The Wife ( Istri Yang Teraniaya )

The Wife ( Istri Yang Teraniaya )
Iri Lagi


__ADS_3

Baru jejak di halaman rumah, sudah mendengar Sari mengomel. Pertengkaran kembali terjadi dan Kara menjadi penontonnya. Sari terisak karena Elno lagi-lagi menghabiskan malam bersama istri pertama.


"Kamu bilang mau adil. Tapi apa buktinya?" ucap Sari.


"Aku mengunakan waktuku sehari untuk bersama Kara," jawab Elno.


"Kamu enggak adil sama aku. Kamu lebih suka Kara dibanding aku."


"Sudahlah, Sari. Baru saja pulang kamu sudah mengoceh tidak jelas. Masalah kecil saja harus kamu perdebatkan."


"Jelas itu. Semenjak Kara datang kamu selalu bersamanya," protes Sari.


"Nanti malam aku akan bersamamu!" ucap Elno akhirnya.


"Pokoknya harus empat malam. Harus sama seperti Kara," kata Sari.


Kara malas mendengar lagi perdebatan keduanya. Ia masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamar atas. Sementara Elno dan Sari masih terlibat adu mulut yang entah kapan habisnya.


"Minggir, Sari! Aku harus bersiap ke kantor," kata Elno.


"Aku benci padamu! Semalam kamu sudah mengakui Kara. Enggak mikir kamu. Kariermu baru saja naik."


"Terserah perusahaan mau memecatku. Aku tidak peduli," jawab Elno kemudian melangkah cepat menaiki anak tangga.


"Elno!" teriak Sari.


Semalam Sari tidak bisa membuat perhitungan pada suaminya. Ia tentu protes tentang apa yang terjadi tadi malam sebab Elno terang-terangan mengakui Kara. Memang itu acara bebas setelah pengangkatan jabatan. Tapi tetap saja mengkhawatirkan. Bisa saja saingan Elno di kantor menjadikan itu sebagai senjata untuk membuat nama Elno menjadi buruk.


"Pakaianku sudah siap? Aku harus ke kantor," kata Elno.


"Di atas tempat tidur. Air mandi juga sudah siap," ucap Kara.


"Oh, ya, Sayang. Hari ini kamu jangan pergi keluar. Tetap di rumah. Mungkin mobilmu hari ini datang," kata Elno sembari berjalan masuk kamar mandi.


"Pasti, tuh, Sari bakal ngomel lagi melihat mobil baruku," gumam Kara.


Selesai bersiap-siap Elno dan Sari berangkat ke tempat kerja mereka masing-masing. Hanya Kara, pengasuh dan Finola yang berada di rumah.


Kara pun tidak menyia-yiakan kesempatan untuk bermain bersama Finola yang lucu. Melihat bayi itu serasa ia ingin memiliki seorang anak kembali.


"Mama Finola siapa? Bibi atau Mama Sari?" tanya Kara.


Bibi pengasuh tertawa. "Dekatnya memang sama Tuan Elno dan saya, Nyonya."


"Dia juga enggak rewel. Pinter anaknya."

__ADS_1


Asik menimang Finola, klakson mobil terdengar. Kara menyerahkan Finola pada pengasuh, lalu bergegas ke depan rumah. Benar saja apa yang dikatakan Elno. Sebuah mobil baru warna merah telah sampai di rumahnya.


"Ibu Kara?" ucap pria pengantar mobil.


"Iya, saya sendiri."


"Ini mobilnya, Bu. Ini kunci serta dokumennya. Silakan kalau Ibu mau mencobanya dulu," kata pria itu.


"Tidak perlu. Nanti saja saya mencobanya. Biar saya tanda tangani bukti penerimaannya."


Kara membubuhkan coretan tangan di sebuah lembar surat penerimaan. Dua orang yang mengantar mobil kembali setelah itu. Kara mengusap warna mengkilap dari kendaraan roda empatnya. Tidak disangka Elno membelikan mobil baru.


"Kirim pesan ke Elno kalau mobilnya sudah datang," ucap Kara.


Kara memotret mobilnya, lalu mengirimkannya pada Elno. Satu balasan didapat dan suaminya mengatakan sebisa mungkin akan pulang cepat untuk mencoba kendaraan baru itu.


...****************...


Tidak terjadi apa-apa saat Elno berada di kantor. Teman sekantornya pun tidak ada yang bertanya mengenai kejadian semalam. Mungkin saja mereka bergunjing di belakang atau bisa saja karena takut sebab Elno sekarang adalah salah satu atasan mereka. Hanya hubungan bersama Ilmi saja menjadi renggang.


Pintu ruang diketuk. Elno mempersilakan orang di luar sana untuk masuk. Rupanya yang masuk adalah pria yang sama sekali tidak Elno harapkan. Tapi saat ini adalah jam kerja dan ia harus membedakan kerjaan dan urusan pribadi.


Ilmi menyerahkan beberapa dokumen dari divisinya untuk diperiksa oleh Elno. Ia mengangkat tangan melihat jam yang tersemat di pergelangan. Lima menit lagi adalah jam istirahat dan Ilmi bebas untuk bicara.


Lima menit berlalu, Elno menutup berkas dari yang ia baca. Keduanya saling menatap. Menunggu salah satu di antara mereka bicara.


"Kamu terlalu berani. Jangan jadikan pernikahanku lelucon. Kita bukan lagi anak SMA. Aku tau kita bertiga sempat saingan mendapatkan Kara waktu di sekolah," kata Elno.


"Kamu serius amat. Ya, enggak mungkin aku merebut istrimu."


"Sebaiknya begitu, Ilmi. Aku tidak ingin persahabatan kita hancur karena seorang wanita. Dari awal Kara milikku dan seterusnya akan begitu."


Ilmi tersenyum. "Iya, aku tau. Kamu itu cinta mati sama Kara."


"Aku akan melupakan kejadian semalam. Lebih baik kita makan di kantin. Biar aku traktir," ucap Elno.


Keduanya beranjak dari ruangan. Elno dan Ilmi bersama menuju kantin kantor yang berada di lantai bawah. Ilmi membiarkan Elno berjalan lebih dulu ketika teman yang lain ikut nimbrung bersama mereka.


"Bagaimana kalau Kara sendiri yang mengejarku?" ucap Ilmi, lalu terkekeh pelan. "Aku akan mengejarnya jika ia menjadi janda."


...****************...


Sari tidak bisa memasukkan kendaraannya ke dalam garasi saat mobil merah menghalanginya. Mengkilap baru, bahkan wajah Sari memantul di sana.


"Bagaimana mobilku?" tanya Kara tiba-tiba.

__ADS_1


Sari menoleh. "Mobil baru?"


"Bisa kamu lihat dari warna kilapnya," jawab Kara seraya berjalan menghampiri. "Aku kira Elno enggak jadi beliin aku mobil. Enggak nyangka malah dapat yang baru. Coba kamu fotoin aku." Kara mengulurkan ponselnya.


"Norak banget, sih. Mobilmu juga bukan yang mewah banget," kata Sari.


"Yang penting mobil baru. Mobilmu malah bekas."


Kara dapat bocoran dari Elno jika mobil yang dipakai Sari pembelian bekas yang baru beberapa bulan dipakai. Over kredit dari pengguna lama ke baru.


Sari tersentak. "Aku bisa, ya, beli mobil baru. Gajiku itu besar belum lagi hasil praktiknya."


"Kok, cuma bisa beli bekas. Ya, baru, sih. Karena baru dipakai beberapa bulan," ucap Kara. "Eh, kamu jangan beli mobil, deh. Beli rumah saja biar enggak numpang di rumahku."


"Kamu itu jahat banget jadi wanita," ucap Sari kesal.


"Memang aku jahat. Kamu mau mengadu lagi pada mertuamu? Adukan saja kalau bisa."


Sari melayangkan tas di kaca mobil saking kesalnya. Kara membelalak dan lekas mengusap kaca itu dengan baju yang ia kenakan.


"Apaan, sih. Kalau marah jangan lampiaskan ke mobil baruku," ucap Kara.


Mobil berhenti di depan rumah. Sama hal dengan Sari. Elno pun tidak bisa masuk ke halaman rumah karena mobil Kara menghalangi.


Elno keluar dan tersenyum melihat dua istrinya. "Suka mobilnya?" tanya Elno.


Kara bergegas menghampiri. "Suka banget."


"Kamu bilang enggak punya uang. Ini buktinya apa?" ucap Sari.


"Kara tidak punya kendaraan," jawab Elno.


"Kamu beliin Kara mobil baru, sedangkan aku bekas. Kamu itu enggak adil, Elno!"


"Yang penting sama-sama punya mobil."


"Aku enggak mau tau! Pokoknya aku minta mobil baru," ucap Sari.


"Sayang, Sari sudah punya Finola. Aku mau juga anak bayi. Aku mau keadilan. Malam ini tidur bersamaku. Kita harus sering bersama agar cepat punya anak," kata Kara.


"Kara! Kamu jangan serakah," kata Sari kesal.


"Enggak sadar diri. Justru kamu itu serakah," balas Kara.


"Astaga, berhenti bertengkar!" ucap Elno. "Kalian ini membuat kepalaku pusing."

__ADS_1


Elno lekas masuk meninggalkan keduanya. Untuk saat ini, ia benci yang namanya keadilan. Satu diberi dan satu iri. Sungguh merepotkan.


Bersambung


__ADS_2