The Wife ( Istri Yang Teraniaya )

The Wife ( Istri Yang Teraniaya )
Semoga


__ADS_3

Seperti keinginan Kara yang menginginkan bayi kembar, Elno pun dengan senantiasa mendukung istrinya. Keduanya bertemu dokter untuk menjalani program kehamilan. Meluangkan waktu bersama lebih banyak di tengah kesibukan. Terlebih Elno yang masih mengurus pekerjaannya di Kalimantan.


Tidak terasa, usia pernikahan mereka memasuki tiga bulan. Selama rentang waktu sembilan puluh hari itu, belum ada pertengkaran hebat yang melanda. Keduanya seperti merasakan jatuh cinta untuk kedua kalinya.


"Bulan ini sudah lewat tanggal dari jadwal bulanan. Tapi aku enggak mau test," kata Kara.


"Test saja," sahut Elno.


"Bulan depan saja. Siapa tahu nanti malah muncul tanda merah."


"Aku berangkat kerja, ya. Kamu enggak mau diantar?" tanya Elno.


"Kayaknya aku malas buat ke kantor. Mau tidur saja."


"Kamu sakit, Sayang?" Elno menempelkan punggung tangannya ke kening Kara. "Enggak demam."


"Tapi aku capek buat kerja. Ngantuk, mau tidur."


"Minum obat paracetamol atau vitamin mau?" tanya Elno.


Kara menggeleng. "Antar aku ke kamar."


Elno mengangguk, mengiakan permintaan Kara. Ia mengantar sang istri ke kamar atas dulu. Tiba-tiba saja Kara tidak ingin datang ke kantor, padahal ia sudah mengenakan pakaian rapi.


"Ganti baju dulu. Mau pakai apa?" tanya Elno.

__ADS_1


"Daster saja."


Kara membuka celena panjang serta kemeja yang ia kenakan. Kemudian menggantinya dengan daster. Melihat tubuh polos Kara, malah Elno enggan untuk pergi bekerja.


Elno berdeham. "Sayang, main sebentar, yuk."


Kara menatap suaminya. "Aku enggak mau buka baju."


"Iya, bentar, kok. Aku juga malas mau buka pakaian lagi. Kamu rebahan saja."


Meski terlihat lemah, tapi Kara malah menginginkan sentuhan suaminya. Elno menaikkan daster Kara sampai ke batas leher, lalu mulai mengecup bagian-bagian yang ia suka.


"Nanti kamu telat, Sayang," ucap Kara.


"Iya, ini langsung masuk, kok," sahut Elno yang telah menurunkan celananya dan kain berenda Kara. Menggesek sebentar agar licin kemudian masuk menghunjam.


Tidak lama Elno keluar setelah merapikan diri. Ia menghampiri Kara kemudian mendaratkan kecupan di kening.


"Aku akan pulang jam makan siang nanti. Perlu dibawakan sesuatu?" tanya Elno.


Kara menggeleng. "Aku akan telepon nanti kalau mau."


"Oke, aku pergi. Telepon aku kalau kamu kurang enak badan."


Kara mengangguk, dan Elno melangkah keluar kamar. Kara menyempatkan diri dulu ke kamar mandi membasuh miliknya, lalu melanjutkan niatnya untuk tidur.

__ADS_1


Siang hari, Kara merasakan tubuhnya yang semakin lemah. Ia enggan untuk bangun juga makan.


Pintu kamar terbuka, Elno masuk melihat istrinya yang bergelung selimut tebal. Ia duduk di tepi ranjang, memeriksa keadaan Kara yang tidak sehat.


"Ke dokter, yuk," ajak Elno seraya mengusap rambut kepala Kara.


Kara bergumam, "Jangan ganggu. Aku mau tidur."


"Makan dulu, yuk. Kata bibi kamu belum makan."


"Enggak mau," kata Kara.


"Mau makan apa? Aku beliin."


Kara menurunkan selimut, lalu menatap Elno. "Mau yang pedas dan segar, tapi apa, ya?"


"Rujak?" tebak Elno.


"Aku enggak mau makan rujak. Makan soto terus minum teh es, enak kali, ya."


"Mau ikut enggak?"


"Aku di rumah saja," jawab Kara.


Elno segera pergi mencari makanan yang istrinya inginkan. Selain itu, Elno membeli beberapa test pack untuk Kara. Siapa tahu saja ada kabar baik yang akan ia dengar setelah ini. Semoga.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2