
"Kamu harus secepatnya menikahi Kara," kata Sari pada Ilmi.
"Masalahnya masa iddah itu terlalu lama," sahut Ilmi.
"Ya, bagaimana caranya kamu harus menjadikan Kara milikmu."
"Lalu, aku?" tanya Tedy. "Sampai sekarang aku merasa bersalah. Ini tidak benar. Lebih baik katakan semuanya pada Elno dan Kara. Aku tersiksa berbohong terus."
Rasa bersalah itu ada, apalagi ketika melihat penderitaan Kara. Ia awalnya tidak bermaksud menjebak Elno. Sungguh Tedy juga tidak menyangka jika Sari juga tidur bersama Elno pada malam itu. Lalu, pengakuan Sari yang mencintai sahabatnya dan Ilmi yang menyukai Kara.
"Kamu juga terlibat, Ted," kata Ilmi.
"Lalu, apa yang aku dapatkan setelah menolong kalian? Ini semua karena dirimu, Sari!" hardik Tedy. "Jika saja kamu tidak tidur bersama Elno, maka kejadiannya tidak akan begini."
"Jadi, kamu melupakan masa lalu?" tanya Ilmi. "Kekasihmu tiada karena Elno telat datang."
"Itu sudah takdir. Elno sudah berusaha untuk ke rumah sakit, tetapi nyawa kekasihku tetap tidak tertolong."
Ilmi berdecih, "Aku akan membayarmu."
"Lagian Kara juga tidak lagi mencintai Elno. Lebih baik biarkan kami bersama. Aku juga akan memberikan kompensasi padamu," kata Sari.
"Terserah kalian. Cukup sampai di sini. Aku tidak ingin terlibat dalam urusan kalian," kata Tedy, lalu melangkah pergi.
"Tedy bisa menghalangi rencana kita," ucap Sari.
"Tenanglah, dia tidak akan melakukan itu," sahut Ilmi.
Baik Sari dan Ilmi sama-sama berjalan di keluar dari taman. Namun, mereka menghentikan langkah kaki ketika melihat Tedy bersama seorang pria.
"Elno!" seru Sari. "Ke-kenapa kamu bisa ada di sini?"
__ADS_1
"Rupanya orang yang kamu temui adalah Ilmi dan Tedy. Kamu buru-buru pergi karena ini, dan sahabat pengkhianat memastikan diriku ada di kantor. Sayang sekali. Aku memasang GPS di ponselmu, Sari," kata Elno.
Kecurigaan Elno ada benarnya sebab bibi pengasuh telah mendengar semua ucapan Sari di telepon. Elno curiga karena bibi pengasuh Finola menyebut teman kantor. Siapa lagi yang akrab dan mengetahui masalah Elno kalau bukan Ilmi. Benar saja, ketika Elno kembali ke kantor, Ilmi malah pergi. Untungnya Elno telah memasang GPS di ponsel Sari saat istrinya itu tertidur.
Tedy mundur beberapa langkah sampai berdampingan dengan Sari. Elno menatap ketiganya tajam. Dugaannya benar jika Sari dan kedua sahabatnya saling bekerja sama untuk menjatuhkan dirinya.
"Kalian menjebakku," ucap Elno.
"Sayang, ini tidak seperti yang kamu pikirkan," kata Sari.
"Aku sudah tau semuanya!" teriak Elno. "Wanita murahan! Mengaku masih suci, tetapi buktinya adalah wanita kotor."
"Tutup mulutmu!" bentak Ilmi.
"Ini rencanamu, kan, Ilmi. Lolita sudah mengatakan sebenarnya. Aku bukanlah pria pertama bagi Sari."
"Bagus kalau kamu sudah tau. Sari tidak perlu lagi berpura-pura. Sari sudah menjadi istrimu dan kalian punya anak," kata Ilmi.
"Memangnya aku percaya jika Finola adalah anakku? Kalian yang membantuku untuk melakukan tes itu," ucap Elno.
"Finola memang anakmu, Elno," kata Sari.
"Tidak sebelum aku membuktikannya lagi. Kalian pengkhianat! Aku tidak akan membiarkan ini," kata Elno marah.
"Lantas, apa yang ingin kamu lakukan? Memberitahu semuanya pada Kara?" Ilmi berkata meremehkan. "Sudah terlambat, Elno. Kalian sudah berpisah secara resmi."
"Aku pernah mengatakan padamu. Jika Kara tidak bisa bersamaku, maka kamu juga tidak."
Sari berjalan mendekat. "Maafkan aku, Elno. Ini tidak seperti yang kamu bayangkan. Aku tidak menjebakmu."
Elno mendorong tubuh Sari. "Menjauh dariku! Apa salah kami pada kalian?"
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Elno," ucap Sari.
"Tedy, Ilmi, kita bersahabat. Kenapa kalian melakukan ini padaku?"
"Kamu sudah tau alasannya. Dari dulu aku menyukai Kara dan kamu tau itu. Bahkan untuk mundur saja kamu enggan," ucap Ilmi.
"Kamulah yang harusnya sadar diri, Ilmi! Kara sama sekali tidak menyukaimu. Baik dulu maupun sekarang, Kara tidak akan pernah menyukaimu!" hardik Elno.
"Sialan!"
Ilmi melangkah maju kemudian melayangkan bogemnya ke wajah Elno. Tidak mau kalah, Elno membalasnya. Perkelahian terjadi dengan Sari melerai dan Tedy diam saja karena keadaannya sudah sangat kacau.
"Tedy! Bantuin, dong," pinta Sari.
Mau tidak mau Tedy melerai keduanya. Sari memegang Elno dan Tedy menahan Ilmi. Elno melepas pegangan tangan Sari, lalu mendaratkan cap lima jari di pipi istrinya itu.
"Aku akan membuat perhitungan padamu, Sari! Aku akan mengatakan semuanya pada Kara!" ucap Elno.
"Katakan saja dan kita lihat apa dia percaya padamu," tantang Ilmi.
Elno masuk mobil begitu juga Ilmi, Sari, dan Tedy. Ketiganya masuk kendaraan mereka masing-masing. Elno langsung melajukan mobilnya menuju apartemen Kara berada.
Dalam perjalanan, ia menelepon Kara. Namun, mantan istrinya itu sama sekali tidak mengangkat. Elno tidak kehabisan akal. Ia mengirim pesan suara sembari melajukan kendaraannya dengan cepat.
"Kara, aku ingin mengatakan satu hal. Mereka membohongi kita. Tedy, Ilmi dan Sari telah menjebak kita. Finola bukan anakku. Temui aku, Sayang. Aku akan jelaskan semuanya," kata Elno.
Pesan suara terkirim, tetapi belum terbaca. Elno tidak fokus pada penglihatannya. Sambil mengendarai mobil, ia melihat ponselnya juga. Mobil mendadak oleng ke kiri, lalu menabrak pembatas jalan.
Suara klakson terdengar. Kendaraan berhenti dan orang-orang sekitar berkumpul untuk mengeluarkan pengemudi di dalamnya.
Bersambung
__ADS_1