
Sarani menatap tajam kepada Ruslan dia masih kesal lantaran datang telat, tapi dia segera menepisnya mengingat disana ada keluarga Ruslan yang bela belain datang hanya ingin mengantar Ruslan.
"Bagaimana Nak?" tanya sang papih.
Sarani menoleh pada calon mertuanya itu lalu menunduk.
"Aku tidak bisa!" sahut Sarani dan membuat semua orang yang berada di sana terkejut terutama Ruslan.
"Kenapa, apa karena aku datang telat? apakah tidak ada toleransi?" ucap Ruslan.
"Sabar bro!" sahut sodaranya menepuk bahu Ruslan.
"Hah, tidak bisa menolak maksudnya!" Sarani membuat semua orang yang berada di sana cengo.
"Ponakan ipar ini ternyata suka bercanda!" ucap seorang perempuan dari keluarga Ruslan.
"Allhamdulilah kami hampir terkejut tadi! Terima kasih Nak sudah mau menerima anak saya!" ucap papih.
"Rasain kesel kesel dulu deh!" sentak Sarani dalam hati menatao tajam pada Ruslan.
"Udah jangan cemberut, di terima!" goda om Ruslan.
Ruslan menatap Sarani dan Sarani pun menatap Ruslan.
"Dan kami sudah merancang tanggal cantik untuk pernikahan anak kita Pak Ibu, semoga setuju. Kami menjatuhkannya pada tanggal tiga juni." ucap seseorang di samping papih Ruslan.
"Apakah itu tinggal tiga mingguan lagi?" tanya Sang ayah.
"Kurang lebih ia!" sahut papah.
"Bagaimana Yah?" tanya sang Ibu berbisik.
"Kalau kami siap aja, ada niatan baik ini!" sang ayah tersenyum.
Akhirnya semua menywtujui pernikahan Ruslan dan Saraninakan di gelar tiga minggi lagi. Setelah makan cemilan mereka semua pergi dan tidak sempat makan, hanya saja sang ibu memaksa untuk membawa makanannya.
"Maaf menu makanan kami terlalu kuno tapi semoga suka!" Ucap snag ibu.
"Terima kasih banyak kami menerimanya, maaf sudah merepotkan lain kali ibu dan bapak yang berkunjung ke rumah kami!" ucap perempuan paruhbaya yang menggendong Rio.
"Nanti kami berkunjung kesana, hati-hati di jalan!" Sahut sang Ayah.
Semua keluaraga Ruslan beserta Ruslan sendiri pergi dari rumah Sarani. Ayah, ibu dan Sarami pun masuk kerumah.
"Nak bawa kotak ini, ini milikmu!" sang ibu memberikan kotak perhiasan dan kunci mobil itu.
"Kok ada kunci mobilnya?" Tanya Sarani.
"Ia, katanya mobilnya akan datang nanti besok!" sahut sang ibu sedangkan Ayah sudah masuk kamar.
"Oh!" Sarani hanya ber oh ria lalu membawa kotak itu kekamarnya.
__ADS_1
Ruslan telah tiba di mension keluaraga besarnya di sana semua orang berkumpul.
"Lain kali kalau ada apa-apa bilang dari jauh jauh hari! Ini sudah memalukan jam sepuluh malam bertamu mana ada! Untung keluarga itu bisa memaklumi dan masih menampung kami di rumahnya!" sentak sang papah pada Ruslan.
"Udah lah Kak, anak mu ini mungkin dia lagi ngebet sama calon istrinya itu lagian dia kayaknya baik deh!" ucap perempuan yang sedari rumah Sarani menggendong Rio yang tengah tertidur.
"Malam-malam gini laper ya, baru datang lerut belum di isi nih!" Seorang laki-laki remaja mengusap perutnya.
"Ekh kita angetin makanan ini kayaknya enak tadi pas tersaji dirumah mertua Ruslan!" Sahut seseorang perempuan remaja itu.
"Aku panggilin dulu kepala pelayan jang!" sahut laki-laki remaja itu.
"Eh Ruslan kamu dapat wanita cantik itu dari mana?" tanya tante.
"Dari hati!" sahut Ruslan.
"Heh jawab yang bener!?Tante datang dari California hanya demi dirimu dan kamu bicara sesingkat itu!" Ucap snag tante dan semua orang yang berada di sana malah tertawa. Karwan memang Ruslan suka bertengkar dengan tantenya itu.
"Dari mana ya, pokonya liat dia itu di mimpi dan ternyata di kenyataan ada ya udah langsung aku gaet dia!" Ruslan menatap sang Tante.
"Kak, anakmu sudah tidak waras!" sahut sang tante pada paphnya Ruslan dan kembali mereka semua tertawa.
Sampai akhirnya Ruslan teringat akan satu orang sahabatnya, dia permisi undur diri untuk menelepon seseorang.
Di lain tempat Amelia kembali tenga menunaikan kewajibannya melayani sang suami.
"Duh Dam, kamu itu hiper bangat!" Amelia terlihat memejamkan kedua matanya samb mengigit bibir bagian bawahnya.
"Bibirmu jangan digigit biar aku saja yang menggigitnya!"
Suara ponsel Adam berbunyi.
"Dam ada yang telpon!" ucap Amelia.
"Bentar ini lagi manis manisnya di dalam!" sahut Adam.
Deringan telepon itu semakin menjadi dan membuat kesal Adam saja, tapi dia semoat menghiraukannya demi kenikmatan itu keluar sempurna dari dalam tubuhnya.
"Hah!" helaan nafas mereka memburu.
"Malam-malam gini nelpon siapa sih!" Adam merogoh ponselnya lalu berbaring di samping Amelia.
"Ruslan? Ngapain dia nelpon malam-malam!" Ucap Adam terkejut, dan dia pun segera meneleponnya balik.
"Adam, tidurmu nyenyak banget!" sentak Ruslan di balik sambungan telepon itu.
"Ini malam kamu nelpon bikin khawatir saja ada apa?" Tanya Adam.
"Nanti aja besok lah!" sahut Ruslan.
"Dasar kamu ganggu aja!" Kesal Adam.
__ADS_1
"Dam udah lepasin geli tau!" Tiba-tiba saja Amelia berteriak karena Adam memainkan miliknya terus.
"Dasar kamu! Nelpon aku lagi kikuk kikuk!" teriak Ruslan sampai Adam menjauhkan ponselnya.
"Biar kamu juga cepet nikah! Ini enak loh!" goda Adam.
"Sialan lo!" pekik Ruslan lalu menutup sambungan teleponnya sepihak.
"Hahahahah!" Adam ketawa dan itu membuat Amelia bingung.
"Kenapa?" tanya Amelia.
"Tidak aku hanya senang bisa ngerjain sahabatku itu, lagian ganggu aja lagi enak enaknya tadi!" jawab Adam lalu membuat tibuh Amelia membelakanginya lalu memeluknya.
"Mau ngapain!" Sentak Amelia
"Nggak kok, gak ngapa ngapain! Ini cuma masukin burung kedalam sangkarnya"
"Aw! Adam aku hitung ini udah ke sebelas kali loh emang kamu gak cape?" tanya Amelia dengan suara tertahan karena ulah Adam dibelakang sana.
"Mana aku cape ini adalah hobiku ke kamu sayang," Ucap Adam meremas sesuatu.
"Dam kamu itu selau membuat aku lunglai tau gak! ih bukan di sana Dam lebih atas lagi!" Racau Amelia tak tau bicara kemana.
"Akhirnya kamu juga menikmatinya malah nyuruh nyuruh, heh istriku ini suka jual mahal!" gumam Adam dalam hati.
Hingga pagi hari menjelang mereka masih melakikannya hingga Adam terlambat ke kantor.
"Sayang sore nanti kita pindah ke rumah kita!" sahut Adam sedangkan Amelia tengah membetukjan dasi suaminya itu.
"Iya!" Sahut Amelia.
"Kurang panjang jawabannya!" Ucap Adam.
"Iya suami ku sayang!" Ucap Amelia lalu memutar bola matanya malas.
"Matamu membuatku ingin melempar mu keranjang dan main lagi satu babak!" sentak Adam.
Cup
Amelia mengecup bibir Adam sekilas. Dan seketika Adam tidak marah lagi padanya.
"Kurang lama!" rengek Adam.
"Ini udah jam delapan mau ke kantor jam berapa udah telat!" sentak Amelia.
"Ada ikhsan dulu di sana, jadi kalau aku telat gak bakalan apa-apa!" Sahut Adam.
"Nggak kalau lama-lama nantinya makin lama, aku tau kamu itu, meraba kulit ku saja langsung nantinya melemparku ke ranjang. Udah sana berangkat!" titah Amelia.
"Iya, iya nanti aku pulang kamu yang diatas ya!" ucapan Adam membuat Amelia tersenyum dipaksakan.
__ADS_1
"Udah berangkat sana, hati-hati!" Amelia menyalami tangan Adam lalu mendorong tubuh Adam agar segera pergi.
Setelah kepergian Adam Amelia pun mengunci pintu lalu tidur dikamar.