
"Kalian masih marahan?" tanya Delia, ketika ketiganya sudah berada di restoran.
Elno memandang Kara berharap wanita itu yang akan menjawabnya. Jika Kara masih marah, ya, apa boleh buat nantinya Elno akan kembali menghilang dari hadapan wanita itu.
"Tidak, aku tidak pernah marah padanya," kata Kara.
"Kamu belum memaafkanku," sahut Elno.
"Kurasa kita tidak perlu membahas masa lalu," ujar Kara.
Tiba-tiba ponsel Delia berdering. Kara merasakan sesuatu yang tidak enak sekarang. Terlebih Delia berbicara di telepon bahwa ia akan segera pulang.
"Aku harus pulang. Mertuaku datang ke rumah," ucap Delia.
Sudah Kara duga. "Biar aku mengantarmu."
"Tidak perlu, Kara. Kamu bersama Elno saja. Kalian baru saja bertemu dan makananmu juga belum habis."
"Biar aku mengantarmu nanti," sahut Elno pada Kara.
Kara tersenyum tidak enak. "Aku bawa mobil."
"Wah! Kami sudah pandai menyetir sekarang?"
"Iya, aku banyak belajar."
"Ya, sudah. Kalian lanjutkan saja. Aku pulang duluan," ucap Delia, lalu membawa tas serta belanjaan dan pamit undur diri.
__ADS_1
Suasana menjadi canggung. Kara dan Elno melanjutkan makan tanpa bicara. Keduanya seolah kehilangan kata-kata. Pikiran mereka seakan kosong dengan tidak adanya topik yang bisa dibahas.
Elno berdeham. "Bagaimana bisnismu?"
"Kamu tau aku punya bisnis?" tanya Kara.
"Aku sering lihat reel kalian dan Delia yang selalu live."
"Semua berjalan lancar," jawab Kara.
Elno menatapnya lekat. "Aku selalu bangga padamu, Kara. Kamu memang yang terbaik."
"Sayangnya tidak begitu. Ada yang mengganggapku tidak begitu baik," kata Kara menjurus ke masa lalu.
Baru saja Kara mengatakan untuk tidak membahas masa lalu. Sekarang malah dirinya sendiri yang mengungkit masalah itu.
"Menurutmu apa kenangan itu bisa dilupakan?"
"Tentu saja tidak. Tapi aku menganggap masa lalu sebagai pembelajaran dalam hidup. Aku masih diberi kesempatan untuk berkarier kembali dan aku berharap dapat diberi kesempatan untuk menjadi seorang suami," tutur Elno.
"Kamu sudah punya calon istri?" tanya Kara.
Elno menggeleng. "Belum, tetapi akan. Aku punya seseorang yang aku cintai."
Kara mengangguk seraya menyesap minumannya. Ia tersenyum. "Pasti wanita yang beruntung. Oh, ya, apa pekerjaanmu?"
"Aku membangun rumah. Ada beberapa yang gedung yang aku sewakan."
__ADS_1
Kara memperhatikan apa yang melekat di tubuh Elno. Baju yang dipakai biasa saja seperti pakaian yang ada di mal. Tapi jam tangan yang melekat di pergelangan tangannya terlihat berkelas.
"Pekerjaan yang bagus," komentar Kara.
"Aku juga punya perusahaan lain," ucap Elno. "Nanti aku akan mengajakmu ke perusahaan itu."
"Kenapa harus aku?"
"Supaya kamu tau pekerjaanku. Aku tidak lagi berada di bawah perintah seseorang. Aku mandiri sekarang," kata Elno.
"Aku bangga padamu, Elno. Calon istrimu sungguh sangat beruntung."
"Selama lima tahun ini, aku bekerja keras dan hanya menerima kabar wanita itu dari temannya. Aku takut untuk menemuinya ketika aku masih belum berhasil seperti sekarang." Elno memandang Kara. "Aku tidak tau apakah harus berterima kasih atas musibah yang menimpa pernikahan kita. Aku kehilangan teman, sahabat dan istri. Sekarang aku mendapat gantinya yang bahkan aku sendiri tidak dapat menduganya. Tuhan menggantinya dengan berkali-kali lipat."
Kara mengangguk, matanya berkaca-kaca. Ia mengerjap beberapa kali agar tidak meneteskan air mata. "Mataku sedikit berair," ucapnya. "Tuhan menguji kita, dan dia menggantinya dengan dua kali lipat."
"Hanya satu yang kurang," kata Elno.
"Kamu bisa melamar kekasihmu," ucap Kara.
Elno menggangguk dan tersenyum. "Kamu benar. Aku akan mencobanya. Semoga dia mau menerimaku kembali."
"Pasti mau. Kamu tidak punya kekurangan sedikit pun."
"Di matanya aku memilikinya dan di depannya aku adalah pria yang paling banyak kekurangan." Mata Elno tidak lepas memandang Kara. "Dia semakin cantik. Dari dulu memang cantik, tetapi sekarang dia begitu memesona. Aku ingin membina hubungan bersamanya ketika kami sama-sama sudah matang dalam usia, dan aku harus bersabar untuk itu."
Kara cuma bisa menyunggingkan senyum di bibir. Mendengar perkataan Elno, jelas sekali jika pria itu sangat mencintai kekasihnya. Namun, Kara tidak pernah tahu jika Elno punya lagi wanita lain di hatinya.
__ADS_1
Bersambung