
Kini Elmanno menjadi protektif terhadap Annasya hal itu terkadang membuat Annasya sendiri di buat jengah, pasalnya dia baru merasakan di cintai laki-laki. Bahkan Elmanno pernah beberapa kali mengubah alur cerita agar Annasya tidak bersama dengan Bhadra, Alenza yang memperhatikan dunia novel yang semakin runyam berinisiatif untuk menemui Elmanno agar dia yidak mengubah alur cerita dengan sangat banyak.
Alenza hendak pergi dan disana ternyata ada Rio yang memanggil. "Alenza! "
Alenza menoleh lalu menatap Rio penuh penasaran karena sorot mata Rio yang mengisaratkan ketegasan, seperti ingin menyampaikan sesuatu.
"Apa! " sahut Alenza setelah Rio berada di hadapannya.
"Kita jalan-jalan yuk! " Ucap Rio kembali raut mukanya menjadi ceria.
"Gue kira loe mau bilang apa? Nggak gue ada urusan! " Alenza hendak pergi tapi tangannya dipegang Rio.
"Hari ini bersamaku ya! " Rio membujuk Alenza, tapi Alenza malah merasa aneh dengan sikaf Rio.
"Loe! " Alenza menatap tajam Rio sedangkan Rio hanya tersenyum.
"Kenapa, loe natap gue gitu! " Rio Mengernyitkan alisnua sebelah.
__ADS_1
"Ah itu hanya perasaan gue! " Alenza melepasakan tangannya dari Rio.
"Mudah-mudahan Rio gak sadar, itu juga mungkin hanya pemikiran gue saja! " ucap hati Alenza.
"Yuk!" Rio menyodorkan tangannya kepada Alenza.
"Gue gak bisa! " Annasya kembali berjalan.
"Feni! " teriak Rio membuat Alenza terdiam dan melototu berlark menghampiri Rio.
"Jangan urus masalah tokoh utama, cukup loe jadi diri sendiri dan jalani peran loe!" Rio berbisik berbarengan dengan air mata Alenza yang mengakir dipipinya.
"Tapi itu akan bermasalah juga bagi kita! " Alenza menghapus air matanya.
"Tidak! Hanya kita perlu mengikuti alur saja! Soal pengubahan alur cerita kita juga pernah mengalaminya jangan korban kan diri mu lagi, kini giriranku untuk membuatmu kembali." Rio mencubit pelan pipi Alenza sambil tersenyum.
"Kamu benar kita tidak akan bersama, aku tidak akan menyianyiakan lagi waktu ku! " Alenza melepaskan tangan Rio dari pipinya.
__ADS_1
Alenza berjalan dengan tertatih sedangkan Rio tersenyum dengan air matanya yang mengalir dikedua pipi dengan pandangan yang tidak putus memandang punggung Alenza yang semakin menjauh.
"Biarkan mereka seperri itu, masih ada rahasia di dalam dunia novel ini Feni! " lirih Rio, sedangkan Feni adalah nama Alenza sesungguhnya.
Alenza malah tidak jadi menemui Elmanno dia malah pergi ke sekolah tepatnya ke perpustakaan, Alenza menarik buku berwarna biru dengan judul derita istri kecil lalu kembali menarik buku berwarna merah dengan judul istri kedua.
"Dua novel yang berbeda, dan ternyata penulis yang sama! " sahut Alenza.
Alenza berjalan lalu duduk dibangku dengan dua buku novel, dibukanya kedua novel itu lalu tak lama suara petir begitu saja menggelagar membuat Alenza terperanjat kaget.
"Jangan samakan novel itu! " tiba-tiba saja suara Rio terdengar membuat Alenza menoleh ke arahnya.
"Semenjak kapan di sini? " ucap Alenza terbata, melihat Rio yang matanya berubah menjadi merah dia meras takut dan segera berdiri menghindari tatapan tajam Rio.
"Kembalikan mereka jangan membuakanya bersamaan! " Perintah Rio, Alenza pun menurut dan segera berlari meninggalkan Rio disana.
Alenza berlari dilorong sekolah ditemani suara petir dan kilatan cahaya itu menembus jendela, Alenza tau Rio marah karena dan hal itu bisa di artikan kalau sang pemilik dunia novel itu pun tengah marah. Rio adalah penghuni dunia novel begitu juga dengan Elmanno, dia akan merasa terancam kala dunianya menjadi berubah dan banyak hal buruk yang menimpanya tapi hal itu belum disadari oleh Elmanno.
__ADS_1