
Elno sedikit berlari menghampiri Kara yang datang menjemputnya di bandara. Dua hari tidak bertemu membuat rindu begitu membuncah di hatinya. Pelukan hangat dan kecupan kening ia berikan pada sang kekasih tercinta.
"Ini di depan orang," kata Kara.
"Biarkan saja mereka melihat. Biar mereka iri kalau aku bisa mendapatkan wanita cantik ini," seloroh Elno.
Kara mencubit kecil perut Elno. "Gombal mulu. Ayo, kita pulang."
"Iya, aku memang mau pulang. Sudah kangen berat sama kamu," bisik Elno.
Kara menggeleng, lalu membuka pintu penumpang untuk Elno. Ia sendiri yang akan menyetir lantaran sang kekasih baru turun dari pesawat.
Kesempatan bagi Elno bisa menyentuh Kara sesukanya. Memeluk wanita itu kemudian mengecupnya. Di saat lampu merah, Elno mencuri kecupan bibir dari Kara.
"Ini di jalan, Elno. Harus hati-hati," kata Kara.
"Kamu nyetirnya yang fokus, dong. Aku cuma pegang-pegang kamu."
Kara menepis tangan Elno yang ingin membuka kancing kemejanya. Ia tengah mengemudi, tetapi pria itu malah ingin memasukkan tangannya di balik baju yang Kara kenakan.
"Leher saja. Boleh, ya?" pinta Elno.
"Ini di jalan."
Kara kembali berhenti karena lampu merah. Lagi-lagi macet menghalangi perjalanan mereka untuk sampai ke rumah. Elno kembali meraih tengkuk Kara kemudian mengecup bibir yang membuatnya candu.
"Tumben banget kamu begini," kata Kara.
"Ini bayaran karena kita enggak ketemu selama dua hari," jawab Elno.
"Tapi ini di jalan, Sayang."
__ADS_1
"Aku enggak tahan. Pengennya nyosor mulu."
Kara melanjutkan perjalanan ketika lampu sudah menunjukkan warna hijau. Mengendarai mobil dengan kecepatan sedang agar segera sampai dan Elno bisa melampiaskan kerinduan pada dirinya.
Namanya tangan jahil, Elno tidak memperdulikan peringatan Kara. Ia memeluk Kara dengan tangan melingkar di perut sang kekasih.
Kecupan kecil di leher membuat Kara kegelian. Elno tidak hanya memeluk, tetapi ketiga jarinya masuk di balik kemeja. Mengusap perut rata Kara. Mencengkeramnya kuat hingga membuat wanita itu memekik.
"Jangan sampai ke atas," kata Kara.
"Sentuh sedikit," pinta Elno.
"Kita sudah sepakat, Sayang."
"Iya, iya, aku janji enggak bakal sentuh itu," ucap Elno sedikit kecewa.
Kara mengecup kening Elno. "Sabar, ya, Sayang."
"Aku mengurus pekerjaanku untuk libur pernikahan kita."
"Terus?" tanya Elno.
Kara terdiam sesaat untuk menceritakan pertemuannya bersama Ilmi tempo hari. Elno akan cemburu terlebih saat kekasihnya itu menelepon, Kara tidak mengatakan apa pun.
"Apa kalian jadi untuk memasukkan kosmestik di mal Jakarta?" tanya Elno lagi.
"Jadi, kok," jawab Kara.
"Kamu enggak bilang padaku kemarin. Coba ceritakan padaku."
"Semua lancar dan tinggal menunggu tanggal izin saja," ungkap Kara.
__ADS_1
"Oh, ketemu sama managernya juga?"
Kara mengangguk. "Iya. Orang yang mengurus izin itu."
"Orang?" Elno mengerutkan kening. "Pria atau wanita?"
"Aku pergi sama Delia, kok. Jangan cemburu begitu."
"Siapa yang cemburu, sih? Malah dari perkataanmu menunjukkan suatu rahasia, deh," kata Elno.
Kara tertawa kecil. "Itu, managernya pria yang kita kenal."
"Siapa?"
"Ilmiah," jawab Kara.
"Ilmi rupanya. Itu sebab bicaramu berbelit-belit begitu."
"Aku membedakan urusan pribadi dan pekerjaan, Sayang. Kamu tanya saja sama Delia."
"Tapi, kamu enggak jujur sama aku semalam. Waktu aku telepon kamu enggak bilang. Ilmi itu suka sama kamu. Dia itu rela ngelakuin apa saja buat misahin kita," tutur Elno.
"Aku enggak bilang karena dia tidak penting." Kara kehilangan fokus menyetir.
"Harusnya bilang sama aku. Mau kamu ketemu siapa saja harus bilang," ucap Elno.
"Kurangi sifat posesifmu itu."
"Kalau orang lain aku masih maklum, tetapi ini Ilmi. Dia rivalku."
"Jangan begini, Elno!" ucap Kara. Klakson terdengar nyaring dan ia menginjak rem mendadak. "Elnoooo!"
__ADS_1
Bersambung