
Alenza melihat Rio yang tengah berjalan ke arahnya lalu dia pun memanggilnya.
"Rio! " panggil Alenza, Rio yang di panggil pun menoleh lalu menghentikan langkahnya.
"Eh ada Alenza kesayangan! " Rio tersenyum.
"Dunia novel sudah mulai hancur dan menyimpang dari alur cerita, sebaiknya kamu menampakan dirimu sendiri!" Alenza berkata dengan gemetar.
"Apakah cinta ku padamu terlalu besar hingga kamu mempunyai satu kemampuan khusus di dunia ini! " Rio mendekati Alenza.
"Mungkin begitu karena aku melihat kalau di kepalamu terdapat cahaya warna biru, begitu juga dikepala Nasya dan Bhadra apa lagi tanda cahaya itu kalau mereka sudah menyadari kalau diri mereka berada di dunia novel! " terang Alenza.
Di dunia novel ini jika seseorang penghuni asli dan mencintai seseorang dari dunia lain maka orang yang dicintainya itu akan mendaparkan kemampuan khusus. Seperti Rio dia penghuni asli dan mencintai Alenza bahkan sebaliknya, maka Alenza bisa melihat otang yang sudah sadar kalau dirinya berada di dunia novel.
__ADS_1
"Bahkan dunia ini berada di titik kiamat rupanya, apa kamu masih tidak mau pergi dari dunia novel ini? " tanya Rio
"Itu kuasamu jika aku harus keluar maka kamu harus melepaskanku! " sahut Alenza.
"Bagaimana melepaskannya bahkan di cerita ini, aku harus selalu mencintaimu walau kamu selalu menolaknya. Bukankah penulis sangat pintar menyatukan hati seseorang! Walau ada bahaya di dekatnya, bukankah penulis juga sangat kejam!" Rio menyeringai sedangkan Alenza hanya terdiam lalu berbalik dan mulai berjalan meninggalkan Rio.
"Jangan paksa Annasya untuk tetap pada alur cerita biarkan saja yang penting dirimu." kata Rio membuat Nasya terdiam.
"Dan kau mencoba untuk memperingatkan Elmanno! Apa rencana mu! Jangan korbankan Annasya demi kepentinganku! " sentak Alenza.
Rio berjalan saja melongos dan menghiraukan ucapan Bhadra sedangkan Alenza hanya terdiam sambil menelan air liurnya susah dia tidak tau apa alasan yang akan dia bicarakan pada Bhadra.
"Rio tunggu! " teriak Bhadra.
__ADS_1
"Ngapain kamu kesini? " tanya Alenza, membuat Bhadra menoleh padanya.
"Jalaskan sejelas-jelasnya apa maksud ucapan Rio tadi. Annasya menjadi korban! Apa maksudnya! " pekik Bhadra.
"Baiklah akan aku jelaskan, kita duduk dulu di sana! " Alenza berjalan menuju taman disana ada dua ayunan dan Nasya duduk di salah satunya. Rio mengikuti dan terdiam didepan Alenza dengan tatapan tajamnya.
"Nasya, kamu dan aku berasal dari dunia yang sama yang terhempas ke dunia novel ini. Aku di sini terjebak hingga sekarang belum keluar juga dari dunia cerita ini itu semua gara-gara Rio, hatinya tidak mengijinkan aku untuk kembali. Kami salah telah saling mencintai, karena di dunia novel ini walau kami saling mencintai tapi kami tidak akan saling memiliki karena cerita penulis dan penokohan yang membuat kami selalu terpisah bahkan ini kali keduanya aku bertemu dengan Rio. Kami akan bertemu saat berada di satu buku novel, dan ini kesempatan aku untuk bisa keluar dan memaksa dia tidak lagi mencintaiku walau menyedihkan tapi ini demi kebaikan kami." Alenza mengayunkan dirinya lalu menatap Bhadra nanar.
"Soal mengorbankan Annasya, saat dia mengubah alur dan Elmanno tidak mengubah alur maka maka Anansya bisa menggantikan posisi ku di dunia novel ini dan aku bisa kembali kedunia asalku. Rio dia memang mencintaiku, tapi aku tidak ingin ada orang lain yang menjadi korban dan itu juga masih menjadi misteri bagi kehidupan novel. Karena ending novel ini yang mengharuskan Annasya meninggal jika ending ini diubah olehnya maka imbasnya adalah aku yang akan keluar dari novel ini, makanya aku selalu memperingatkan Annasya karena aku mengetahui satu rahasia! " Sambung Alenza.
"Elmanno! Dia yang bisa membuat kita bertiga kembali kedunia asal kita. Jika Elmanno terus mencintai Annasya tapi Annasya tidak mencintainya itu akan menguntungkan kita tapinlain lagi kalau Annasya dan Elmanno saling mencintai!"
"Kenapa? " Bhadra mengernyirkan alisnya.
__ADS_1
"Sialnya aku tidak tau! " Alenza tertawa membuat Bhadra geram.
"Kurang ajar loe! " pekik Bhadra.