Transmigrasi Mendadak Jadi Istri

Transmigrasi Mendadak Jadi Istri
Bab 23 Amarah Alenza


__ADS_3

STAKKKK


Annasya dan Alenza mengerjap lalu saling tatap,sedangkan Rio sudah pergi entah kemana.


"Annasya gue harus ngomong sama loe penting! " Alenza menatap Annasya tajam sampai Annasya pun susah untuk menelan air liurnya.


"Aku juga! " sahut Annasya.


"Kita pergi dari sini! " ajak Alenza lalu berdiri dan mulai berjalan, sedangkan Annasya berjalan mengikuti Alenza di belakangnya.


Tiba diperpustakaan yang sepi karena hari masih pagi, Annasya mengambil buku novel itu lalu meletakannya diatas meja.


"Nasya apa gue bicara loe gak pernah mendengarnya! " tiba-tiba saja Alenza memekik Annasya.


"Apa maksud loe?" Annasya menatap Alenza.


"Gue bilang jangan sampai Elmanno sadar kalau loe itu bukan Annasya yang sebenarnya dan membuat dia sadar juga sampai bisa merasakan alur dalam dan luar cerita!" Kembali Alenza meluapkan emosinya pada Annasya yang sudah dia tahan dari semalam.


"Gue gak tau kalau dia sudah sadar Za! Malahan dia mulai bersikap aneh dari semalam, gue gak tau kalau dia sudah sadar secepat itu! " bela Annasya.


"Loe sering ungkapin diri loe padanya saat di luar alur serita kan! Gue tau saat kejadian Elmanno sakit dada, sebenarnya dia sudah sadar Nasya! Apa loe tidak menyadarinya! " pekik Alenza dengan nafas memburu dan mematap Annasya tajam.


"Oke gue akui kalau gue pernah mengungkapkan identitas gue sendiri, dan asal loe tau gue melakukannya saat gue belum tau kalau pengakuan itu bakalan menjadi penghambat bagi gue untuk keluar dari dunia ini. Jadi jika gue tau yang sebenarnya gue juga gak bakalan kaya gitu, alasan gue ungkapin diri gue karena diri Annasya ini perlu keadilan Za! Gue yang pernah baca pun sakit hati dan sekarang gue yang ngalamin bayangin coba! Jadi gue nggak tahan kalau harus di siksan mulu!" ucap Annasya panjang lebar.


"Gue harus temui Elmanno! " Lirih Alenza lalu berdiri dan pergi dari sana.


"Za! Za! Alenza tunggu! " Annasya berlari mengejar Alenza.


"Apa?" Alenza terdiam lalu menoleh pada Annasya.

__ADS_1


"Za! Apa loe yakin dengan mengubah cerita bisa menghambat kita keluar dari dunia ini! Tapi loe tau dari mana? " tanya Annasya sedangkan Alenza segera menatap Annasya lekat.


"Nasya loe harus tau, Sebenarnya gue pernah menjadi tokoh utama, itu pengalaman gue! Pernah suatu ketika gue berada di posisi loe, gue ungkapin diri gue dan tokoh laki-laki itu juga sadar kalau dia berada didunia novel dan bisa membedakan antara dalam dan luar alur cerita, loe tau! Cerita berubah dan semakin mendekati pada akhir cerita begitu saja! Apakah itu gak aneh? Tentu aneh Nasya!" Alenza menatap Annasya lekat.


"Gue dulu gak ada orang yang bisa di ajak ngomong, gak kaya loe sekarang langsung bertemu dengan gue yang satu prekwensi!" Sambung Alenza.


"Oke gue paham, gue emang salah tapi apa pendapat loe sudah yakin? Mungkin saja Elmanno dan laki-laki yang menjadi pemeran utama di novel itu beda dunia gimana? " tanya Annasya.


"Apa maksud loe? " tanya Alenza.


"Elmanno dia tidak pernah bilang kalau dirinya merasakan hal aneh! Walau sebenarnya menurut gue sangat berbeda karakter sekarang saat didalam dan diluar alur cerita! Jujur gue pernah nanya sama dia, apakah dia sadar atau tidak saat sifat gue berubah tapi dia malah kebingungan! Kalau dia sadar dan dari dunia kita yang sama pasti dia juga bakalan cepat menyadarinya dan nggak segan untuk memberi tahu gue!" ucap Annasya.


"Mungkin saja pendapat loe salah, yang loe maksud bisa merubah takdir disaat pemeran laki-laki dan perempuan sadar kalau mereka berada didunia novel dan bukan berada di dunianya begitu! Dan apa loe yakin kalau pemeran laki-laki itu dari dunia asli novel? " tanya Annasya!


"Loe cepat tanggap mungkin! Dan loe harus tau, sebenarnya gue bisa keluar dari novel ini, asal gue gak merubah alur cerita gue hanya tidak ingin loe semakin menderita selain didalam alur cerita! Loe tau kisah akhir novel ini kan? " jawab Alenza, lalu berlari meninggalakan Anansya dengan bengongnya, sedangkan seseorang di balik rak buku yang dekat dengan Annasya terlihat bengong!


"Sayang! " Stepanie datang dengan jinjingan di tangannya dan bisa dipastikan kalau itu makanan.


"Hem! " Elmanno segera menutup layar leptopnya dan tersenyum manis pada Stepanie.


"Ayo kita makan aku laper nih! " ucap manja Stepanie.


"Nggak aku kenyang, kamu aja! " tolak Elmanno dan segera mengecek berkas yang berada di depannya.


"Oh ia bisa pinjam ponselmu? " tanya Elmanno menatap Stepanie yang tengah cemberut itu di sofa.


"Nggak sebelum kamu kesini dan makan bersamaku! " rajuk Stepanie.


"Iya sayang! " Elmanno pun menghampiri Stepanie di sofa lalu merangkul pinggangnya mengikis jarak diantara mereka.

__ADS_1


Stepanie terlihat membuka bingkisan makanan itu dan menyodorkannya pada Elmanno, "Makan dulu, jangan sampai telat makan loh nanti sakit lagi kaya kemarin! "


"Aku akan makan kalau kamu berikan ponselnya! " Ucap Elmanno meyodorkan telapak tangannya, sesaat Stepanie mersa bingung lalu tersenyum dan menggengam tangan Elmanno itu.


"Sayang maaf, ponselku ketinggalan dilokasi pemotretan! " Stepanie memperlihatkan sederetan giginya yang putih itu.


"Padahal aku ingin membuat kejutan pada mu lewat ponsel. itu! " sahut Elmanno. "Tapi benarkan kalau ponsel kamu ada di sana? Takutnya ada yang ngambil karena kamu ceroboh! "


"Tentu saja ada! Menejerku yang pegang jadi aman, yuk makan! Aaaaa, " Stelanie menyodorkon sendok berisi makanan itu ke mulut Elmanno dan Elmanno pun terpaksa memakannya, hingga suara notif dari ponselnya berbunyi.


"Pasti dari istri mukan? " tanya Stepanie cemberut.


Elmanno mengambil ponselnya di meja lalu membuka isi pesan itu lalu tersenyum kecut, itu adalah pesan dari sekertarisnya yang mengatakan kalau ponsel Stepanie tidak ada di kamarnya walau dia sudah mencarinya.


"Mustahil! " lirih Elmanno.


"Apa kamu tadi kerumahku? Padahal mamih ingin kamu kesana! " ucap Elmanno bohong.


"Tidak! Tadi aku sibuk mana mungkin kerumahmu aku kesini juga menyempatkan waktuku hanya ingin makan siang bersamamu, makanya sini temani aku El! " Stepanie menepuk sofa yang berada di sampingnya, Elmanno pun menurut dia menghampiri dan duduk disamping Stepanie.


"Hem, sebelum makan aku ingin ini boleh? " tanya Elmanno mengusap permukaan bibir Stepanie membuat Stepanie sendiri mengangguk.


"Lebih juga boleh! " ucap Stepanie tersenyum lalu naik kepangkuan Elmanno.


Elmanno mengusap pipi mulus putih milik Stepanie, mereka menyatukan bibir mereka. Elmanno tersenyum kecut dalam hati. "Hambar! " kata hati itu terucap.


Mereka melepas tautannya Stepanie tersenyum lalu mengecup pipi Elmanno seraya berkata" Ini adalah ciuman pertama kita, aku senang! "


Tentu saja itu adalah kontak fisik mereka untuk yang pertama kalinya, walau sudah menjalin hubungan yang lama karena Elmanno yang selalu ingin menjaga kehormatan wanita yang sangat disayangnya. Dia menginginkan ciuman itu bukan sekedar pengen tapi dia ingin memastikan hatinya yang dirasa ada yang berbeda akhir-akhir ini.

__ADS_1


__ADS_2