
Dua mobil terlihat saling mengejar dijalanan yang ramai, Stepanie terlihat geram karena selalu hampir terkejar dengan mobil Alenza.
"Bep tukeran!" ucap laki-laki dibelakang sambil sibuk mengikat kedua tangan Annasya, lalu membungkam mulutnya dengan perban hitam.
"Cepetan! " pekik Stepanie.
Laki-laki itu segera menuju kursi kemudi setelah selesai mengikat dan membungkam Annasya, dan Stepanie pun beranjak dari sana dan duduk di pinggir kemudi. Mobil Stepanie kini melaju sangat cepat hingga supir Alenza kehilangan jejak.
"Non kita kehilangan jejak! " ucap supir itu.
Alenza yang mendengar ucapan sang supir segera mengetikan sesuatu di ponselnya.
"Sial! kenapa ponsel Nasya tidak terlacak! " geram Alenza.
Sedangkan Bhadra kini berada dibelakang mobil Stepanie dia begitu fokus mengejar, hingga lampu merah memisahkan jarak mereka dan hal itu membuat Bhadra tersulut Emosi.
"Argghhhhh! " Bhadra mencengkram kuat stang motornya.
__ADS_1
Stepanie dan laki-laki yang mengemudi itu tertawa kemenagan lalu, Stepanie memeluk laki-laki itu.
"Kamu memang hebat! " Puji Stepanie.
"Tapi mau digimanakan dia? " Laki-laki itu melirik Annasya sebentar.
"Bawa ke apartemen ku, ada hal yang harus aku beri tau padanya! " sahut Stepanie dan melirik sinis Annasya.
"Baiklah Bep! " laki-laki itu menginjak pedal gas nya menuju apartemen Stepanie.
Beberapa menit berlalu kini mereka sudah tiba diapartemen, laki-laki itu membanting tubuh Annasya ke sofa dengan keras sehingga Annasya memekik sakit tertahan. Stepanie membuka perban di mulut Annasya dengan kasar.
"Asal loe harus nurutin apa kata gue! " sahut Stepanie dengan nada juteknya.
"Gue memaksa loe untuk nemuin gue, loe tau kan apa? " sambung Stepanie menarik dagu Annasya dengan telunjuknya.
"Gue gak bisa melepaskan Elmanno! " pekik Annasya.
__ADS_1
PLLAKKKK
Tamparan Stepanie mendarat dengan mulus di pipi putih yang kini memerah ulah Stepanie itu. Sedangkan Annasya hanya tertunduk sambil menahan sakit dipipi serta mulai mengeluarkan air matanya.
"Apa hak loe merebut Elmanno dari gue! " teriak Stepanie lalu mendorong dahi Annasya dengan telunjuknya.
"Dia suami gue! " lirih Annasya tapi masih terdengar oleh Stepanie.
"Hahahah suami? Bahkan dia tidak menganggap loe sebagai istrinya, so soan loe anak bau kencur! Elmanno sedari awal milik gue, kami saling mencintai tapi gara-gara ada loe kami harus berpisah dan sembunyi-sembunyi jika akan bertemu. Kamu itu bagaikan hama yang harus dibasmi dalam hubungan cinta gue sama Elmanno! " teriakan Stpanie menggema disetiap sudut apartemennya. Sedangakan laki-laki itu hanya tersenyum kecut, sambil memperhatikan dua wanita yang sedang bertengkar dihadapannya.
"Coba kamu rasakan bagaimana berada di posisi gue! Perbuatan gue ke loe ini gak ada apa-apanya!" Strepanie mencengkram keras rahang Annasya, sedangkan Annasya hanya diam saja padahal hatinya ingin sekali membalas perlakuan kasar Stepanie.
Annasya beberapa kali mencoba untuk menggerakan tangannya tapi nihil tidak bisa. Tangis Annasya itu bukan hanya tangis dalam drama novel itu tapi tangis karena tidak bisa membela diri sendiri pun ikut menemani tangisan itu.
"Seumur hidup gue baru kali ini dibentak dan diperlakukan kasar sama orang! Bahkan perlakuan itu bukan untuk gue tapi gue harus merasaknnya untuk tubuh si Annasya ini, gue tidak terima! " geram hati Annasya.
"Kenapa loe, tadi berani sekali ngelawan ucapan gue kenapa sekarang diam aja ayo lawan! Lembek!" bisik Stepanie tepat di depan telinga Annasya dengan penuh penekanan.
__ADS_1
Annasya hanya mengepalkan tangan dan terus menunduk di kursi sofa itu, air matanya sangat deras mengalir dipipinya hingga sesaat Annasya bisa merasakan jari telunjuknya bisa digerakan sendiri.
"Stepanie! "