
Klakson mobil mengalihkan perhatian pegawai yang bekerja di kantor Kara. Baru pertama kali ada seorang pria manis, bertubuh kekar yang berkunjung selain abang kurir serta pengantar jahitan.
Bisik-bisik mulai terdengar di antara mereka. Tawa cekikikan, khayalan mendapat pacar seperti pria yang saat ini tengah berjalan menuju pintu menjadi impian bagi gadis jomlo.
Ketika Elno sudah masuk ke rumah yang dijadikan kantor, pekerja wanita mengubah khayalan mereka menjadi sebuah pertanyaan. Siapa lelaki yang tersenyum menyapa mereka semua?
"Hai!" sapa Kara.
Pupus sudah harapan pegawai wanita yang mengharapkan Elno. Lawan mereka adalah wanita cantik dan berstatus sebagai pemilik usaha.
Elno tersenyum, lalu berjalan mendekat sembari memperhatikan pekerja yang mengemas paket untuk dikirim kepada konsumen.
"Paket sebanyak ini dikirim semua?" tanya Elno.
Kara mengangguk. "Iya. Ada skincare dan pakaian. Tapi yang di sini khusus buat pengemasan baju."
"Bangga, kamu sukses sekarang. Kantormu di sini juga?"
"Di atas. Rumah ini sengaja aku jadiin kantor. Kalau untuk skincare ada lagi tempatnya."
Reflek tangan Elno mencubit hidung bangir Kara. "Kamu memang hebat."
"Jangan dipencet hidungnya."
__ADS_1
"Biar mancung," kata Elno.
"Hidung aku memang mancung. Kamu, tuh, hidungnya mancung ke dalam," balas Kara.
"Ada batang hidungnya, loh. Ini dulu yang bikin kamu jatuh cinta."
"Mana ada," sanggah Kara. "Kamu yang ngejar aku."
Mereka yang saling menggoda, tetapi karyawan yang melihat merasa wajah mereka memerah. Semua diam sembari melirik Kara dan Elno yang tertawa bersama.
Delia berdeham. "Lihat sikon."
Kara terkesiap. "Oh, kita jadi makan siang bareng?" tanya Kara, mengalihkan perhatian.
Elno jadi salah tingkah. "Iya, ayo, kita berangkat sekarang."
"Doa terbaik untuk kalian," ucap Delia saat mobil telah menjauh dari pandangannya.
Elno mengajak Kara ke restoran Eastern Opulance . Sebelumnya Elno sudah memesan meja juga makanan kesukaan Kara. Mereka tiba tinggal duduk dan makan saja.
"Tumben sekali mengajakku ke restoran mahal ini," kata Kara.
"Beda dulu, beda sekarang. Dulu buat beli ayam goreng tepung saja susah. Sekarang aku diberi rezeki, apa yang kamu inginkan, sebisa mungkin aku berikan," sahut Elno.
__ADS_1
"Kamu tau jika tidak membutuhkannya."
"Kita rujuk, yuk, Kara," ucap Elno.
Kara terkesiap mendengarnya. "Rujuk?"
"Ingat saat aku pertama kali aku menyatakan perasaanku? Kamu adalah wanita satu-satunya yang akan menjadi pendampingku," ucap Elno sembari memandang Kara lekat, lalu melanjutkan perkataannya, "sekarang pun aku menginginkanmu untuk tetap menjadi pendampingku."
"Maaf, Elno. Aku belum memikirkan ke arah sana," tolak Kara secara halus.
Elno tetap tersenyum. "Aku tau, Kara. Di masa lalu aku menyakitimu. Aku pun mengerti ketakutanmu."
"Aku cuma tidak ingin mengulang kejadian yang lalu."
"Aku mengerti kamu takut mengulang pernikahan dengan orang yang sama. Tapi Kara, setiap insan bisa berubah menjadi lebih baik, kan?"
Mulut Kara membisu mendengar ucapan Elno. Setiap insan berhak mendapat satu kesempatan untuk kehidupan lebih baik. Namun, Kara tidak ingin menerima Elno begitu cepat. Seperti yang disarankan Delia. Ia ingin kembali berkenalan lagi pada sosok pria yang tengah menatapnya saat ini.
"Jangan salah paham, Elno. Aku ingin kita berteman dulu. Aku ingin kita saling mengenal lagi," ucap Kara.
Ada sedikit harapan dari kata-kata Kara. Senyum lebar tersungging di bibirnya. Ia mengangguk. "Itu artinya, kamu memberiku kesempatan untuk bersamamu, kan?"
"Iya, kita jalani dulu," jawab Kara.
__ADS_1
"Aku akan menjadikan diriku layak untukmu."
Bersambung