
Dihari pernikahan pun telah tiba, sebuah gedung yang luas yang di sulap seperti suasana ruang angkasa. Bintang berhamburan, matahari yang tepat berada di tengah ruangan itu dikelilingi delapan planet kumplit dengnan komet bahkan rasi bintang pun ada di sana. Bulan menjadi saksi plaminan pernikahan Sarani dan Ruslan. Layaknya seperti tengah menjelajahi luar angkasa padahal hanya rekayasa WO hebat dan ide yang luar biasa.
"Terasa seperti malam hari kan!" seru Ruslan, dia telah lengkap dengan jas putihnya begitu juga Sarani gaun putih yang melekat di tubuhnya begitu anggun dan indah, serta hiasan di kepala membuat siapa saja yang memandang Sarani akan di buat takjub.
Bukan hanya pengantin yang memakai serba putih tapi para tamu undangan pun memakai pakaiana warna putih. Sarani merasa puas dengaan dekorasi tersebut.
Di luar memang siang hari tapi kalau memasuki gedung pernikahan Ruslan dan Sarani kini seperti tengah malam.
"Bukan kah ideku sangat menakjubkan?" kembali suara Ruslan menggema di telinga Sarani.
"Itu ideku!" sahut Sarani.
Kini acara akan di mulai semua tamu duduk dengan khidmat, menyanbut acara yang sakral itu.
"Ruslan Prasetya saya nikahkan engkau dengan anak saya Sarani Nabiha dengan maskawin tersebut tunai!" ucap ayahnya Sarani.
"Saya terima nikah dan kawinnya Sarani Nabiha binti Yanto Pratman dengan maskawin tersebut dibayar kontan!" ucap Ruslan denhna snagat tegas dan kantang membuatvsemua yang berada di sana tersenyum.
"Bagaimana para saksi?" tanya sang penghulu.
"SAH!" ucap mereka bersamaan.
"Allhamdulilah!" Semua orang yang berada di sana mengucap syukur sambil mengusapkan tangannya pada wajah.
Setelah acara ijab qobul dan tanda tangan berkas semua tengah bersiap untuk foto-foto keluarga serta kerabat. Tidak lama karena acara yang meriah akan diadakan nanti malam di pantai yang tidak jauh letaknya dengan gedung pernikahan itu.
"Mamih aku senang seklai hari ini, karena mulai detik ini mamih akan selalu bersama Rio kan siang mau pun malam!" ucap Rio, Sarani tersenyum menanggapi lalu menggendong Rio.
"Mamih juga seneng Rio bakalan selalu ada buat mamih kan?" Sarank sambil mengelus pipi tembeb Rio.
"Mih , papih juga mau dong di peluk kaya Rio!" ucap Ruslan.
"Nggak ini mamih Rio!" sahut Rio sambil mengenggam tangan Sarani.
"Mamih berdua lah!" Ruslan memeluk Sarani yang tengah menggendong Rio.
"Apa yang kalian lakukan! Rio apa kamu sudah makan?" Tanya Sarani.
__ADS_1
"Udah Mih tadi disuapin sus, pakai kue mars!" sahut Rio Bukan hanya demorasinya saja yang bertema tata surya melainkan makanannya juga.
"Mah aku tadi makan kue mars banyak sekali, liat sampai perutku saja membesar kaya gini!" Rio mengelus perutnya yang buncit.
"Hhaha kamu ini!" Sarani tertawa.
Untuk menunggu resepsi nanti malam selain pengantin keluarga besar serta krabat pun di sediakan satu hotel mewah untuk di tempati. Seperti Amelia dan Adam kini mereka tengah berada di kasur.
"Sayang sehat-sehat di sana ya papih mu ini akan senantiasa selalu menjaga kalian!" Ucap Adam seraya mengelus perut Amelia yang masih rata itu.
Setelah tragedi di lestoran itu, Adam segera membawa Amelia kerumah sakit dan setekah di cek Amelia ternyata tengah mengandung buah hatinya.
Amelia menitihkan air matanya dia merasa terharu dengan sikap Adam selama pernikahannya itu tidak menyangka kalau Adam akan mencintai dan menyayanginya seperti itu, padahal pertemuan mereka yang baru singkat dan tidak di sengaja.
Adam yang mendengar Amelia sesegukan segera menoleh.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Adam laku menghapus air matanya.
"Aku tidak menyangka orang yang aku tabrak dulu saat aku pulang mendekorasi, kini menjadi suami ku yang sayang padaku. Awalnya aku ragu maafkan aku. Tapi kamu seakan membuktikan kalau aku tidak layak untuk meragukan kasih sayangmu itu sampai benihmu tumbuh sekarang di rahimku.
"Itu lah takdir, padahal aku akan menikah tapi Allah meperlihatkan kebejatan calon istriku dulu dan menggantinya dengan yang sangat lebih baik dan cantik. Aku sangat bersyukur bahkan kamu lebih menghargaiku walau pun baru di kenal tapi kita sudah bersetatus suami istri, kamu yang kesal padaku meski begitu kamu tetap memenuhi kewajibanmu untuk menghormati sumimu ini. Dan aku juga bertambah berlipat lipat cinta dan sayangku padamu setiap harinya." Adam memeluk erat tubuh polos Amelia.
"Sehari sekali pun apa gak bisa?" tanya Adam.
"Nanti kita konsul lagi!" ucap Amelia mengelus puncak kepala Adam.
"Adam kapan kita akan memberitahu orang tua kita?" tanya Amelia.
"Mereka baru aku kirim pesan tadi, memberi tahunya!" sahut Adam.
Ting tong ting tong
Suara bel yang terus di tekan membuat Amelia serta Adam segera mengenakan baju mereka. Adam berjalan menuju pintu lalu membukanya.
"Mana Amelia!" baru saja pintu di buka Merry dan Susan segera mencari keberadaan Amelia, dan begitu saja menerobos masuk.
"Orang tua gak sabaran!" gumam Adam.
__ADS_1
"Kau hebat sayang!" Tiba-tiba Denis memluk Adam. Dan membuat Adam sesak di buat nya begitu juga dengan indra dia memeluk Adam.
"Kau telah membuat kami bahagia!" ucap Indra.
"Papah papah sekalian ini aku sesak loh di peluk berdua kaya gini!" ucap Adam.
"Lihat Ndra anaku jantan nikah baru sebulan udah menghasilkan!" Bangga Denis.
"Anakku juga hebat langsung bisa menumbuhkan benih di ladangnya!" sahut Indra.
"Bisa kalian melepaskanku, aku memang yang paling hebat bahkan di rahim istri ku itu ada dua benih yang tertanam dirahimnya!" ucap Adam membuat Indra dan Denis makin mengeratkan pelukan mereka.
"Kita bakalan jadi kakek bro!" ucap Denis.
"Tentu saja men!" sahut Indre.
"Uhuk, uhuk!" mengabaikan calon papih itu yang tengah menahan sesak karena di peluk dua orang.
Sedangkan kini Amelia hanya terdiam saat perutnya terus di elus elus oleh mertua dan ibunya itu.
"Mih udah ya!" ucap Amelia karena mereka lama mengelus perut Amelia dan berbincang.
"Nak akhirnya kamu bisa membuatkan cucu untuku, aku gak sabar nanti menggendong dia, ngajak main dia lergi belanja bareng kumpul-kumpul sama ibu arisan uh membayangkannya membuatku bahagia berkali lipat!" racau Merry membuat Susan mengerucutkan bibirnya.
"Hei emang itu cucumu saja, dia juga cucuku aku juga berhak mengajak dia jalan-jalan menimbangnnya, mengurusnya juga!" sahut Susan menatap Merry.
"Mendingan kalian duduk dulu, dan doain agar aku dan bayi bayiku ini sehat sampai melahirkan!" Amelia sudah sangat risi dikerubunginmamih dan mertuanya itu yang sangat antusias
"Bayi bayi?" tanya Susan dan Merry bersamaan.
"Iya didalam perutku ada dua malaikat kecil," jawab Amelia.
"Kembar?" kembali Susan dan Merry bersamaan.
"Iya!" sahut Amelia.
"Susan kita bisa bareng mengajaknya dan menggendongnya jalan-jalan!" merry berbinar.
__ADS_1
"Merry kita bisa ajak mereka untuk bermain di mall. Membayangkannya saja membuat ku bahagia!" Susan memeluk perut Amelia begitu pun Merry.
Sedangkan Amelia dibuat jengah, dia memutar bola matanya malas. Mereka tidak memikirkan orang tua calon cucunya itu yang kini terlihat tersiksa dengan sikap bahagia dari dua pasang paruh baya yang terlewati senang akan kabar kehamilan Amelia.