The Wife ( Istri Yang Teraniaya )

The Wife ( Istri Yang Teraniaya )
Pergi Ke Bandung


__ADS_3

Sayangnya kebersamaan bersama Delia cuma sebentar. Kara melanjutkan acara jalan-jalan di mal saja. Ingin menghubungi Tedy takutnya pria itu sedang mengajar. Kara ingin lagi diajarkan mengendarai mobil sampai ia benar-benar bisa.


Tanpa Kara hubungi, Tedy telah memberi kode jika ia tengah bebas hari ini. Pria itu memasang sebuah status di media obrolan berwarna hijau. Kara langsung saja menelepon Tedy untuk menemaninya.


"Mau diajarin mengemudi lagi?" tanya Tedy.


Kara tertawa dari balik telepon. Tedy tahu saja keinginannya. "Iya, kamu lagi bebas, kan?"


"Sebenarnya hari ini aku mau ke Bandung. Sabtu dan Minggu libur. Aku mau liburan. Bagaimana kalau kamu ikut aku?" ajak Tedy.


"Seriusan kamu mau ajak aku?"


Giliran Tedy yang tertawa di sana. "Enggak serius. Takut sama Elno. Masa aku bawa istri dia."


"Tapi aku mau ikut," kata Kara.


Terdengar Tedy menghela napas panjang. "Jangan, deh. Aku enggak mau bikin masalah."


"Begini saja. Kita ketemuan di Bandung. Nanti kamu jemput aku di stasiun kereta atau kita bisa sama-sama berangkat bersama. Aku mau ke Bandung dan kamu juga. Lebih baik bersama," tutur Kara.


"Kok, kayaknya sama saja, ya. Kamu ikut aku juga akhirnya."


Kara tertawa. "Beda, dong. Kamu ke Bandung dan aku juga. Terus kita enggak sengaja ketemuan. Jelas beda tujuannya."


"Iya, deh. Terserah kamu saja. Tapi aku sudah pesan tiket. Ini mau berangkat. Kamu nyusul saja," kata Tedy.


"Aku pakai tiket kereta malam saja. Tapi jemput aku di stasiun, ya."


"Iya. Kamu kasih tau saja jam keberangkatan."


"Oke. Sampai ketemu di Bandung," ucap Kara kemudian memutus sambungan telepon.


Kara memesan tiket kereta secara online, lalu segera pulang untuk bersiap. Liburan ke Bandung merupakan ide bagus. Sudah lama Kara tidak ke sana menikmati suasana kota kembang.


Sampai di rumah, Kara langsung saja mengepak pakaiannya. Ia hanya membawa beberapa helai pakaian serta perlengkapan lain selama di sana. Kara juga memberitahu jam keberangkatannya pada Tedy.


Kara keluar dari kamar kemudian menuruni anak tangga satu per satu. Suara mobil terdengar dan tidak lama Sari muncul. Kara cuma menatapnya, lalu duduk di sofa ruang TV.


"Keluar juga akhirnya. Kukira kamu akan terus di kamar," ucap Sari.


Kara tidak menanggapinya. Matanya fokus menatap layar ponsel. Sari yang merasa diabaikan kembali bicara.


"Elno juga suamiku. Pantas saja kami melakukan hubungan suami istri. Sayangnya seorang istri lainnya malah datang menganggu," kata Sari.


Kara mengembuskan napas panjang. Ia menatap wajah Sari. "Aku minta maaf karena enggak sengaja menganggu. Kalian bisa mengulanginya untuk nanti malam. Aku janji kalian akan mendapatkan waktu yang luang. Sampai berkali-kali dalam semalam, aku tidak akan datang menganggu."

__ADS_1


Sari melipat tangan di perut. "Baguslah kamu sadar jika Elno bukan hanya milikmu seorang." Kemudian berjalan masuk kamar.


Tidak lama Elno pulang dari kantor. Sari yang mendengar suara mobil suaminya keluar dari kamar dan mengambil alih Finola dari tangan pengasuh. Ia pergi menyambut sang suami tercinta. Kara melihat pemandangan keluarga bahagia. Elno meraih Finola lebih dulu. Mengecup kedua pipinya baru beralih pada Sari.


"Gimana kerjaannya?" tanya Sari perhatian.


"Lancar, seperti biasa. Kalau kamu?" balas Elno.


"Ada pasien anak yang rewel. Giginya sakit, tetapi tidak ingin dicabut. Kami harus membujuknya."


"Kamu pegang Finola. Aku mau mandi dulu."


"Malam ini giliran Kara yang memasak, tapi dia terlihat santai saja. Aku enggak mau menegur. Takut dia marah," ucap Sari.


Padahal Kara mendengar apa yang Sari ucapkan. Jarak mereka tidaklah jauh. Bisa-bisanya sang madu menyindirnya. Memang Kara tidak memasak sebab ia ingin liburan.


"Kamu bawa Finola dulu," kata Elno dengan menyerahkan putrinya di tangan sang ibu.


Sari membawa Finola ke kamar, sedangkan Elno berjalan mendekat ke arah Kara. Ia membungkuk, mengecup pipi sang istri.


"Jangan khawatir. Aku sudah pesan makan malam untuk kalian," ucap Kara.


"Kita bisa makan di luar jika kamu enggan untuk memasak," kata Elno.


Pesanan makanan datang. Kara mengambil paket dari kurir setelah membayar. Ia menyiapkan dulu makanan itu sebelum berangkat. Kara juga sudah pesan taksi untuk mengantarnya ke sana.


Elno berjalan ke arah pintu luar ketika mendengar suara klakson mobil di depan rumahnya. Ia mengerutkan kening melihat seorang pria yang seumurannya di sana.


"Cari siapa?" tanya Elno.


"Pesanan dari Ibu Kara," jawab sopir itu.


"Saya di sini, Pak," sahut Kara yang muncul dengan membawa tas.


"Sayang, kamu mau ke mana?" tanya Elno.


"Aku mau liburan ke Bandung. Senin atau Minggu aku pulang."


"Kamu enggak bilang ke aku."


"Ini aku bilang. Sudah dulu. Kasihan sopir taksinya terlalu lama menunggu "


Kara berjalan ke luar halaman rumah dan Elno menyusul. Ia menahan lengan Kara untuk masuk mobil.


"Sayang, aku minta maaf karena kejadian semalam. Jangan pergi," ucap Elno.

__ADS_1


"Aku cuma liburan," kata Kara.


"Aku ikut," ucap Elno.


Kara melepas cengkeraman tangan Elno. "Hari ini aku bebas. Kamu juga bersama Sari. Jangan menganggu acara liburanku."


Kara masuk mobil, lalu menutup pintu. Elno mengedor jendela agar Kara mengurungkan niatnya untuk pergi ke Bandung.


"Kita bisa liburan bersama, Kara," ucap Elno.


Kara tidak memperdulikan suaminya. Ia menyuruh sopir untuk segera menjalankan mobil. Teriakan Elno sama sekali tidak ia hiraukan. Kara tetap dengan keputusannya pergi ke Bandung.


"Sialan!" umpat Elno. "Selama ini aku terlalu lembut padanya. Aku akan menyusulmu kalau begitu."


Elno masuk rumah mengambil ponsel di atas meja. Ia mencari tiket untuk ke Bandung malam ini juga.


"Keberangkatan pukul tujuh enggak keburu. Pesan pukul delapan malam saja," gumam Elno.


"Elno!" seru Sari.


"Aku mau ke Bandung," ucap Elno.


"Mau ngapain? Finola rewel. Kita harus bawa dia ke rumah sakit."


"Bukannya tadi dia baik-baik saja."


"Giginya mau tumbuh," ucap Sari.


"Kamu, kan, dokter gigi. Urus anak tumbuh gigi saja harus aku yang turun tangan. Alasan saja kamu. Malam ini aku mau ke Bandung," kata Elno.


"Kamu mau menyusul Kara? Bukannya bagus dia pergi. Kita bisa bersama selama dua hari ini. Kara juga bilang kalau dia tidak akan menganggu kita. Aku sudah lama tidak bersamamu, El. Tadi malam kamu belum melaksanakan kewajibanmu. Aku minta itu darimu sekarang!" kata Sari.


"Aku juga istrimu, Elno. Selama ini aku yang selalu ada untukmu. Kenapa kamu berubah setelah Kara datang? Aku tau dia segalanya bagimu, tapi pikirkan perasaanku juga, Elno. Kamu sudah janji akan memperlakukan kami dengan adil," ucap Sari menambahkan.


Elno menghela napas panjang. "Aku harus pergi ke Bandung, Sari. Aku tidak mungkin membiarkan istriku yang lain berada di luar sana."


"Dia pergi liburan bukan kabur dari rumah."


"Sebaiknya kita liburan juga. Kita pergi ke Bandung," kata Elno akhirnya untuk menghentikan perdebatan.


"Kita bisa berangkat besok. Aku akan bersiap," ucap Sari.


Elno menahan kekesalannya dalam hati. Gagal sudah untuk menyusul Kara malam ini. Istrinya akan sampai pada malam hari. Ini yang membuat Elno sangat khawatir padanya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2