The Wife ( Istri Yang Teraniaya )

The Wife ( Istri Yang Teraniaya )
Setimpal


__ADS_3

Sari berlutut memohon ampun agar Elno memaafkan kesalahannya. Ia khilaf, tidak sadar diri atas apa yang ia lakukan terhadapa Kara. Begitu mudah Sari melakukan hal gila dan dengan gampangnya wanita itu meminta maaf.


Tidak akan Elno memberi ampun atas kesalahan fatal yang Sari lakukan. Perbuatan itu sudah mengancam nyawa wanita yang paling Elno cintai. Bagaimana kalau sampai wajah Kara terluka saat itu? Bukan masalah Kara yang akan kehilangan kemulusan kulitnya. Elno tidak dapat membayangkan jika pecahan kaca itu sampai mengenai organ vital calon istrinya. Bagaimana jika sampai menggores mata atau bibir Kara? Membayangkannya saja Elno begitu takut. Ia tidak peduli, Sari harus di penjara atas kesalahan yang ia lakukan.


"Finola butuh aku, Elno," ucap Sari.


"Di mana pikiranmu saat melakukan perbuatan itu? Kamu pikir aku akan menyayangkan dirimu untuk bunuh diri?" Elno menggeleng. "Tidak akan, Sari! Kamu menghilang selamanya itu malah bagus."


"Kasihani aku. Finola membutuhkan ibunya."


"Finola tidak butuh ibu gila seperti dirimu. Kamu malah membuat kesempatan untuk Tedy. Selamat, sebentar lagi kamu akan kehilangan semua yang kamu miliki. Berbahagialah di rumahmu yang baru," ucap Elno, lalu melangkah pergi.


"Elnooo!" teriak Sari.


Sayangnya ia tidak dapat mengejar mantan suaminya. Sari sudah digiring masuk ke sel jeruji besi. Ia akan menghadapi sidang atas perbuatan yang berniat menghilangkan nyawa seseorang. Sementara Tedy, inilah kesempatannya untuk menggugat Sari atas hak asuh Finola.


"Sayang," tegur Elno. "Bagaimana keadaanmu? Kita ke rumah sakit lagi saja."


"Lukanya masih dibalut. Untung tidak terlalu dalam dan tidak perlu dijahit. Tapi aku sangat lelah memberi keterangan," jawab Kara.

__ADS_1


"Kita langsung pulang ke rumahku saja. Di sana ada bibi yang akan melayanimu. Besok pagi kita ke rumah sakit."


Kara mengiakan usulan Elno. Ia memang butuh bantuan seseorang. Meski luka tidak dalam, tetapi perih juga, dan dokter membalut lukanya sampai ke siku. Kara jadi kaku untuk menggerakkan tangan kanannya.


"Aku harus memesan baju pengantin berlengan panjang," ucap Kara ketika mereka telah berada di perjalanan.


"Apa akan berbekas?" tanya Elno.


Kara mengedikan bahu. "Kata dokter pasti ada bekas goresannya."


"Kita akan dokter kulit untuk menghilangkan bekasnya," sahut Elno.


Elno meraih tangan Kara, lalu mengecupnya. "Kamu akan jadi pengantin paling cantik nanti. Jadikan pembelajaran untuk hari ini. Jangan sekali kamu mendekat pada situasi seperti tadi siang. Jantungku hampir mau copot. Sari benar-benar nekat."


"Kalau wajahku yang terluka bagaimana?" tanya Kara.


"Wanita cantik itu banyak yang melebihi kamu. Buktinya aku, tuh, tetap pengennya sama kamu, Sayang," jawab Elno.


Kara mencebik. "Buktinya nikah sama Sari."

__ADS_1


"Jangan diingat, ih. Bikin enggak mood."


Kara tertawa, lalu merebahkan kepalanya di atas pundak Elno. "Janji enggak bakal diingatkan lagi."


Elno mencubit hidung mancung Kara. "Gemes, pengen bawa ke kamar jadinya."


"Enggak mau! Kamu harus nikahin aku dulu."


"Iya, aku sabar menunggu sampai waktunya tiba," ucap Elno.


"Tapi, Sayang. Bagaimana dengan Finola? Apa dia akan trauma?" tanya Kara yang mengingat putri Elno itu.


Elno mengembuskan napas panjang. "Pasti, Sayang. Semoga Tedy dapat mengatasinya. Bagusnya memang Finola bersama ayah kandungnya. Aku lihat istri Tedy juga sangat sayang pada Finola. Anak itu akan baik-baik saja dan Sari telah mendapatkan hukumannya. Biar dia rasa hidup di bui. Semoga dengan kejadian ini dia sadar."


"Hidup kita kayak drama, ya, Sayang. Aku benar-benar enggak terpikirkan Sari bisa senekat itu."


"Jangan bahas dia lagi. Pengen marah bawaannya," kata Elno.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2