
Elno menyusul Kara dengan meraih lengan wanita itu. "Ikut bersamaku."
"Lepasin!" bentak Kara dengan menepis tangan Elno.
"Ini rumahmu. Pulang di mana rumahmu berada."
"Enggak! Sebelum kamu pergi, maka aku tidak akan tinggal di rumah ini," kata Kara.
"Ini sudah larut malam, Kara! Biar aku mengantarmu," ucap Elno.
"Aku bisa pulang sendiri."
Elno langsung memeluk Kara dan ia mendapat perlawanan. Namun, kekuatan pria sangat besar meski Kara mencoba melawannya. Elno menangkup wajah Kara, lalu mendaratkan kecupan di bibir.
Kuat, mendesak hingga Kara susah untuk bernapas. Kara mencoba mendorong tubuh Elno, tetapi pria itu memeluk pinggangnya begitu erat.
Sia-sia saja melawan seorang pria yang diselimuti emosi dalam dirinya. Kara membiarkan Elno melakukan apa yang ia suka. Kecupan itu terlepas. Kara mendorong Elno, lalu mendaratkan dua tamparan sekaligus.
"Kamu pantas mendapatkannya," ucap Kara.
"Beri aku satu kesempatan lagi," pinta Elno.
"Jangan paksa aku, Elno."
"Aku memutuskan itu dalam keadaan marah. Ini semua salahku. Aku akui, Sayang. Kamu tau kenapa aku tidak bisa melepas Sari. Karena ada Finola di antara kami. Dia membutuhkanku, Kara. Jangan terlalu kejam."
"Aku sudah banyak berkorban untukmu. Aku menerima pernikahan dan perlakuanmu padaku. Sudah cukup, Elno.Aku tidak tahan. Tidak sanggup untuk bersamamu," ucap Kara.
"Tapi aku tidak ingin kita berpisah. Ingat saat kita bersama dulu, Kara."
Kara menggeleng. "Jangan paksa aku, Elno."
"Aku tidak bisa," ucap Elno lirih.
Sepeda motor sport merah berhenti di depan rumah. Elno yang melihat Ilmi datang lekas menarik Kara ke belakang tubuhnya.
"Sejak kapan, Ilmi?" tanya Elno.
"Aku hanya membantu Kara saja."
"Kamu bukan sahabatku lagi. Kamu pengkhianat!" hardik Elno.
Ilmi tersenyum tipis. "Terserah kalau itu maumu. Aku hanya melakukan apa yang menurutku benar. Ayo, Kara. Kita tinggalkan tempat ini."
Kara hendak melangkah ke depan, tetapi Elno lagi-lagi menghalanginya. "Jangan pergi."
"Jangan halangi aku atau aku akan sangat membencimu," ucap Kara.
__ADS_1
Elno bergeser dari tempatnya mendengar ancaman yang Kara lontarkan. Ia menyaksikan sendiri sang mantan menyambut uluran tangan Ilmi. Tanpa menoleh ke belakang. Ke arah Elno yang patah hati. Kara berlalu bersama Ilmi.
"Aku benar-benar kehilangan dirimu, Kara," ucap Elno lirih.
...****************...
Pertengkaran tidak dielakkan ketika Elno dan Ilmi bertemu. Keduanya dipanggil bersama oleh atasan atas perbuatan mereka. Pertengkaran yang bukan hanya adu mulut, tetapi dibarengi dengan adegan fisik.
Baik Elno dan Ilmi sama-sama mengalami memar di wajah mereka. Gosip di kalangan rekan kerja menyebar. Mereka mulai mempertanyakan masalah di antara keduanya. Terlebih Elno dan Ilmi menyebut nama Kara.
"Ini peringatan untuk kalian berdua. Jika sekali lagi kalian membuat keributan, maka saya akan langsung memecat kalian berdua," ucap Ridwan, atasan dari Elno dan Ilmi.
"Baik, Pak. Kami tidak akan mengulanginya," sahut Ilmi.
"Sekarang kamu keluar, Ilmi. Saya ingin bicara dengan Elno."
Ilmi keluar dan meninggalkan Elno bersama atasan. Ini kesalahan kedua Elno. Citra baiknya sudah hancur di depan sang atasan, padahal ia baru saja naik jabatan.
"Sungguh membuat saya kecewa," ucap Ridwan.
"Maafkan saya, Pak. Beri saya satu kali kesempatan," kata Elno memohon.
"Hanya satu kali kesempatan. Jika tidak bisa bekerja, maka saya akan memberimu tindakan tegas."
Elno menerima peringatan terakhir itu kemudian keluar dari ruangan. Elno masih tidak terima saat Ilmi membawa Kara pergi. Lebih parahnya kini Ilmi membantu Kara agar berpisah darinya. Elno merasa sangat terkhianati.
...****************...
Elno masih mengharapkan rujuk, tetapi Kara tidak. Proses ini akan menjadi panjang karena Elno. Bagaimanapun Elno tidak akan melepas Kara begitu saja. Kara tidak meminta harta, tetapi secepatnya perpisahan mereka segera diputuskan.
"Kita bisa perbaiki ini semua, Kara," ucap Elno.
"Aku tidak ingin lagi bersamamu," kata Kara bersikeras.
"Karena Ilmi? Kamu menerima Ilmi dalam hidupmu?"
"Ilmi cuma teman," sahut Kara.
"Teman yang selalu setia menemanimu. Dia selalu ke apartemenmu?"
"Jika aku mengatakan 'iya' apa kamu menganggapku murahan?" tanya Kara.
"Kita masih belum resmi berpisah."
"Aku tidak peduli kamu menganggapku apa. Ilmi memang selalu menemaniku dan kami bersama sekarang," ungkap Kara.
Elno menatap lekat mantan istrinya. "Sungguh aku tidak punya kesempatan lagi?"
__ADS_1
"Ini jalan terbaik untuk kita."
Elno mengangguk. "Baik. Aku kabulkan semuanya. Aku tidak akan menghalangi jalanmu lagi."
Setelah mengucapkan itu, Elno pergi. Memang apalagi yang harus ia lakukan agar Kara kembali. Memohon juga percuma karena Kara bersikeras untuk berpisah.
Akhirnya, untuk menghemat waktu. Elno mengutus pengacaranya. Ia sepakat bercerai dan memberi harta yang menjadi hak Kara. Rumah, mobil serta perhiasan. Keputusan akhir akan mereka dapatkan setelah hakim mempertimbangkannya.
Karena rumah sudah menjadi milik Kara, maka Elno pindah ke rumah orang tuanya. Ia memang punya rumah lagi, tetapi kediaman itu rencananya akan ia tinggali bersama Kara. Namun, Kara sudah memutuskan hubungan mereka. Jadi, berdiam di rumah baru sama saja menyakiti hati Elno.
Hubungannya bersama Sari juga renggang. Elno masih belum menjemputnya dari rumah sang mertua. Sengaja membiarkan Sari berdiam di sana sampai wanita itu datang dengan sendirinya.
Performa kerjanya juga menurun. Terlebih Ilmi seperti sengaja memanasi Elno saat keduanya berada di kantor. Ilmi menceritakan hubungannya bersama Kara. Wanita yang kini ia kejar.
"Nak, Finola sakit," ucap Hesti. "Jenguk dia, Nak. Kamu ayahnya dan jangan berlarut dalam kesedihan. Kamu punya keluarga yang harus diperhatikan."
"Sakit apa?" tanya Elno.
"Demam dan sudah dua hari di rumah sakit."
"Aku akan menjenguknya ke rumah sakit," kata Elno.
"Jangan sampai Finola bernasib sama seperti anakmu yang pertama," ucap Hesti.
Elno beranjak dari duduknya. "Tidak akan. Finola pasti baik-baik saja."
Elno keluar dari rumah. Ia masuk ke dalam mobil kemudian berlalu dari sana. Di dalam perjalanan baru Elno menghubungi Sari untuk menanyakan kamar rawat Finola.
Sesampainya di rumah sakit, Elno langsung saja menuju kamar Finola. Putrinya terbaring lemah dan semua itu karenanya.
"Puas kamu!" ucap Sari.
"Aku tidak ingin bertengkar," kata Elno.
"Dia putri kandungmu, Elno. Tega kamu mengabaikannya?"
"Aku sudah datang, Sari."
Sari menahan amarahnya terhadap Elno. Finola tengah sakit dan ia tidak akan mendebat Elno sekarang. Sari keluar untuk meredakan segala kekesalan dalam hati. Ia duduk di kursi ruang tunggu yang ada di depan kamar rawat sembari bermain ponsel.
Sari memencet nomor, lalu mendekatkan gawai itu ke telinganya. "Bagaimana perkembangannya?"
"Hanya menunggu keputusan akhir. Mereka sepakat untuk berpisah."
"Bagus, deh. Akhirnya, Elno sungguh menjadi milikku," ucap Sari.
"Halo Sari!"
__ADS_1
Telepon yang dipegang Sari terjatuh ketika melihat sosok wanita di depannya. Matanya membelalak melihat perempuan cantik dengan senyum mengembang.
Bersambung