Transmigrasi Mendadak Jadi Istri

Transmigrasi Mendadak Jadi Istri
BAB 40 Pengorbanan Rio


__ADS_3

"Stepanie! " teriak Annasya dan membuat Stepanie juga laki-laki itu terkejut.


"Kau! " Stepanie menunjuk Annasya.


Dan tiba-tiba saja waktu pun berhenti semua orang yang berada di apartemen itu terdiam bagai patung, lain di luar tepatnya dibalik pintu apartemen Stepenie terlihat dua orang saling menatap tajam dan menampakan amarah mereka tentu saja mereka Elmanno dan juga Rio.


"Saya harap tuan jangan melakuakn hal yang diluar cerita! " ucap tegas Rio.


"Gue tidak bisa terima Annasya disiksa sama orang lain! " pekik Elmanno.


"Ini hanya cerita, nanti juga dia tidak akan merasakan sakit setekah di luat alur cerita. Jangan gegabah tuan ini bisa membahayakan anda sendiri!" kasih tau Rio penuh penekanan.


"Tidak bisa! Tidak ada yang bisa melukai Annasya siapa pun! " Ucap Elmanno tanpa memperdulikan Rio yang matanya sudah memerah.


"Tuan jangan! " teriak Rio, tapi Elmanno teyap membuka kode pintu itu tentu saja dia tau karena dia seringke apartemen Stepanie.


Klak


Pintu terbuka dan waktu kembali berjalan, Elmanno segera berlari ke arah Annasya dan tiba-tiba saja dadanya merasa sakit saat semakin mendekati Annasya.


"Hentikan! " pekik Elmanno.


"El! " lirih Annasya dan Stepanie bersamaan.


"Kurang ajar loe berani melukai Annasya! " Elmanno mencengkram baju bagian depan Stepanie lalu tangan yang satunya mencengkram dadanya yang di rasa semakin sakit.

__ADS_1


"El! " Annasya menghampiri Elmanno lalu melepaskan ikatan tangannya dengan giginya.


"El lepas! Kenapa kamu kasar kepadaku dan malah membela si Nasya! " ucap Stepanie tertahan.


"Loe lepaskan cewek gue! " ucap laki-laki yang tadi hanya duduk di kursi kini berdiri di hadapan Elmanno dan


Bukkhhhh


Laki-laki itu memukul rahang Elmanno, Elmanno yang sedang menahan sakit di dadanya itu pun langsung saja tersungkur dilantai.


"El! " teriak Annasya dan Stepanie.


"Apa yang loe lakukan! "pekik Stepanie pada laki-laki itu.


"Dia melukaimu dan aku tidak akan tinggal diam! " sahutnya.


"El! " Annasya mencoba untuk mengangkat tubuh kekar Elmanno, tapi tidak bisa hingga Annasya pun entah harus gimana sampai dia menitikan air matanya. Rio berlari lalu memapah Elmanno dan segera membawanya keluar, tanpa di sadar Rio juga tengah menahan sakit ditelapak tangannya.


STAKKKKKKKK ( Diluar alur cerita)


Rio memasukan Elmanno kedalam mobilnya lalu disusul oleh Annasya, mereka berjalan menuju apartemen Elmanno. Setelah Rio mengantarkan Elmanno dan Annasya, dia segera kesekolah dan menggebrak pintu perpustakaan Alenza yang sedang di dalam sendirian itu pun terkejut.


"Rio! " pekik Alenza lalu berlari karena terkejut dengan kedatangan Rio yang sedang tidak baik-baik saja.


"Rio! " Alenza memapah Rio menuju meja dan membaringkannya di sana.

__ADS_1


"Lakukan sekarang Za!" ucap lirih Rio.


"Apa maksudmua! " pekik Annasya menggengam tangan Rio yang begitu saja bercucuran darah dari telapaknya.


"Kau tau bukan! Elmanno, dia juga merelakan hidupnya demi Annasya maka aku juga akan melakukannya kepadamu dan kamu bisa bebas keduniamu! " Rio mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Alenza sambil menggretakan giginya.


"Kita hanya figuran dalam novel ini dan sangat mudah untuk terlenyap dari cerita ini Za! " sambung Rio.


"Apa kamu pernah menganggapku manusia yang masih punya perasaan? Jika kamu berkorban maka aku pun harus begitu Rio! Setidaknya aku tidak mau melupakanmu!" Alenza mengusap air matanya.


"Jika Annasya mengikuti alur mungkin ada kemungkinan untuk kita aman tapi aku rasa dia pun mulai menyukai Elmanno! Kita tidak ada harapan aku akan selalu menyimpanmu di hatiku ini, walau selamanya kita tidak akan bertemu aku akan mengenangmu setidaknya aku senang dan bahagia mencintaimu Alenza! " Rio menitikan air matanya.


"Setiap masalah pasti ada solusinya Rio, kita tidak boleh menyerah ada hal lain yang bosa membuat kita bersama! "


"Apa maksudmu! " Rio membualatkan matanya pada Alenza.


"Jika Annasya tidak mati dalam alur cerita dan malah Elmanno yang mati, itu harapan kita! " Alenza mengelus pipi Rio.


"Nol koma nol nol nol nol nol nol nol satu persen Za untuk hal itu tidak akan terjadi apalagi didalam alur cerita! Arrrghh! " Ucapan Rio yang di iringi dengan erangan sakit, membuat Alenza semakin cemas.


"Sekarang waktunya Za, cepatlah biar aku yang duluan pergi ini sudah tidak kuat! " Pekik Rio tertahan.


"Rio kalau kamu pergi aku juga! " Alenza terisak.


"Ayolah inilah cinta kita Za, aku sangat mencintaimu!" Rio mencium tangan Alenza.

__ADS_1


"Rio! "


__ADS_2