The Wife ( Istri Yang Teraniaya )

The Wife ( Istri Yang Teraniaya )
Harus Merasakan


__ADS_3

Sari lelah mencari keberadaan Elno yang tidak kunjung pulang. Ponsel suaminya berada di tangannya karena telepon genggam itu ikut terbawa mobil Elno yang saat ini tengah diperbaiki. Untung saja kecelakaan waktu itu tidak memakan korban. Jadi, urusannya sedikit lebih gampang.


Sari juga sibuk dengan pekerjaannya sendiri selain mencari keberadaan Elno. Namun, menghilangnya sang suami sungguh membuat khawatir.


Sudah dua hari Elno tidak ada kabar. Dicari ke rumah orang tuanya pun tidak ada. Bahkan suami Sari itu tidak masuk kerja yang membuat atasan mencarinya. Sari mengatakan jika suaminya tengah sakit dan memberi surat keterangan dokter sebagai alasannya.


"Coba kamu cari di tempat Kara. Siapa tau dia ada di sana," ucap Hesti.


"Kara tidak mungkin menerima Elno kembali. Dia sudah membenci Elno," sahut Sari.


"Apa salahnya kamu coba dulu."


Parahnya setelah mengetahui apa yang terjadi pada pernikahan putranya, Hesti dan suaminya menganggap itu bukan masalah. Sudah terlanjur basah, mengembalikan ke bentuk semula pun percuma. Mereka menganggap jodoh Kara dan Elno hanya sampai disitu saja. Baiknya melanjutkan pernikahan yang sudah terjalin saja. Begitulah pemikiran kedua orang tua Elno.


"Aku akan cari di rumah lama. Siapa tau Elno berada di sana," kata Sari.


"Mama ikut."


Sari mengangguk kemudian keduanya masuk bersama ke dalam mobil. Kendaraan roda empat melaju ke jalan rumah lama. Sari dan Hesti keluar setelah mereka sampai di kediaman lama.


Pintu rumah terbuka. Sari yakin sekali jika Elno berada di sana sebab tidak mungkin Kara tinggal di rumah itu. Langsung saja keduanya masuk dan melihat rumah yang begitu berantakan.

__ADS_1


Sari melihat suaminya duduk bersandar di dinding dengan kepala tertunduk. Sudah pasti Elno tengah bersedih hati karena cintanya yang telah kandas.


"Sayang!" tegur Sari.


Elno mengangkat sedikit kepalanya. Ia tersenyum getir melihat Sari yang datang bersama ibunya.


"Mau apa kamu kemari?"


"Ingat istri dan anakmu, Elno," ucap Sari.


Elno tertawa mendengarnya. Ia bangun berdiri, menghampiri Sari yang berwajah polos. Tangannya terulur mengusap wajah halus itu. Sari tersenyum dan ia memejamkan mata menikmati kehangatan yang Elno berikan. Sang ibu pun tenang melihat itu. Tidak seperti dugaannya kalau Elno akan marah-marah.


"Telingaku sakit mendengar suaramu. Aku muak melihat tampangmu yang sok polos ini!" kata Elno.


"Le-lepaskan aku, Elno," ucap Sari dengan memukul tangan suaminya.


Pipinya dicengkeram kuat, dan itu terasa sangat menyakitkan. Dari pipi berpindah ke rambut. Lagi-lagi tarikan kuat yang di rasakan Sari.


"Jangan siksa Sari, Nak," ucap Hesti.


"Mama masih membela wanita murahan ini!"

__ADS_1


"Sari tidak melakukan apa-apa. Dia tidak berselingkuh selama menjalin hubungan denganmu!" kata Hesti.


Elno terkesiap mendengar ucapan ibunya. Kelakukan Sari dimaklumi, tetapi ketika ia bersama Kara malah itu menjadi aib bagi keluarganya. Elno mendorong Sari hingga membuat wanita itu terjatuh ke lantai.


"Pergi kalian!" usir Elno.


Sari berlutut dengan memegang kaki Elno. "Maafkan aku, Sayang. Aku minta maaf," isak Sari.


Elno menendang Sari. "Murahan! Aku muak denganmu. Kamu menghancurkan hidupku, Sari!"


"Maafkan istrimu, Nak. Dia bersalah, tapi beri Sari kesempatan," ucap Hesti.


"Mama jangan ikut campur!" bentak Elno.


"Sabar, Nak," ucap Hesti lagi.


"Maaf, Elno. Aku melakukan itu karena mencintaimu," kata Sari.


"Kamu membuatku berpisah dari Kara. Kamu pun harus merasakan hal yang sama. Aku talak kamu dengan talak tiga!" ucap Elno.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2