
Di sebuah apartemen terlihat Stepanie dan Sahara tengah duduk sambil beradu mulut, terdengar dari percakapan keduanya yang keras serta tatapan tajam mereka terlihat sedang berkelahi.
"Kenapa kamu lengah sekali! Kau membuat Naraya menjadi sakit dan sampai sekarang dia tidak sadarkan diri! " pekik Sahara.
"Tante jangan salahkan aku, itu semua ulah Nasya kenapa tante jadi menyalahkan aku?" Pekik Stepanie tidak kalah keras.
"Kalau kamu tidak memberi ide untuk meracuni Nasya maka Naraya tidak akan sakit sekarang! Dan kamu ceroboh sekali bisa gak terlihat saat si Nasya menukarkan gelas itu padahal gelas itu ada dihadapanmu! Apa memang kamu berniat jahat pada kami? " Sahara berdiri sambil menunjuk muka Stepanie.
"Mana aku bisa tau tante gelas itu begitu saja sudah terhidang!" Stepanie pun berdiri.
"Apa kau lupa kalau kamu sendiri yang menuangkan racun itu pada minuman Nasya saat didapur! Dan asal kamu tau Nasya tidak tau kalau minuman itu ada racunnya, jadi bisa saja itu akal-akal kamu karena ingin melenyapkan anak sulung aku tentu saja karena popularitasmu ada padanya, dan kau takut kalau Naraya akan membocorkan! " Sahara mengambil tas hendak pergi.
"Apa maksud tante? Mana mungkin aku berbuat begitu aku sangat mencintai Elmanno dan mana mungkin aku meracuni kakaknya sendiri! Coba pikir tante! Tante mengenalku udah lama mana bisa kan kalau aku berbuat seperti itu? " Stepanie kini melemahkan ucapannya agar Sahara juga luluh.
"Chat terakhir Naraya sama kamu membuktikan, kalau kamu ketauan bercumbu dengan rekan kerjamu yang beristri itu bahkan kamu sempat mengelak tapi saat foto bukti itu Naraya kirim kamu baru mengakuinya! " Sahara menyahuti samabil menoleh ke arah Stepanie.
"Dengar tante, aku memang melakukannya tapi itu cuma plampiasan. Wanita mana yang tidak sakit hati saat kekasih yang paling dicintainya menikah dengan wanita lain? Terserah tante mau menuduhku tapi yang terpenting aku tidak berniat membuat Naraya terluka sedikitpun, karena akan percuma walau pun kebenaran itu selalu keluar dari mulutku sampai berbusa pun kalau tante berpikir tetap aku yang salah maka akan seperti itu! " Jelas Stepanie.
"Karena sudah pasti seperti itu! " ucap Sahara penuh penekanan, membuat Stepanie menghembuskan nafas panjangnya.
"Ingat tante aku akan terus mengejar Elmanno dan dia harus menjadi miliku! " saat Sahara hendak pergi Stepanie berteriak membuat Sahara terdiam kembali.
"Tidak tau malu! " setelah berucap demikian Sahara segera keluar dari apartemen milik Stepanie.
Stepanie mengepalkan kedua tangannya dia semakin membenci Annasya dalam hatinya, air matanya menggenang di pelupuk bersiap untuk bertumpah.
"Awas aja kau Nasya! " gumamnya penuh penekanan lalu berlari keluar apartemen.
Lain disekolahan dan masih di dalam alur cerita, Annasya dan Alenza terlihat tengah berjalan beriringan dengan tasnya masing-masing mereka tengah berjalan untuk meninggalakn sekolahan karena waktu pulang sudah beberpa menit terlewati.
"Nasya apa loe tidak ada hati sediki pun pada Bhadra? Dia terlihat sangat mencintai loe deh! " ucap Alenza dan Annasya hanya tersenyum.
"loe emang sudah teracuni om-om! " mendengar Alenza berkata Annasya segera membungkam mulut Alenza.
__ADS_1
"Jangan kenceng-kenceng nanti ada yang salah paham dikira gue cewek apaan gaul sama om om," bisik Annasya lalu melepaskan tangannya pada mulut Alenza.
"Kenyataan kali! " sindir Alenza.
"Loe tau Bhadra itu memang baik tapi loe juga tau kalau gue udah merridkan! Dan tentunya gue gak bisa melepaskannya begitu saja, gue sebenarnya menyukai Elmanno." lirih Annasya.
"Hah, sekarang gue tau kalau si Elmanno itu mulai mengisi hati loe! Berarti loe sama sekali tidak ada rasa sama Bhadra. Kasian dia! " ucap Alenza.
Annasya dan Alenza sudah ada di luar gerbang sekolah, dan terlihat jemputan Alenza sudah tiba.
"Nasya loe nebeng gue aja! " ajak Alenza.
"Oke deh! " Annasya pun setuju.
Tapi sebelum mereka benar-benar masuk mobil, tiba-tiba saja mobil berwarna putih berhenti didepan mobil jemputan Alenza. Mereka pun menoleh pada mobil putih itu, dan keluar lah Stepanie sambil membenarkan kaca mata hitamnya, Alenza dibuat melongo sedangkan Annasya mengigit bibir bawahnya.
"Dia bakalan nyulik gue, hah sial gak bisa kabur begitu saja! " Grutu hati Annasya.
"Loe bareng gue! " ucap sinis Stepanie pada Annasya.
"Gue bilang ikut! Ya ikut!" pekik Stepanie dan segera memakai masker warna hitam.
"Dia garang juga, bukankah dia Stepanie si model itu?" bisik Alenza.
"Loe jangan bisik-bisik! " Tatapan Stepanie pada Alenza.
"Kak hari ini ada kerja kelompok Nasya tidak bisa ikut sama kakak, emangnya kakak siapanya Annasya? " Alenza yang tau bahasa tubuh Annasya yang menandakan kalau dia tidak mau bersama orang dihadapannya.
"Ini penting loe ikut gue! " Stepanie memaksa, dia menarik pergelangan tangan Annasya.
"Lepas! " Annasya mencoba untuk melepaskan diri tapi dari dalam mobil Stepanie keluar satu orang laki-laki berbadan tegap, dia menghampiri Annasya lalu menggendong Annasya kemobil.
"Nasya! " pekik Alenza berlari menuju Annasya, lalu menggedor pintu mobil itu.
__ADS_1
"Heh anak ingusan, minta baik-baik malah mau di kasarin! " lirih Stepanie.
"Heh loe ada urusan apa sama temen gue! Loe model yang dikagumi banyak orang kan? Sayang hatinya busuk! Sekarang juga lepaskan Annasya! " teriak Alenza pada Stepanie.
"Terserah loe, dan tidak ada urusan sama loe! minggir! " Stepanie mendorong bahu Alenza hingga tersungkur di tanah.
"Nasya! " Alenza berdiri dan mencoba mengejar, setelah terlihat mobil putih itu mulai berjalan.
"Nasib gue harus ngejar si Nasya, di luar alur ngejar karena di bawa Rio nah sekarang harus ngejar Nasya juga di dalam alur karena diculik Stepanie! " ucap Alenza dalam hati.
"Non ayo kita kejar! " ucap supir dalam mobil.
"Dari tadi napa! " Alenza segera naik mobil dan menyusul mobil Stepanie.
Alenza merogoh ponselnya di tas lalu menghubungi seseorang.
"Hallo Bhad! Itu Nasya di culik! " pekik Alenza setelah sambungan telepon itu terhubung.
"APA! " teriak Bhadra, membuat Alenza menjauhkan sesaat ponselnya.
"Pokonya loe cepetan kemari ntar gue kasih lokasinya, gue juga sedang ngejar nih! "
"Pokonya pantengin terus gue udah di jalan, cepet kirim sekarang lokasinya! "
Sambungan telepon terputus Alenza segera mengirim lokasinya.
Sedangkan Bhadra mendengar notifikasi segera berhenti dan mengambil ponselnya di saku jaket lalu meletakannya di depan. Setelah penunjuk arah itu tertera di ponsel, Bhadra segera melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
Di mobil Stepanie, Annasya tidak diam dia melakukan gerakan yang tidak beraturan agar bisa terlepas.
"Diam loe! " sentak laki-laki itu.
"Heh Nasya emang gue apain loe kaya yang ketakutan, emang loe takut sama gue? " Nasya yang menyetir mobil didepan hanya menyunggingkan senyum jahatnya. Sedangkan Annasya hanya diam padahal dalam hati dia sangat geram.
__ADS_1
"Ini badan masih kaku aja,!" amarah Annasya dalam hati.