The Wife ( Istri Yang Teraniaya )

The Wife ( Istri Yang Teraniaya )
Pilihan Sulit


__ADS_3

Memilih antara Sari dan Kara. Cinta dan tanggung jawab. Elno tidak bisa melakukannya meski ia ingin. Ia menginginkan keduanya dan biarkan ia menjadi serakah karena hal itu. Elno tahu keserakahan itu mengikis cinta Kara padanya. Istri yang ia cintai terluka dan Elno seolah tutup mata.


Sakit dan mungkin ini yang dirasakan Kara selama berbulan-bulan hidup bersamanya. Seharusnya ia membuat istri yang rela berkorban untuknya bahagia. Namun, Elno malah memberi luka. Ia menaburkan garam di atas luka yang menganga itu. Memberi perih yang teramat dalam.


Kara wanita biasa, ia bisa menderita ketika diusir, tetapi untuk berbagi suami sungguh merupakan hal yang tidak mungkin Kara tanggung. Elno seharusnya menyadari itu, tetapi buktinya ia malah memaksakan kehendak agar Kara menerima pernikahan keduanya.


Elno merobek surat gugatan itu. Menghancurkan segala benda yang ada di hadapannya. Vas bunga dilempar ke hadapan TV. Meja ia tendang dan tidak peduli kakinya terluka karena pecahan beling. Kara yang mendengar keributan di bawah hanya diam di dalam kamarnya.


"Kamu enggak bisa melakukan hal ini padaku, Kara. Bertahun-tahun aku menunggumu pulang dan setelah kembali, kamu malah ingin berpisah dariku." Elno menggeleng. "Kamu istriku dan selamanya akan terus menjadi istriku."


Elno berlari menuju kamar. Ia ingin masuk, tetapi Kara mengunci pintu. Gedoran keras ia berikan agar Kara membukakan pintu, tetapi wanita di dalam sana seakan menjadi tuli.


"Kara, buka pintunya!" seru Elno.


Kara tidak akan membuka kunci ketika suaminya dalam emosi. Ia menutup telinga ketika Elno kembali berteriak dan mencoba untuk mendobrak pintu.


Putus asa, tubuh Elno merosot ke bawah dengan tangan yang masih mengetuk pintu. Ketukan itu melemah seiring sesak yang ia rasakan.


"Bisa kita bicara baik-baik?" tanya Elno akhirnya. "Janji. Aku tidak akan menyakitimu."


Kunci diputar, Elno masih duduk berlutut dan ketika pintu terbuka, ia meraih kaki Kara dan memeluknya. Jelas Kara kaget akan tindakan suaminya dan mencoba untuk melepaskan diri.


"Apa yang kamu inginkan agar kita tidak berpisah? Kamu sungguh tidak mencintaiku lagi?" tanya Elno.


"Kamu tahu apa keinginanku," ucap Kara.


"Aku akan bawa Sari pindah dari sini agar kamu tidak lagi melihatnya."


Kara mendorong tubuh Elno pelan agar bisa terbebas dari pelukan pria itu. "Hanya ada satu pilihan untukmu. Aku atau Sari. Jika kamu tidak bisa memilih, maka kita bisa berpisah."

__ADS_1


Elno menggeleng. "Mudah sekali kamu mengucapkan kata-kata itu, Kara. Aku rela meninggalkan segalanya demi kamu. Kita berjuang hidup bersama. Jangan hanya satu kata itu membuat kita kehilangan semuanya."


"Semua telah hilang sejak kamu menikahi wanita lain. Keputusanku sudah bulat. Jika kamu ingin bersamaku, maka pilihannya sudah jelas. Jika kamu memilih Sari, maka aku siap mundur. Satu lagi. Aku ingin istrimu pindah dari sini," ucap Kara, lalu kembali masuk kamar dengan menutup pintu.


Elno mengusap wajahnya. Semalam ia dan Kara baru menghabiskan waktu bersama. Tidak disangka paginya malah mendapat kejutan. Kara memberinya pilihan sulit dan ia tidak tahu harus memutuskan apa.


Sari masuk ke rumah tanpa membawa Finola. Putrinya ia titipkan di rumah orang tuanya, sedangkan ia kembali lagi karena khawatir pada Elno.


Tanpa diduga ia mendapat kejutan suasana rumah yang berantakan. Sari berteriak memanggil Elno. Ia mencari ke segala ruangan dan terakhir naik ke lantai atas. Lagi-lagi mata Sari membelalak atas apa yang ia lihat. Elno tengah duduk berlutut di depan pintu kamar Kara.


"Elno!" seru Sari. Ia memeluk Elno, tetapi suaminya itu malah mendorong untuk tidak mendekat padanya.


"Jangan mendekatiku, Sari," ucap Elno.


"Kamu kenapa? Ada apa sebenarnya?" tanya Sari.


"Kara mengusir kita?"


"Seharusnya kalian memang pisah rumah. Kemasi barangmu sekarang," ucap Elno.


"Kara!" teriak Sari.


Pintu kamar kembali terbuka. Kara keluar memenuhi panggilan Sari. Elno masih duduk berlutut dengan tampang menyedihkannya.


"Apa yang terjadi? Kamu mengusir kami?" tanya Sari.


"Kabar ini akan membuatmu bahagia, Sari. Aku memutuskan untuk mundur dari pernikahan ini. Aku memutuskan untuk berpisah dari Elno," ucap Kara.


"Apa?" kaget Sari.

__ADS_1


"Puas, kan? Sekarang Elno milikmu. Kamu mendapat suami yang sukses sekarang. Selamat untukmu, Sari."


Sari membantu Elno untuk bangkit. "Ayo, Sayang. Kara sudah memutuskan untuk berpisah darimu. Lebih baik segera setujui saja. Tidak baik menundanya. Dari awal dia tidak menerima pernikahan ini."


"Sari dan aku ada di sini, Elno. Kamu bisa memilihnya," ucap Kara.


"Apa maksudmu?" tanya Sari.


"Pilihlah, Elno. Aku atau Sari," ucap Kara.


"Jangan memberi pilihan sulit, Kara. Aku tidak akan pernah berpisah darimu," kata Elno.


"Ceraikan Sari," pinta Kara.


"Kara!" bentak Sari. "Jangan keterlaluan. Aku tidak akan pernah berpisah dari Elno. Kami punya anak dan aku sangat mencintai suamiku."


"Kamu merebut suamiku, Sari. Kamu mengambil semuanya dariku. Kamu menganggap dirimu diperlakukan tidak adil, tetapi kamulah yang bertindak tidak adil padaku," ucap Kara.


Selama Kara mengatakan menerima pernikahan Elno, Sari bertindak semaunya. Meminta Elno terus bersamanya. Bermesraan di depannya tanpa memikirkan perasaan Kara saat itu.


"Jawab aku, Elno," desak Kara.


"Jangan pedulikan dia, Elno. Lebih baik kita pergi," ucap Sari.


"Aku mencintai Kara, Sari. Bisakah kamu mundur dari pernikahan ini?" ucap Elno.


Sari tersentak mendengarnya. Elno memilih Kara daripada ia dan putrinya. Memilih Kara yang telah meninggalkannya selama bertahun-tahun daripada dirinya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2