The Wife ( Istri Yang Teraniaya )

The Wife ( Istri Yang Teraniaya )
Titik Hitam


__ADS_3

Meski Elno mendesak agar Kara segera melakukan test, tetapi wanita itu tetap bersikeras dengan rencana awalnya. Kara akan test sendiri pada esok pagi ketika ia bangun tidur, dan moment itu pun sangat ia nantikan ketika satu buah test pack sudah berada dalam genangan air seni.


Menanti beberapa detik, garis merah itu mulai tampak. Kara tersenyum, kemudian menyelupkan test yang baru dan hasil dari itu adalah sama. Dua garis merah yang menandakan dirinya telah mengandung kembali.


"Kara, bagaimana hasilnya?" seru Elno dari luar kamar mandi.


"Masuklah," kata Kara.


Mendengar hal itu, Elno membuka pintu, lalu masuk menghampiri istrinya. Kara menunjukkan dua buah test dengan hasil yang sama.


"Hamil?" tanya Elno tidak percaya.


Kara mengangguk. "Iya, aku hamil."


Elno langsung memeluk, lalu mengecup seluruh wajah Kara. Ia mengucap syukur pada yang mahakuasa atas berkah yang diberikan.


"Akhirnya, tidak sia-sia usaha kita," ucap Elno.


"Kita harus periksa lagi. Aku mau pastikan lewat USG," kata Kara.


Elno mengiakan. "Aku telepon dulu rumah sakitnya."


Tanpa membuang waktu, Elno menelepon rumah sakit. Menanyakan dokter kandungan yang praktek kemudian mendaftar lebih dulu agar tidak terlalu lama mengantri.


"Jam delapan pagi kita harus sudah di sana," kata Elno.


"Aku langsung siap-siap saja," sahut Kara.


"Sepertinya kita harus pindah kamar, deh, Sayang. Kita pindah kamar di lantai bawah saja. Oh, ya, jangan pakai sepatu dengan tumit tinggi," ucap Elno mengingatkan.

__ADS_1


Kara tersenyum mendengarnya. Elno masih sama perhatiannya. "Iya, Sayang. Jangan khawatir."


Selesai bersiap-siap, Kara dan Elno segera menuju rumah sakit. Sesampainya di sana, mereka menunggu lagi karena masih terdapat empat orang di atas mereka.


"Sayang, aku haus," kata Kara.


"Tunggu sini, aku beli minum dulu."


"Minuman dingin. Teh juga boleh. Jangan lupa cemilannya," kata Kara.


"Iya, aku pergi dulu ke depan minimarket rumah sakit ini."


Apa pun itu, selagi Elno mendapatkannya, maka ia akan memberikannya kepada Kara. Dulu bukanlah sekarang. Untuk makanan yang mahal sekalipun, Elno bisa menyediakannya.


Tidak lama Elno datang dengan sekantong pesanan yang Kara inginkan. Minuman dingin lebih dulu Kara ambil karena tenggorokannya terasa kering.


"Keripik kentang," tawar Elno.


"Aku mau muntah, Elno," kata Kara.


"Sekarang?" tanya Elno.


Kara mengangguk. "Pasti kebanyakan minum, nih."


"Ayo, kita ke kamar mandi."


Keduanya beranjak menuju toilet. Di sana lagi-lagi Kara mengeluarkan makanan yang baru saja ia lahap. Elno mengusap punggung Kara, menyeka bibirnya yang belepotan.


"Kamu kumur-kumur dulu. Biar aku yang siram," kata Elno.

__ADS_1


Kara mengangguk dan Elno mengerjakan tugasnya. Kehamilan kedua ini sangat berbeda dari yang pertama. Elno menjadi iba karena istrinya tidak dapat makan banyak.


"Sudah, Sayang?" tanya Kara.


"Selesai Ayo, kita kembali. Siapa tahu sudah giliran kita."


Keduanya keluar dari kamar mandi. Benar saja, saat kembali, nama Kara dipanggil. Keduanya kemudian masuk ke ruang dokter. Kara berbaring di atas brankar pasien, dan dokter memeriksanya. Alat yang sudah dilapisi gel pendingin itu menyentuh perut rata Kara.


Baik Elno dan Kara sama-sama tersenyum ketika melihat titik hitam kecil yang menghuni dalam sana. Calon buah hati mereka telah tumbuh. Doa dan usaha mereka terkabul.


"Selamat, Tuan. Istri Anda hamil," ucap Dokter yang memakai jilbab.


"Terima kasih, Dokter," balas Elno.


Elno menggenggam tangan istrinya ketika Kara telah duduk di kursi sebelahnya. Kara tersenyum, raut wajahnya tampak bahagia. Kara kemudian menggeluhkan kondisinya saat ini dan dokter senantiasa mendengarkan serta memberi saran.


"Ini resep vitamin dan obat mualnya. Selalu jaga kesehatan dan makan biar pun sedikit, tetapi sering," ucap Dokter.


Kara mengangguk. "Terima kasih, Dokter."


Keduanya pamit undur diri menuju konter pengambilan obat. Elno berkali-kali mengecup hasil USG calon buah hatinya.


"Sayang, apa anak kita ini kembar?" tanya Elno.


Kara mengangkat bahu. "Belum bisa dideteksi. Kamu enggak dengar? Kata dokter tadi 8 sampai 13 minggu baru kita tahu."


"Enggak apa-apa. Mau satu atau dua, nyatanya sekarang kamu hamil. Makasih, ya, Sayang," ucap Elno.


"Aku bahagia banget. Di sini ada anak kita."

__ADS_1


"Kali ini dia tidak akan kekurangan. Aku akan melakukan yang terbaik," ucap Elno.


Bersambung


__ADS_2