
Air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya, jatuh juga. Kara tidak bisa membendung limpahan emosi yang ia rasakan. Terlalu menyakitkan, tetapi Handoko adalah ayah kandungnya. Hanya dia seorang yang Kara punya dalam hidup ini.
"Sudah sukses, baru aku ini dianggap anak," kata Kara.
"Bukan hanya kamu. Aku juga begitu. Sampai sekarang hubunganku bersama orang tua tidak begitu baik," sahut Elno. "Tapi dia keluarga kita, Sayang."
"Kita bisa hidup sendiri. Aku mandiri tanpa bantuan orang tuaku."
"Aku tau, Kara. Tapi mereka yang membuat kita ada di dunia ini. Aku tidak akan menyuruhmu melupakan segala perbuatan yang telah orang tua kita lakukan, tetapi aku ingin kita berdamai atas perlakukan mereka." Elno menepikan mobilnya di pinggir jalan. Ia membuka sabuk pengaman kemudian mencondongkan tubuh mendekati Kara. "Kita akan mulai hidup baru. Aku ingin semua orang yang mengenal kita memberi restu."
Kara mengangguk. "Aku akan coba berdamai dengan masa lalu."
"Jangan nangis lagi," ucap Elno seraya mengusap lelehan air mata di pipi Kara. "Kita ke rumah orang tuaku lagi."
"Kalau mereka enggak setuju sama aku bagaimana?"
__ADS_1
"Setuju atau enggak, aku tetap nikah sama kamu."
"Kamu bilang harus dapat restu dari semua orang," kata Kara.
"Ya, masa aku harus menduda karena enggak mendapat izin nikah sama kamu. Apa pun yang terjadi, kamu harus nikah sama aku," ucap Elno.
Perjalanan dilanjutkan ke rumah orang tua Elno. Kegugupan tengah melanda Kara saat ini. Sungguh ia tidak ingin mendapat penolakkan untuk ke sekian kalinya dari orang tua Elno. Ia telah mapan dengan mempunyai bisnis sendiri. Kara setara, bahkan melebihi Sari, menantu yang dulu orang tua Elno banggakan.
"Ayo, Sayang," ajak Elno ketika telah sampai di kediaman orang tuanya.
"Masuklah, Nak," ucap Hesti.
Wajar Hesti tampak bahagia akan kedatangan Elno dan Kara. Begitu juga Sanjaya yang tidak lagi memandang remeh Kara sebelah mata. Hesti, bahkan memeluk dan mengecup kedua pipi calon menantunya. Sungguh mengejutkan. Rupanya status bisa melunakan hati yang sekeras batu.
"Seperti yang telah Elno sampaikan sebelumnya. Elno berkeinginan untuk rujuk kembali bersama Kara. Elno masih sangat mencintainya dan ingin menikahi Kara kembali," tuturnya.
__ADS_1
"Kalau keinginan kalian begitu, Papa dan Mama setuju saja. Kalian sudah dewasa dan berhak meraih kebahagian kalian sendiri," sahut Sanjaya.
"Elno juga sudah menemui orang tua Kara. Beliau juga setuju atas keputusan kami. Tinggal Papa dan Mama melamar Kara di depan orang tuanya."
"Mama dan Papa akan segera berkunjung ke rumah Kara. Kita tinggal menentukan waktu untuk pertemuan keluarga. Lebih cepat lebih bagus," sahut Hesti.
"Bagaimana, Sayang? Sempatnya kapan buat acara pertemuan keluarga kita?" tanya Elno.
"Aku tanya ayah dulu," jawab Kara.
"Kalian sama-sama mencintai. Kami tidak akan menghalangi kebahagian kalian lagi. Kami minta maaf atas kesalahan di masa lalu," ucap Sanjaya.
"Yang lalu biarkan saja berlalu," sahut Kara yang malas untuk berdebat lagi. Ia akan berdamai dengan masa lalu mulai sekarang.
Elno tersenyum, lalu menggenggam tangan Kara. Ia juga maklum dengan tingkah orang tuanya yang berubah seketika, apalagi setelah mengetahui perubahan Kara tentunya. Siapa yang tidak ingin punya menantu kaya dan sukses seperti Kara? Terkenal lagi di media sosial.
__ADS_1
Bersambung