
Setelah dipecat, Elno mengurus surat perceraiannya bersama Sari. Terima atau tidak, keputusan Elno sudah tidak dapat diganggu gugat, bahkan mengancam Sari jika berani memperlambat proses persidangan.
Tentu saja ancaman penipuan dan bekerja sama memanipulasi tes DNA. Sari, Tedy dan Ilmi ketar-ketir bila itu sampai terjadi. Bukan hanya mereka bertiga yang terseret, tetapi ada pihak lain yang tentunya akan terseret. Dengan terpaksa Sari menyetujui permohonan Elno. Dia menerima dicerai dengan talak tiga dan tanpa tuntutan soal harta.
Elno meminta bantuan pengacara untuk mengurus persidangan serta mengenai hak asuh anak. Identitas Finola akhirnya terbongkar. Hal yang membuat malu bagi keluarga Sari serta Tedy.
Selama proses persidangan, Elno mempersiapkan keberangkatannya ke Kalimantan. Dia akan meneruskan pekerjaan sampingannya sebagai developer, dan rumah baru yang ia tempati pun dijual.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Elno.
"Aku baik," jawab Kara.
Untuk terakhir kalinya Elno bertemu Kara. Ia ingin pamitan sekaligus memberikan semua milik Kara yang belum diambil mantannya itu.
"Aku ingin memberikan milikmu," ucap Elno sembari menyodorkan surat rumah, kunci mobil serta kotak perhiasan.
"Simpan saja di rumah itu," kata Kara.
__ADS_1
"Aku akan pindah ke Kalimantan setelah perceraianku selesai. Kamu bisa menjual rumah itu jika tidak menginginkannya. Aku tidak akan menganggumu. Ini pertemuan kita yang terakhir," ucap Elno.
"Kamu menceraikan, Sari?"
"Aku tidak bisa hidup dengannya," jawab Elno.
"Dari awal kamu memilihnya dan sekarang kamu malah membuangnya," ucap Kara.
Elno menatap Kara. "Karena perkataan inilah, aku tidak menceraikan Sari lebih awal. Pertama perasaan bersalah karena aku menodai dirinya. Kedua, memang tidak ada alasannya. Sekarang aku tahu semua rahasia dan punya alasan untuk membuangnya. Aku tidak peduli lagi apa pendapat orang terhadapku. Tidak peduli awalnya aku memilih dia dan menceraikan istri pertamaku. Yang sebenarnya adalah aku tidak pernah berniat menceraikan istri pertamaku. Saat itu aku tengah berada dalam emosi dan aku menyesalinya."
Kara tertegun mendengarnya. Suasana hening seketika. Kemudian Kara meraih amplop cokelat serta perhiasan yang tergeletak di meja.
"Itu hak-mu untuk menjualnya," sahut Elno.
Kara beranjak dari duduknya. "Kurasa urusan kita sudah selesai. Aku masuk dulu kalau begitu."
Kara hendak melangkah, tetapi suara Elno membuatnya tetap berdiri di tempatnya. Elno bangkit berdiri. Menatap Kara dengan rasa cinta yang masih ada dalam dirinya.
__ADS_1
"Semoga hidupmu bahagia. Hubungi aku jika kamu mendapat pendamping hidup yang baru," ucap Elno.
Kara tersentak mendengarnya. Tidak diduga Elno bisa berkata demikian. "Kamu juga. Semoga bahagia dan mendapat pendamping baru."
Elno tersenyum. "Aku akan menyendiri."
"Aku hanya mendoakanmu saja. Selebihnya terserah padamu," kata Kara. "Aku harus kembali."
Elno mengangguk. "Iya, kembalilah."
Kara berjalan dan Elno tetap memandanginya sampai sang mantan istri masuk dalam lift. Elno menghela, lalu ia melangkah keluar dari lobby apartemen.
Sudah pisah tetap saja Kara bersedih. Elno akan pindah dan tidak tinggal lagi di Jakarta. Itu artinya mereka tidak akan bertemu kembali. Kara menghapus air mata yang menetes di pipinya.
"Dia sungguh ingin pergi. Dia bahkan tidak memanggilku. Tidak menghentikanku, dan malah tersenyum. Apa kamu memang ingin melupakanku, Elno? Ya, pergi saja yang jauh dan carilah istri baru," gumam Kara sembari menghapus air matanya.
Perpisahan pertama ketika mereka masih menjadi suami istri. Perpisahan kedua ketika mereka bercerai, dan perpisahan ketiga ketika keduanya sama-sama telah menjadi orang lain.
__ADS_1
Bersambung