The Wife ( Istri Yang Teraniaya )

The Wife ( Istri Yang Teraniaya )
Menyelidiki


__ADS_3

Akhirnya Elno kembali ke rumah mertuanya. Ia pulang dengan mendapat sambutan yang tidak menyenangkan dari Sari. Tentu saja alasannya karena rumah baru mereka dijual untuk dibagi dua dengan Kara.


"Besok kita bisa pindah ke rumah baru," kata Elno.


"Bukankah rumah itu ingin kamu jual?"


Elno menggeleng. "Aku mengurungkan niatku itu. Di sana rumah kita lebih besar. Ada taman luas yang bisa membuat Finola bermain."


Raut wajah cemberut Sari berubah tersenyum. "Finola akan senang jika bermain di taman besar."


"Kamu siap-siap saja. Besok kita bisa pindah. Jam istirahat kerja nanti, aku akan menjemput kalian."


Sari memeluk lengan Elno. "Sayang, aku mencintaimu."


Elno membelai puncak kepala istrinya. "Apa yang membuatmu begitu mencintaiku?"


"Pertanyaan ini juga ingin aku tanyakan padamu. Apa yang membuatmu memilihku?" tanya Sari sembari menatap mata Elno.


Elno tersenyum. "Kamu istriku dan aku memang harus memberimu cinta."


"Hanya itu?"


"Kamu baik dan selalu mengurusku," jawab Elno akhirnya. "Bagaimana denganmu?"


"Aku mencintaimu karena dirimu yang hebat ini. Kamu pekerja keras dan wajahmu tampan. Aku selalu jatuh cinta dengan wajah ini," ungkap Sari.


"Sejak kapan?" tanya Elno lagi. Satu kecupan disematkan di kening Sari.


"Sebenarnya aku sudah lama menggagumi dirimu. Sejak kamu berusaha keras demi menghidupi keluargamu. Aku kagum atas semua usahamu. Kamu luar biasa, Elno. Aku sungguh jatuh cinta padamu. Bukan karena kamu adalah suamiku saja, melainkan aku memang jatuh cinta pada pria yang bertanggung jawab padamu," tutur Sari.


"Ya, itu memang kewajibanku sebagai seorang suami," ucap Elno. "Oh, ya, tadi aku bertemu seorang teman."


"Tedy?" tanya Sari penasaran.


Kening Elno mengernyit. "Kenapa kamu tau aku bertemu Tedy?"


"Aku cuma menebak," jawab Sari cepat.


"Setelah bertemu Tedy, aku bertemu temanku yang lain. Bukan teman akrab, tetapi teman sekolahku dulu. Dia punya masalah yang sama," kata Elno


"Apa?" tanya Sari.

__ADS_1


"Dia tidak sengaja meniduri seorang wanita."


Sari kaget mendengarnya. Ia menutup bibir seolah kejadian itu sungguh luar biasa membuatnya menggelengkan kepala dan tidak percaya.


"Bagaimana kejadiannya?"


"Wanita itu mengaku masih suci, padahal tidak. Mereka tidak sengaja tidur bersama dan perempuan itu hamil. Siapa yang tau jika anak yang dikandung adalah anak dari temanku yang menidurinya, padahal perempuanku itu sering bermain pria," kata Elno.


"Bagaimana kalau anak yang dikandungnya adalah anak dari pria itu? Dia harus bertanggung jawab, kan?" ucap Sari.


"Benar juga. Bagaimana kalau bukan? Apa yang seharusnya temanku itu lakukan?" tanya Elno, "terlebih wanita itu berbohong."


"Kurasa wanita itu harus diberi pelajaran."


"Aku rasa masalahnya bukan sesederhana ini. Bisa saja wanita itu menjebaknya, kan?" kata Elno. "Apa menurutmu ada orang lain yang bekerja sama dengan wanita itu?"


"Mungkin saja," jawab Sari.


"Itulah yang ingin temanku cari tau. Alasan dari kekacauan ini."


Sari tersenyum. "Kita tidak perlu membahas ini lagi. Lebih baik kita tidur."


...****************...


Bukan hanya wajah Sari yang membuat Elno muak, tetapi Ilmi yang berada satu kantor dengannya. Terlebih mereka sering bertemu demi satu pekerjaan.


Gosip di kantor merebak. Banyak karyawan dari divisi Ilmi membicarakan mengenai pria itu yang ingin mengakhiri masa lajang. Berita itu sampai di telinga Elno. Siapa yang menjadi pendampingnya, tentu saja Kara.


Terang-terangan Ilmi mengatakan hal itu kepada rekan kerjanya dan ia tidak sabar untuk menikahi janda dari Elno itu. Entah Ilmi sengaja atau tidak yang pasti Elno sangat sakit hati mendengarnya.


Elno menahan diri agar tidak terpancing atas gosip yang menyebar. Ia sudah diberi peringatan keras dan fokusnya lebih kepada Sari dan dua sahabatnya. Mereka ada di sana waktu kejadian itu.


Waktu istirahat tiba. Elno harus menjemput Sari dan Finola untuk pindah ke rumah baru. Sialnya ia malah satu lift dengan Ilmi. Pria itu juga akan pergi makan di luar bersama Kara tentunya. Satu perubahan yang Elno sadari. Ilmi melupakan motor sport merahnya. Ia lebih senang mengendarai mobil akhir-akhir ini.


"Apa begitu senang bagimu mendapat janda dariku?" tanya Elno sembari melangkah keluar dari dalam lift.


"Janda yang menggairahkan. Siapa yang menolak itu? Aku bahkan tergila-gila padanya. Kami akan segera menikah dan aku tidak sabar menantikannya," ucap Ilmi kemudian melangkah cepat.


"Tidak sebelum aku mengetahui hal yang sebenarnya terjadi pada malam itu," gumam Elno pelan, lalu melangkah keluar menuju mobilnya.


Sari tampak bahagia setelah melihat rumah baru miliknya. Rumah tingkat dua yang lebih besar dan mewah. Ada taman luas tempat Finola bermain dan kolam renang. Elno benar-benar tahu apa yang menjadi keinginannya.

__ADS_1


"Sayang, aku suka rumah ini," ucap Sari.


Elno tersenyum. "Syukurlah kamu menyukainya. Kamar kita tetap di bawah."


"Tidak masalah karena Finola harus terus bersama kita," kata Sari. "Oh, ya, Sayang. Aku minta uang untuk belanja. Sudah lama sekali kamu tidak memberiku uang lebih."


"Tentu saja. Kamu istriku satu-satunya. Keluarlah bersenang-senang. Aku akan kirim uangnya sekarang," kata Elno.


Langsung saja Elno mentransfer sejumlah uang di akun milik Sari. Mendapati uang dengan jumlah besar, Sari ingin segera berbelanja.


"Aku bisa mengantarmu jika kamu ingin," kata Elno.


"Tidak perlu. Kamu pulanglah ke kantor dulu. Biar aku pergi sendiri."


"Baiklah, aku berangkat sekarang."


Sari mengantar Elno sampai ke pintu depan. Setelah suaminya itu keluar dari dalam halaman rumah dengan mobil, barulah ia masuk. Sari mengambil ponsel dari dalam tas miliknya kemudian masuk kamar menghubungi seseorang.


"Kita bisa bertemu di luar. Ada yang ingin aku sampaikan," ucap Sari dari balik telepon.


"Aku tunggu di tempat biasa."


"Pastikan Elno telah kembali ke kantor," kata Sari.


"Oke. Jangan sampai telat karena aku cuma punya waktu satu jam."


"Aku segera ...."


Terdengar suara benda terjatuh. Sari melangkah keluar dan melihat bibi pengasuh dengan susah payah membawa mainan Finola.


"Pelan-pelan saja, Bi," tegur Sari.


"Maaf, Nyonya. Saya cuma ingin membereskannya."


"Aku akan keluar. Kamu jagalah Finola."


"Siap, Nyonya," kata Bibi.


Sari masuk kembali ke kamar. Tidak lama ia keluar setelah berganti baju kemudian melangkah pergi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2