terlintas kenangan saat Elno berada di rumah Tedy untuk bersenang-senang. Jika Elno tidak salah ingat, mereka memang berlima minum bersama. Sari bersama seorang perempuan lainnya ikut bergabung.
Malam yang menyakitkan bagi Elno karena Kara memutuskan untuk tidak pulang. Ia minum banyak dan paginya sudah berada di tempat tidur bersama Sari.
Rasa bersalah menghantui karena ia telah mengambil kesucian seorang gadis. Tidak lama Sari hamil dan Elno harus bertanggung jawab. Yang menjadi pertanyaan Elno sampai sekarang adalah sahabatnya. Mengapa mereka tidak melarang dirinya membawa Sari ke dalam kamar? Saat ditanyakan, Tedy dan Ilmi juga sama-sama mabuk, sedangkan wanita yang dibawa Sari juga teler dan terbangun di sofa di pagi harinya.
Segala pertanyaan itu pudar ketika Finola lahir. Untuk memastikan kembali, Elno melakukan tes dan buktinya benar. Finola adalah anak Elno dan sungguh itu membuat dirinya bahagia.
...****************...
Lagi-lagi Elno tidak dapat menghubungi Kara. Beratus kali ia menelepon dan berpuluh pesan terkirim, tetapi Kara sama sekali tidak membalas atau mengangkat panggilannya.
Memang pesan yang dikirim Elno adalah pesan permintaan maaf dan ajakan rujuk. Kara tentu tidak mau membalasnya. Untuk apalagi rujuk jika Elno masih bersama Sari.
Sekali lagi Elno menghubungi Kara, tetapi kali ini ia mengirim pesan suara. "Jangan lari. Kita bicarakan masalah perceraian. Silakan ajukan tuntutanmu."
Akhirnya, kalimat itu yang Elno ucapkan demi memancing Kara untuk keluar. Kara membalasnya dengan mengatakan akan menemui Elno di pengadilan. Ketika sidang mereka diadakan.
Hari-hari Elno tidak bersemangat. Ia tidak fokus dengan pekerjaannya. Pikiran tentang Kara serta gangguan dari Sari membuat kepalanya pusing.
Sari sudah pindah ke rumah orang tuanya sendiri. Dia merajuk dan tidak akan kembali pulang kalau Elno tidak menjemputnya. Meski begitu, telepon darinya selalu menganggu. Fokus Elno adalah pada Kara dan itu malah bagus jika Sari pindah ke rumah orang tuanya sendiri.
Pintu diketuk. Seorang wanita tersenyum ketika masuk ruangan Elno. "Bapak disuruh menghadap."
"Ya, saya segera ke sana."
__ADS_1
Performa pekerjaannya buruk akhir-akhir ini. Banyak pekerjaan yang belum Elno selesaikan. Jika begini, ia bisa dipecat. Kara telah pergi beberapa hari dan Elno seperti kehilangan nyawanya saja.
Elno masuk ke ruang atasannya. Pria paruh baya dengan tubuh tinggi besar. Elno menunduk ketika beberapa berkas dihempaskan begitu saja di meja.
"Bisa kerja? Kalau sudah tidak bisa bekerja, lebih baik keluar saja," ucapnya.
"Maaf, Pak. Saya akan memperbaiki semuanya," kata Elno.
"Harus selesai sampai besok pagi. Jika kamu masih kerja asal-asalan, lebih baik kamu keluar dari perusahaan ini."
"Baik, Pak. Saya akan perbaiki semuanya," ucap Elno.
Elno mengambil berkas kerja di meja, lalu ia keluar dari ruangan. Terpaksa malam ini ia harus lembur demi memperbaiki pekerjaannya.
Pukul sembilan malam semuanya sudah selesai. Elno pulang dengan mengendarai mobil milik Kara yang ia berikan sebagai hadiah. Tapi sebelum itu, Elno singgah di gerobak penjual nasi goreng tempatnya biasa berlangganan.
Mobil sengaja ia parkirkan agak jauh karena di depan gerobak ada beberapa orang mengantri. Elno berjalan kaki menuju penjual, tetapi matanya teralihkan pada sosok pria dan wanita yang berdiri di belakang pembeli lainnya.
Dua orang yang Elno kenali tengah bicara dan sesekali sang wanita tersenyum pada pria di sampingnya. Elno juga melihat motor sport merah yang ia kenali terparkir bersama kendaraan roda dua lainnya.
Bukan hanya Kara, tetapi pembeli juga kaget atas suara Elno. Ilmi yang melihat itu segera pasang badan untuk melindungi Kara.
Elno berjalan menghampiri dan ia langsung melayangkan bogem mentah di wajah Ilmi. "Pengkhianat!"
Kegaduhan terjadi. Bukannya melerai malah orang sekitar asik merekam adegan itu. Ilmi mengusap sisi bibirnya yang pecah. Pukulan yang cukup keras hingga menimbulkan noda merah.
"Kita pergi saja, Ilmi," ucap Kara yang memegang tangan Ilmi.
Namun, tangan itu ditepis Elno dengan menarik Kara ke sisinya. "Kara istriku, Ilmi!"
Ilmi berdecak, " Mantan, Elno!"
"Kami belum resmi berpisah."
"Secara agama telah sah dan tidak lama lagi kalian akan berpisah secara hukum. Lepaskan Kara, Elno. Kamu hanya akan menyakitinya," ucap Ilmi.
"Lalu memberikan Kara padamu? Sampai mati pun aku tidak akan rela. Dengarkan aku, Ilmi. Andai aku tidak bersama Kara, maka aku tidak akan rela Kara bersamamu!" kata Elno, lalu membawa Kara bersamanya.
__ADS_1
"Lepasin aku, Elno!" bentak Kara.
"Kita harus bicara!" ucap Elno tidak kalah kerasnya.
"Apalagi yang kamu inginkan?"
"Jika kamu terus menghindar, maka urusan kita tidak akan pernah selesai," ucap Elno. Ia membuka pintu mobil dan menyuruh Kara untuk masuk. "Kamu enggak mau mereka merekam kita lagi, kan? Cepat masuk mobil!"
Mau tidak mau Kara masuk mobil. Elno kembali menghadap pembeli yang menonton pertengkaran mereka.
"Jika sampai rekamannya tersebar, kalian tau sendiri akibatnya," ucap Elno mengancam.
"Jangan sampai kamu menyakitinya, Elno!" giliran Ilmi memberi peringatan.
"Urusan kita belum selesai, Ilmi," kata Elno, lalu lekas masuk mobil.
Elno membawa Kara pulang ke rumah lama mereka. Rumah yang mengingatkan segala sakit hati Kara pada suaminya.
"Apalagi?" tanya Kara. "Jika mengenai rumah ini, mobil dan perhiasan, aku tidak ingin menerimanya. Ambil saja untukmu. Aku ikhlas memberikannya asal kita lekas berpisah."
"Beri aku kesempatan satu kali lagi, Sayang. Aku akan menceraikan Sari jika itu maumu."
Kara menggeleng. "Sudah terlambat, Elno. Ke mana saja saat aku mengajukan hal itu? Kamu malah memintaku menerima pernikahan keduamu. Tidak lagi, Elno. Keputusanku sudah bulat. Kita harus berpisah."
"Tidakkah kamu mencintaiku?" ucap Elno.
"Sakit hatiku lebih besar dari rasa cinta."
"Apa ini karena Ilmi? Begitu mudah perasaanmu berpaling dariku. Sejak kapan, Kara? Sejak kapan kalian dekat?" tanya Elno.
"Aku tidak punya hubungan apa-apa dengannya," kata Kara.
Elno tersenyum getir. "Sangat jelas Ilmi menyukaimu."
"Kita sudah tidak punya hubungan apa pun lagi. Ilmi menyukaiku atau tidak, itu urusanku!" ucap Kara, lalu berjalan keluar rumah.
Bersambung
__ADS_1