The Wife ( Istri Yang Teraniaya )

The Wife ( Istri Yang Teraniaya )
Bertemu


__ADS_3

Delia ragu untuk menganggu wanita yang tengah fokus menatap layar laptop. Wanita dewasa, janda tanpa anak, tetapi mapan. Kara semakin cantik di usianya yang telah menginjak kepala tiga.


Rambutnya masih panjang sama seperti dulu. Kulitnya putih terawat dengan bentuk tubuh yang berlekuk. Menjanda bagi Kara bukan untuk mencari pasangan, tetapi malah semakin mempercantik diri.


Bisa dilihat dari kegiatan Kara. Ia rajin olahraga, merawat diri dan itu semata-mata bukan untuk cantik saja, tetapi Kara melakukan itu karena telah menjadi owner dari produk kecantikan.


Ia bekerja sama dengan seorang dokter kecantikan untuk membuat krim perawatan wajah. Kara juga punya pabrik untuk memproduksi kosmetik yang diberi nama Kares Beauty. Selain itu, Kara juga memproduksi pakaian dalaman khusus wanita serta baju dengan ia sendiri sebagai model. Ada juga ia meminta selebgram atau model lain untuk memberi kesan segar di mata pembeli.


Kara tetap tinggal di apartemen yang lama. Ia cuma sendiri, buat apa tinggal di tempat yang besar meski ia mampu membeli sebuah rumah. Kediaman lama serta mobil pemberian Elno sudah dijual untuk membeli gedung yang dijadikan sebagai pabrik kosmetik.


"Kara, pulang kerja kita jalan, yuk," ajak Delia.


Kara mengalihkan tatapannya dari layar laptop. "Tumben, biasanya kamu bimbang dengan anak."


"Oh, aku ingin membeli hadiah untuk kedua anakku." Delia tersenyum lebar. "Hari ini, kan, gajian. Aku mau kasih hadiah buat mereka."


"Semua gaji karyawan kita sudah masuk, kan?"


"Beres itu. Aku sudah suruh Sinta buat memastikannya. Barang juga sudah dikemas semua oleh anak buah kita."


Kara punya rumah dua tingkat yang ia jadikan kantor dan sebagai tempat mengemas barang. Untuk pakaian, ia bekerja sama dengan penjahit. Barang-barang yang telah jadi akan dibawa ke rumah itu untuk dikemas.

__ADS_1


"Boleh, deh. Kita jalan sebentar," kata Kara.


Delia tersenyum. "Aku balik kerja dulu kalau begitu."


...****************...


Keduanya sampai di mal. Delia langsung saja mengajak Kara ke toko penjual mainan. Selagi Delia memilih boneka untuk buah hatinya, perhatian Kara tertuju pada mainan bayi. Ia ingin sekali punya anak lagi. Tapi tidak ada pendamping di sisinya.


Kara tersenyum sembari memainkan kerincingan bayi. Tanpa sadar seseorang tengah memperhatikan dirinya dan ikut menyunggingkan senyum.


Elno berjalan mendekat. Kara masih saja belum sadar ketika ia telah berdiri di belakangnya. Wanita itu masih asik membelai beberapa mainan.


Ketika ingin menyapa, Elno merasa ragu. Ia melihat Delia yang terus melotot padanya seraya memberi isyarat untuk menegur.


"Hai, Kara," sapa Elno.


"Elno!" Kara kaget, "sejak kapan kamu di sini?"


"Tidak sengaja melihatmu. Tadinya aku kira salah orang. Rupanya itu benar kamu."


Kara mengangguk. "Oh, begitu."

__ADS_1


"Aku pergi, deh. Senang melihatmu," ucap Elno.


"Kenapa buru-buru?" tanya Kara.


"Sebenarnya aku ingin bersamamu. Tapi kamu jangan pergi."


Kara meletakkan mainan yang ia pegang. Ia mencari keberadaan Delia yang tengah membayar barang belanjaannya.


"Aku bersama Delia. Sepertinya dia sudah selesai belanja."


"Kamu ingin pergi?" tanya Elno.


"Kenapa tiba-tiba kembali? Ke mana kamu selama ini?"


"Aku bekerja," jawab Elno.


"Hai, Elno!" tegur Delia tiba-tiba. "Apa kabar? Makin ganteng lagi."


"Aku baik, Delia."


"Ada Elno, kita makan bareng, yuk. Sudah lama enggak ketemu. Sekalian kita cerita-cerita," ucap Delia.

__ADS_1


Kara menaikkan sebelah alisnya mendengar ucapan Delia. Namun, Delia sengaja tidak menanggapi itu dan malah meraih lengan Kara serta Elno agar berjalan bersamanya keluar dari toko mainan.


Bersambung


__ADS_2