
Alenza dan Annasya kini berada di perpustakaan, Annasya tak lepas memandang Alenza disampingnya yang tengah terdiam sambil membaca buku novel.
"Al apa loe sadar kalau kita sedang berada di dunia novel? " tanya Annasya.
"Mana ada dunia novel yang ada buku novel kali! " sahut Alenza.
"Bener-bener ada yang enggak beres! " Annasya beranjak dari sana.
"Nasya mau kemana? " tanya Alenza.
"Sebentar ke toilet! " jawab Annasya.
Annasya berjalan di lorong sekolah bukan untuk ke toilet karena itu hanya alasan dia kini berlari menuju kelas berharap bertemu dengan Rio, dia penasaran dengan tingkah Alenza yang berubah saat berada di luar cerita.
__ADS_1
Annasya sampai di kelas dan menemukan Rio tengah menunduk di mejanya dia pum menghampirinya seraya berkata, "Rio ada hal yang aku harus bicarakan sama Loe! "
"Alenza berubah kan? " Rio terbangun lalu menatap Annasya dengan sendi.
"Bisa seperti itu kenapa? " Tanya Annasya.
"Dia dibunuh oleh Alenza Granita saat berada di luar alur cerita, jadi dia tidak bisa mengingat kalau dirinya berada di dunia novel, dia akan terus hidup dengan sekenario penulis novel ini Sya?!" Rio dengan muka sedihnya, hal itu membuat rasa iba muncul dari diri Annasya.
"Alenza Granita? Siapa dia? " Tanya Annasya.
"Tidak ada kemungkinan kak jika Alenza bisa kembali inagtannya, bagaimana kalau kita berusaha untuk hal itu! " Annasya mencoba mencari jalan keluar.
"Tidak! Alenza Granita akan selalu memantau gerak gerik kita!" Rio berdiri dan berhadapan dengan Annasya.
__ADS_1
"Jalani aja sekenario ini! Ribet amat! Tau bakalan ada resikonya malah tetap melanggar aturan!" Tiba-tiba suara Bhadra menggema di kelas itu, kebetulan di sana cuma ada mereka bertiga saja.
"Itu memang adil bagimu, tapi kau tidak akan mengerti dengan apa yang gue rasakan! " Pekik Rio tertahan.
"Terus mau bagaimana lagi! Alenza telah melupakan semua hal indah bersama loe kan, solusinya tidak memungkinkan jadi apa yang diharapkan selain ikuti alur dan kami terbebas dari dunia ini, dan loe juga bakalan lupa kan sama Alenza kalau novel ini udah tamat! " Bhadra Melempar tasnya ke bangku Rio terlihat marah dan menggengam tangannya semakin erat.
"Rio! " Annasya menggenggam tangan Rio, memberi isarat agar Rio tidak membalas apa pun tentang perkataan Bhadra.
"Bhad! Itu semua sangat mudah bagi loe, bisa ngomong dengan entengnya seperti itu coba jika hal itu ada di benak loe! Di lupakan oleh seseorang yang loe cintai, kalimat pendek yang bisa menguras air mata dan rasa sakit hati yang bisa berlarut hingga lamanya! Walaupun tidak memungkinkan untuk kembali mengingat, setidaknya loe bisa hargai perasaan Rio dengan tidak bicara seperti itu! " sentak Annasya pada Bhadra lalu melirik Rio sekejap yang tengah menggratakan giginya menahan amarah.
Rio takut tidak menahan amarahnya, dia pun langsung keluar dari kelas dengan kekesalannya. Sedangkan Bhadra kini mulai mendekati Annasya mungkin dia akan menjelaskan sesuatu tentang kalimat yang di lontarkannya tadi.
"Nasya, " panggil Bhadra lembut.
__ADS_1
"Gue kira kita bisa melewati ini bersama, ternyata loe egois! " Pekik Annasya dan berlalu meninggalakan Bhadra sendiri di kelas.
Bhadra kini terlihat menyesal dia mengepalkan tangannya.