The Wife ( Istri Yang Teraniaya )

The Wife ( Istri Yang Teraniaya )
Bertemu Masa Lalu


__ADS_3

"Berapa lama jadinya?" tanya Elno kepada pelayan toko perhiasan.


"Bisa dua minggu atau sebulan. Tergantung dari kerumitan dari desain itu sendiri," jawab wanita pelayan toko.


"Kamu mau yang model bagimana?" tanya Elno.


"Yang sederhana saja, tapi cantik," jawab Kara. "Aku mau di lingkarannya itu penuh berlian kecil. Jadi, kalau kena cahaya lampu kayak berkilauan."


"Tuh, Mbak. Calon saya sudah bilang desain cincin yang diinginkan."


Pelayan itu mengangguk, lalu menanyakan kembali rancangan yang sesuai dengan mempelai wanita. Kalau untuk Cakra, ia akan menerima apa saja yang diputuskan oleh Kara. Selain cincin, Kara juga memesan satu set perhiasan, dan untuk cincin tunangan, mereka memutuskan membeli secara langsung.


"Habis ini kita ke mana lagi?" tanya Elno sembari menunjukkan kartu kredit warna hitam dengan lambang singa kepada kasir.


"Aku mau beli make up. Biar aku saja yang beli. Kita gantian," kata Kara.


Elno mengangguk. "Terserah kamu saja, deh."


Setelah mendapatkan cincin tunangan yang diinginkan, Kara dan Elno menuju toko kosmetik. Untuk masalah ini, Elno tidak ikut campur karena ia tidak paham dengan perawatan kulit wanita.


"Papa!"


Elno menoleh begitu juga Kara. Finola langsung berlari memeluk Elno. Tamu yang tidak diduga datang menghampiri, bahkan Elno sendiri tidak mengharapkannya meski ia sudah menganggap Finola sebagai anaknya sendiri. Terlebih ada seorang wanita yang ingin Elno tenggelamkan di dasar lautan sekarang juga.


"Kenapa bisa di sini?" tanya Elno.


"Finola pergi belanja sama mama," jawabnya.


Kara langsung merangkul lengan Elno ketika ia melihat Sari. Cukup satu kali suaminya direbut. Untuk kedua kali, maka Kara memerangi pelakor habis-habisan.


"Kalian bersama lagi?" tanya Sari.


"Tentu saja. Waktu itu kami hanya terpisah oleh jebakan seorang wanita yang enggak tau malu," ucap Kara.

__ADS_1


"Sayang, ini di depan Finola," bisik Elno.


Kara menaikkan sebelah alisnya dan menatap calon suaminya itu. Elno buru-buru mengusap punggung tangan Kara agar tidak salah paham atas perkataannya.


"Dia masih anak-anak, Sayang. Aku enggak mau kamu dicap buruk oleh Finola. Bicara yang baik di depannya," ucap Elno.


Kara tersenyum. "Kami akan segera menikah."


Sari melipat tangan di perut. "Oh, selamat kalau begitu. Dengar, Finola. Papamu akan mendapat istri baru."


"Tapi papa Finola, ayah Tedy," sahutnya.


Sari mengerutkan keningnya. "Apa ayahmu yang berkata begitu?"


Finola mengangguk. "Iya, ayah Tedy yang bilang begitu."


"Finola memang anak yang pintar. Ayah Tedy adalah papa kandungmu. Kalau Papa Elno adalah ayah angkatmu. Sebentar lagi Finola akan punya adik angkat," kata Kara.


"Papamu itu ...."


"Kamu mengancamku?"


"Iya, dan aku tidak akan berbelas kasihan lagi padamu," ucap Elno.


"Kenapa Papa marah pada mama?" tanya Finola.


"Papa tidak marah, Sayang. Cuma mengingatkan mamamu."


"Finola mau beli apa?" tanya Kara. "Tante beliin minyak wangi mau?"


Finola mengangguk kemudian ikut bersama Kara meninggalkan Sari dan Elno. Sepasang mantan suami istri itu saling pandang. Elno masih membenci Sari meski ia mencoba untuk berdamai dengan masa lalu.


"Jangan berharap untuk kembali bersamaku," ucap Elno.

__ADS_1


"Aku pernah mendapatkanmu sebelumnya, maka aku bisa mendapatkanmu kedua kalinya," sahut Sari.


"Coba saja, Sari. Kamu sendiri yang akan menyesal nantinya. Aku tidak main-main dengan ucapanku. Tidak peduli di depan Finola. Jika kamu sudah mengusikku, maka aku tidak akan segan."


"Aku mencintaimu, Elno," ucap Sari.


"Persetan dengan cintamu itu," sahut Elno, lalu berjalan menyusul Kara.


Sari yang kesal meraih kaca rias di meja yang biasa digunakan untuk pelanggan mencoba berbagai produk kosmetik. Ia menghempaskan kaca itu ke lantai dan meraih serpihan kacanya.


"Aku mencintaimu, Elno!" teriak Sari.


Sontak hal itu mengundang perhatian. Elno tertegun dengan aksi Sari. Begitu juga Kara yang kaget akan tingkah mantan madunya, sedangkan Finola yang melihat ibunya merasa bingung.


"Aku akan bunuh diri kalau kamu tidak menikahiku," ucapnya.


"Jangan bertingkah konyol. Kamu siapa bisa memaksaku untuk menikah denganmu?" kata Elno.


"Kamu ini sudah gila, ya!" cerca Kara.


"Aku mencintaimu dan kita sudah punya anak, Elno," ucap Sari.


Bisa-bisanya Sari berkata demikian seakan Kara di sini yang bertindak sebagai perebut suami orang. Kara mengepal geram. Tanpa rasa takut ia mendekat, lalu melayangkan tamparan sebanyak dua kali di wajah Sari.


"Jangan gila kamu!" bentak Kara.


"Kamu yang gila!" balas Sari, lalu mengayunkan serpihan kaca yang ia pegang ke wajah Kara. Namun sayang, keburu Kara sudah ditarik oleh Elno hingga membuat keduanya jatuh ke lantai bersamaan.


Sari yang melihat Kara terjatuh menimpa Elno tidak tinggal diam, ia tetap ingin melukai wajah Kara. Untuk melindungi diri, Kara merelakan tangannya tersayat. Melihat itu barulah pengunjung bertindak dengan menjauhkan Sari dari Kara.


"Keterlaluan!" ucap Elno yang melihat Kara terluka.


Petugas keamanan baru datang untuk mengamankan kejadian ini. Lengan Kara terluka dengan goresan yang cukup panjang. Elno lekas membalut luka itu dengan jaket yang ia kenakan.

__ADS_1


"Aku pastikan kamu mendekam di penjara, Sari!" murka Elno.


Bersambung


__ADS_2