The Wife ( Istri Yang Teraniaya )

The Wife ( Istri Yang Teraniaya )
Ungkapan Tedy


__ADS_3

Terlalu banyak kejadian yang terjadi. Kara baru keluar dari apartemen setelah dua hari menyendiri. Kara bertemu Delia untuk mengajaknya bekerja sama dalam membuat toko online.


Kara ingin mencoba berbisnis kecil-kecilan dan membutuhkan seseorang yang akan membantunya. Kara juga menghubungi majikannya terdahulu. Ia meminta bantuan membeli pakaian import untuk dijual kembali.


"Jadi, kamu mau aku membantumu?" tanya Delia.


Kara mengangguk. "Kamu jadi bagian promosi di depan layar nanti. Kita jual baju sama tas dulu."


"Kamu bilang ingin bisnis kosmetik."


"Itu juga kita jalani. Aku sudah daftar jadi resseler. Ada beberapa produk hits yang aku pesan. Setelah ada kemajuan, aku ingin membuat produk sendiri," kata Kara.


Delia mengangguk. "Kapan aku harus berhenti dari pekerjaanku? Kamu mampu membayarku tiap bulan, kan?"


"Aku masih mampu untuk memberimu gaji selama satu tahun ke depan. Pokoknya kita harus banyak live di media sosial," kata Kara.


"Karena kamu sudah berkata demikian, aku bisa mengundurkan diri dari restoran ini," ucap Delia. "Oh, ya, Kara. Bagaimana hubunganmu dengan Elno dan lainnya?"


Kara mengembuskan napas panjang. "Seperti yang aku katakan padamu. Mereka sangat keterlaluan."


Kara sempat curhat bersama Delia lewat telepon dan mengatakan segala hal kepada temannya itu. Memang sangat mengejutkan, tetapi nyatanya itu benar terjadi.


"Hubunganmu bersama Elno bagaimana? Kalian juga dijebak," kata Delia. "Menurutku Elno hanya menjalankan kewajibannya saja. Tapi aku tidak mengerti karena kamu sendiri yang merasakannya.


"Aku tidak ingin membahas Elno. Untuk saat ini aku ingin sendiri." Kara melihat jam di layar ponselnya. "Sudah sore. Aku pulang, ya."


Delia mengangguk. "Hati-hati di jalan."

__ADS_1


Kara dan Delia beranjak dari duduknya. Namun, Delia terpaku melihat pria yang baru masuk ke restoran tempatnya bekerja. Kara mengerutkan kening ketika memandang raut kaget Delia. Ia menoleh ke belakang. Tedy tengah berjalan menghampiri meja mereka.


"Sudah masuk jam kerja. Apa kamu ingin aku mengusir Tedy?" tanya Delia.


"Dia datang sebagai pelanggan. Layani saja dia. Aku mau pulang," sahut Kara.


Kara melangkah tegap melewati Tedy. Namun, ia berhenti ketika Tedy menarik tas selempang yang Kara kenakan. Keduanya sama-sama melihat.


"Boleh aku bicara? Sebentar saja. Aku tau kamu akan pergi menemui Delia. Itu sebabnya selama dua hari ini aku selalu kemari," ucap Tedy.


"Mau apalagi?" tanya Kara.


"Sebentar saja," pinta Tedy memohon.


Kara menghela kemudian berjalan kembali ke meja yang tadi ia tempati. Tedy menyusulnya duduk, sedangkan Delia sudah kembali melayani pelanggan yang lain.


"Aku minta maaf, Kara," ucap Tedy. "Aku tau maaf tidak bisa mengembalikan semuanya."


"Kenapa, Tedy?" tanya Kara.


Tedy menggeleng. "Aku tidak tau, Kara. Aku merasa bersalah. Tidak seharusnya aku melakukannya. Sungguh, Kara. Aku tidak menduga jika Sari menjebak Elno."


Kara tertawa getir. "Jangan mencoba untuk terlihat tidak bersalah di mataku."


"Aku mengaku salah. Aku akui semua kesalahanku termasuk tes DNA itu. Finola anakku, Kara," ungkap Tedy.


Kara terkesiap. "Apa?"

__ADS_1


Tedy mengangguk. "Aku bersalah."


"Kamu baru mengaku sekarang setelah semuanya terjadi?"


Kara menampar Tedy dan hal itu membuat pengunjung restoran melihat ke arah mereka. Kara langsung beranjak dari duduknya kemudian pergi yang diikuti oleh Tedy. Keduanya menuju parkiran mobil untuk membahas hal yang belum selesai.


"Sari menyukai Elno dan aku tidak mencintainya. Waktu itu Sari dan Elno juga sudah menikah," ungkap Tedy.


"Selama ini kamu sudah membuatku seperti lelucon. Aku memintamu menemaniku, aku cerita tentang sakit hatiku. Kamu tau itu semua dan kamu hanya diam. Di mana hati nuranimu, Tedy? Kenapa kalian begitu jahat?" isak Kara.


"Aku salah, Kara. Aku mohon ampun. Apa yang bisa aku lakukan untuk menebus kesalahanku?" ucap Tedy.


Kara menggeleng. Ia sendiri pun tidak tahu harus meminta apa kepada Tedy. Waktu tidak bisa diputar kembali. Yang terjadi sudah terjadi.


"Bahkan saat di apartemen pun kamu tidak mengatakannya pada Elno," ucap Kara.


Tedy menundukkan kepalanya. "Apa yang bisa aku lakukan sekarang?"


"Katakan semua pada Elno. Kalian bersalah padanya," ucap Kara.


"Aku akan mengatakannya. Kara, maafkan aku," ucap Tedy.


Kara menggeleng. "Anggap kita tidak saling kenal, Tedy. Seumur hidup, aku menyesal mengenal pria sepertimu. Penyesalanmu enggak berguna bagiku. Semua sudah terlambat."


"Please, Kara," ucap Tedy lirih.


Sekali lagi Kara menggeleng. Ia lekas berjalan melewati Tedy menuju area luar. Tedy menyugar rambutnya ke belakang. Ia mengumpat, kesal, marah akan rasa penyesalan yang hadir dalam benaknya. Ia pantas tidak mendapat maaf dari Kara. Sudah sangat terlambat untuk menambal pecahan kaca kehidupan Kara dan Elno. Keduanya telah tercerai-berai hingga sulit untuk disatukan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2