The Wife ( Istri Yang Teraniaya )

The Wife ( Istri Yang Teraniaya )
Menyusul


__ADS_3

Besok paginya, Kara dan Tedy sarapan bersama di restoran hotel. Semalam pria itu menepati janji dengan menjemput Kara di stasiun dan membawanya menginap di hotel yang sama. Tentu saja dengan kamar yang berbeda.


Dari semalam sampai pagi ini juga. Elno tiada henti menganggu Kara. Selalu saja ada telepon dari suami yang menanyakan keberadaannya. Kara jadi serbasalah dibuatnya dalam arti, Elno menginginkan dirinya terus di rumah. Mendengar dan melihat kemesraan antara ia dan Sari.


Kara cuma liburan membuang penat dan memberi waktu bagi Sari untuk membuat adik bagi Finola. Kurang baik apa Kara? Tapi kepergiannya malah disalahartikan. Tapi tidak masalah jika ingin bermain curang. Bermain bersama pria tampan rasanya bukan masalah. Kara sungguh memikirkan itu ketika melihat Tedy.


"Teleponmu terus bergetar," kata Tedy.


"Dari Elno. Dia tidak mengizinkanku liburan. Elno ingin mengurungku di rumah dan melihatnya bersama Sari. Tiga hari ke depan memang jatah wanita itu," ungkap Kara.


Tedy tertawa. "Kamu cemburu?"


"Kamu sudah tau apa maksudku. Aku masih tidak menerima dia bersama perempuan lain."


"Jangan pikirkan. Lebih baik kita jalan-jalan saja. Kamu mau ke mana?" tanya Tedy.


"Bagaimana kalau ke kampung korea dan rabbit town? Sore kita ke Cikole," kata Kara.


Tedy mengangguk. "Sambil menunggu wisatanya buka, kita pergi belanja."


"Belanja juga tidak boleh dilewatkan," kata Kara sembari menyeka bibirnya dengan lap mulut. "Tunggu di sini. Aku ke toilet sebentar."


Kara meninggalkan Tedy menuju toilet. Sayangnya ponsel yang bergetar tidak ia bawa bersamanya. Tedy meraih telepon genggam itu, lalu melihat nama Elno.


"Lihat betapa paniknya kamu ketika mendengar suaraku," kata Tedy dengan menggeser tanda warna hijau dan mendekatkan gawai itu ke telinga.


"Sayang! Kamu di mana?" tanya Elno.


Tedy tersenyum mendengar suara panik Elno. "Halo, Elno."


"Siapa?"


"Tidak kenal suaraku?" kata Tedy.


"Tedy!" bisa dipastikan wajah kaget dari Elno. "Kenapa kamu bisa bersamanya?"


"Kami memang liburan berdua," jawab Tedy.


"Di mana Kara?"


"Oh, dia lagi di kamar mandi. Sudah dulu, ya." Tedy langsung memutus sambungan telepon itu kemudian menonaktifkan ponsel Kara. Ia mencoba untuk tidak tertawa karena berhasil menjahili sahabatnya. "Pasti panik, nih, anak. Biarin, deh. Siapa suruh punya istri banyak."


Kara kembali dari toilet dan duduk di tempatnya semula. Ia meraih ponsel dan heran karena telepon genggamnya tiba-tiba saja mati.


"Baterainya habis, ya?" tanyanya.


"Aku yang nonaktifkan. Elno meneleponmu terus," kata Tedy.

__ADS_1


Kara kembali menghidupkan ponselnya. Tidak lama, rentetan pesan baru masuk dari Elno. Suami yang marah karena ia telah bersama Tedy.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Kara.


"Mengangkat telepon Elno."


"Bukankah tidak pantas mengangkat telepon pribadiku meski kita ini teman."


"Hanya sedikit memberi suamimu pelajaran," kata Tedy.


Kara menghela. "Yang ada menambah masalah. Sekarang dia marah padaku."


"Bagus, dong. Jadi, ini membuktikan kalau ia cinta sama kamu."


"Cinta dan kepemilikkan itu beda tipis. Entah Elno cemburu karena cinta atau karena aku ini adalah miliknya," ucap Kara.


"Karena cinta dan merasa kamu ini miliknya, maka Elno sangat cemburu pada pria lain."


"Lain kali jangan mencoba untuk mengangkat teleponku."


"Aku minta maaf. Aku hanya iseng," kata Tedy. "Kita berangkat sekarang?"


Kara mengangguk. "Ayo, kita berangkat sekarang."


Keduanya beranjak dari meja mereka kemudian keluar dari hotel menuju taman wisata. Kara dan Tedy menumpang taksi online untuk mengantar mereka ke tempat hiburan.


Di lain sisi Elno kesal karena menunggu Sari bersiap. Finola harus dititipkan dulu ke rumah orang tua Sari setelah itu barulah mereka berangkat menuju Bandung dengan menumpang kereta api.


"Kamu sudah pesan hotel?" tanya Sari.


"Belum," jawab Elno.


"Terus kita mau ke mana?"


"Cari Kara."


Sari berdecak, "Kara lagi. Sampai kapan pikiranmu itu bebas dari Kara. Istrimu itu sengaja pergi karena ingin menyediakan waktu untuk kita."


"Diamlah, Sari. Aku pusing mendengar celotehanmu yang tidak kunjung reda. Dari semalam selalu saja membahas adil dan tidak adil. Lama-lama aku muak padamu," kata Elno.


"Kalau tidak mau aku membahas hal itu. Perlakukan aku seperti Kara. Kamu mengambilku sebagi istri dan perlakukan istrimu dengan baik," ucap Sari.


Elno diam saja. Ia lebih baik tidur daripada berdebat masalah rumah tangga dengan Sari. Semalam ia tidak nyenyak tidur lantaran memikirkan Kara yang mengabaikannya. Berharap setelah membuka mata, maka ia telah sampai di Bandung.


Kereta tiba di stasiun. Elno dan Sari tiba di kota kembang dan keduanya langsung menumpang mobil taksi untuk mengantar mereka ke hotel. Elno masih belum mendapat kabar di mana istrinya menginap. Baik Kara dan Tedy sama-sama tidak membalas pesan atau panggilan telepon darinya.


"Kamu diam di kamar saja dulu. Aku mau cari Kara," ucap Elno setelah mereka mendapat kamar untuk menginap.

__ADS_1


"Kamu kira Bandung ini kecil. Mau cari di mana? Aku mau ikut bersamamu. Kita cari sama-sama saja," kata Sari.


"Diam di kamar!" ucap Elno dalam nada tinggi. "Aku kesal padamu sejak semalam. Jangan sampai aku marah, Sari!"


Elno berjalan keluar kamar dengan membanting pintu. Tidak peduli pintu itu rusak asal ia bisa menemukan Kara untuk dibawa pulang.


Sementara Kara dan Tedy telah berada di rabbit town. Keduanya asik berfoto bersama sebagai kenang-kenangan pernah berada di tempat itu. Elno masih terus menelepon dan kali ini Kara mengangkatnya.


"Kamu di mana?" tanya Elno dalam suara penuh marah.


"Aku di tempat wisata," jawab Kara.


"Aku ada di Bandung. Di mana posisimu?"


"Di rabbit town."


"Tunggu di situ. Aku akan menjemputmu," kata Elno kemudian memutus telepon.


Kara mendengkus karena suaminya. "Dia datang menyusul rupanya."


"Siapa?" tanya Tedy.


"Elno datang ke mari," jawab Kara.


"Jadi, kita enggak jadi ke Cikole, nih?"


"Elno mau datang kemari. Lagian sudah sore banget," ucap Kara.


Sebelum ke rabbit town, Kara dan Tedy sempat berbelanja dan ke kampung korea. Hari sudah terlalu sore untuk ke Cikole meski pemandangan lampu di malam hari sana sangat indah.


"Tunggu Elno di pintu masuk saja," ujar Tedy.


Kara mengangguk. "Sepertinya dia akan marah. Ini gara-gara kamu yang main angkat telepon saja."


"Enggak nyangka, sih, dia bakal nyusul."


"Kurasa dia memang ingin kemari menyusulku," sahut Kara.


Keduanya menunggu Elno di pintu masuk. Beberapa saat sebuah mobil hitam berhenti dan seorang pria keluar, lalu berjalan ke arah Kara dan Tedy.


Kara yang melihat Elno segera menghampiri suaminya. "Ayo, kita pulang."


"Keterlalulan kamu, Kara!" ucap Elno marah.


"Jangan buat keributan di sini."


"Lepasin enggak. Aku mau buat perhitungan dengannya," kata Elno.

__ADS_1


"Apa, sih? Ini enggak seperti yang kamu kira. Kita pulang sekarang," ucap Kara.


Bersambung


__ADS_2