
Cincin berlian tersemat indah di jari manis. Senyum manis terbit di bibir. Rona wajah yang tampak sangat bahagia. Didampingi oleh keluarga, teman dekat, akhirnya, Kara dan Elno resmi bertunangan.
Inilah proses pernikahan yang diinginkan oleh Kara. Ada keluarga dari kedua belah pihak. Ada hantaran, memakai baju kebaya cantik serta acara yang diiringi doa.
"Dari tadi kamu tebar senyum terus," tegur Elno.
"Kenapa? Apa aku enggak boleh tersenyum?" tanya Kara.
Elno menatapnya curiga kemudian mengalihkan pandangan pada tamu yang datang. Matanya memicing melihat sosok pria tampan yang dikenalkan oleh Handoko sebagai bagian dari keluarga istri barunya.
"Jangan senyum pada pria itu," tegur Elno.
"Apa, sih? Aku senyum pada tamu kita," sahut Kara.
"Aku lihat senyummu mengarah padanya. Tuh, lihat, kerabatmu itu jadi salah tingkah."
"Siapa yang senyum sama dia? Masa di hari bahagia ini wajahku cemberut. Yang ada malah dikiranya aku enggak bahagia sama pertunangan kita."
"Aku cemburu," ungkap Elno jujur. "Sudah tau aku orangnya cemburuan, tapi kamu malah senyum-senyum pada orang lain."
"Aku senyum sama kamu saja." Kara menunjukkan deretan giginya yang putih pada Elno. "Puas kamu lihat senyum aku."
"Ih, kok, nyengir gitu, sih?"
Kara menepuk punggung tangan Elno. "Ish, kamu. Aku cantik enggak?"
"Jelek," jawab Elno.
__ADS_1
Kara memanyunkan bibirnya. "Masa aku jelek."
"Emang jelek, kok. Apalagi bibirnya maju begitu."
Semakin cemberut wajah yang ditampilkan Kara. Elno tertawa karena merasa lucu atas tingkah calon istrinya. Rasanya seperti waktu mereka muda dulu.
Elno mencubit kedua pipi Kara. "Jangan imut-imut. Aku makin cinta, nih, sama kamu."
"Cie, cie, calon pengantin. Kayaknya bahagia banget, nih," tegur Delia.
Elno langsung merangkul pinggang Kara agar semakin dekat pada dirinya. "Pasti, dong. Iya, enggak, Sayang?"
Kara mengangguk. "Iya, aku bahagia banget. Bisa nikah sama orang yang aku cinta. Kita harus terima kasih sama Delia. Dia juga yang membuat kita kembali bersatu."
"Padahal Delia itu dulunya musuh kamu. Kok, dia bisa jadi sahabat kamu, ya?" kata Elno menyindir.
"Eh, enak saja. Aku enggak musuhan sama Kara. Mulutku ini memang ceplas-ceplos. Aku, tuh, hatinya baik," sahut Delia.
"Makasih, ya, Del. Kamu sudah jadi mata dan telinga aku selama ini," kata Elno menambahkan. "Terima kasih juga karena sudah jagain Kara. Dia tetap sendiri meski kami telah lama berpisah."
"Dasarnya kalian memang saling cinta dan memang kalian itu berjodoh. Mau dipisahin juga enggak bakalan bisa."
"Semoga kami tetap bersama selamanya sampai salah satu dari kami diambil nanti," ucap Kara.
"Amin," sahut Elno dan Delia.
"Selamat, ya, buat kalian berdua," ucap Delia yang malah lupa untuk memberi selamat saking asiknya mengobrol.
__ADS_1
Kara memeluk sahabatnya itu. "Makasih, Del."
"Iya, Sayangku." Delia beralih memberi ucapan selamat pada mempelai pria. "Jangan lupa, Elno. Liburan ke Bali, ya," bisik Delia.
"Beres," jawab Elno. "Aku sudah pesan tiket untuk keluargamu."
"Nah, kalau ada banyak rezeki memang harus bagi-bagi. Semoga usahamu makin lancar," ucap Delia.
"Iya, makasih," jawab Elno.
Rupanya Delia masih ingat akan liburan yang Elno janjikan. Memang niat Elno untuk memberi tiket liburan ke Bali jika Kara bisa ia dapatkan. Awalnya hanya candaan, tahunya ia benar-benar mendapatkan Kara kembali.
"Kalau kita liburan ke mana?" tanya Kara.
"Bulan madu maksudnya?"
Wajah Kara merona mendengarnya. Elno tersenyum. Ia menyikut lengan Kara, lalu berbisik, "Kita liburannya di Italia."
"Makan pizza, dong," ucap Kara.
"Makan spaghetti juga."
Bersambung
Kara
__ADS_1
Elno