
Sarani dan Ruslan seketika membisu, mata mereka saling melirik ucapan Ruslan membuat canggung yang luar biasa bagi keduanya hingga Ruslan menggerutu dalam hati.
"Keceplosan! Dasar mulut kurang rem!" ucap Ruslan dalam hati.
"Dia mengingat sampai sana! Jadi malu!" Sarani tertunduk.
"Khm!" Ruslan berdehem dan perlahan keduanya pun saling menatap.
"Hahahahahah!" suara tawa dari keduanya terdengar seperti orang konyol.
"Rio nggak di ajak?" tanya Sarami membuka percakapan.
"Dia masuk paud. Jadi tidak ikut!" sahut Ruslan.
"Oh!" Sarani memalingkan pandangannya..
Kini suara hening itu menyelimuti tidak ada percakapan di keduanya karena mereka bingung dengan topik apa yang akan dibicarakan mereka. Hingga terlihat sang ibu menghampiri dengan nampan di kedua tangannya.
"Pada diam saja, Mendingan minum dulu jus jeruk ini kebetulan jus jeruk adalah minuman kesukaan Sarani.!" Sang ibu menaruh kedua gelas itu di meja lalu duduk di samping Sarani.
"Terima kasih tante!" Sahut Ruslan.
"Kau tau baru kali ini ada laki-laki main ke rumah loh, ibu senang akhirnya kamu yang datang kesini. Sarani ini anak kutu buku banget siang malam buku aja yang dia geluti, sampai berbagai juara dia raih dan beasiswa juga dia dapatkan. Bahkan jika tidak ada kecelakann kemarin Sarani terpilih untuk mendapatkan beasiswa ke luar negri dan bulan kemarin pasti dia terbang meninggalakn kami dirumah." Snag ibu menatap Sarani iba.
"Beasiswa itu bisa nyusul tiga bulan lagi aku akan pergi Bu!" ucap Sarani dan membuat sang Ibubjuga Ruslan terkejut.
"Yak! Buaknkah sudah dikasih keorang lain." heran Ibu.
"Tidak, besiswa itu hanya aku yang mendapatkannya dan satu orang lagi di Indonesia.!" ucaL Sarani.
"Padahal ibu dan ayah bisa menguliahkan mu di sana tanpa beasiswa!" gumam Snag Ibu.
"Kalau boleh tau dimana Sarani akan melanjutkan kuliahnya?" tanya Ruslan.
"Di university of Oxford!" sahut Sarani.
__ADS_1
"London!" Ruslan terkejut, pasalnya dia memikirkan akan jauh dari Sarani.
"APA?" kini malah sang ibu yang terkejut.
"Katanya kamu akan melanjutkan kuliah di singapura kenapa jadi di London? Ibu kira universitas itu ada di Singapura kamu bohong sama ibu dan ayah!" Sang ibu menatap Sarani tajam.
"Aku tidak bohong, lagian ibu memiliki pendapat sendiri kalau universitas itu ada di singapura.!" sahut Sarani.
"Pantesan ayahmu marah dulu tidak mengizinkanmu kuliah di sana. Ternyata ayah sudah tau kalau itu di London!" Sang ibu sangat kesal dia tidak tau kalau university of oxford itu di London padahal nama Oxford juga nama daerah di london inggris.
"Tiga bulan lagi apa kamu akan benar benar pergi kesana?" tanya Ruslan.
"Iya!" Sarani menunduk.
"Tidak! Tempat itu sangat jauh!" Sang ibu berdiri dan menatap tajam pada Sarani.
"Ibu ayolah dari dulu aku ingin kuliah di sana!" Sarani menatap sang ibu.
Sang ibu pergi begitu saja dia sangat tidak ingin jauh dari putri satu satunya itu, setelah kejadian yang menimpa Sarani sampai koma itu . Sang Ibu tidak ingin anaknya jauh sekalipun apalagi di london inggris dan bertaun taun di sana, ibu tidak akan mengizinkannya.
Sarani hanya tertunduk, Rulsan yang melihat hal itu pun hanya bisa diam karena dalam hatinya dia tidak mengizinkan Sarani lergi dia juga tidak ingin berjauhan bersama Sarani.
"Tidak keinginanmu adalah mimpi semua orang, universitas itu merupakan universitas tertua dan berdiri sejak abad ke sembilan di inggris. Aku pun dulu kuliah di sana, dan gelar dokter juga berasal dari sana.!" sahut Ruslan.
"Benarkah?" tanya Sarani berbinar.
"Hem," Rulsan mengagguk.
"Hanya saja aku bisa kulaih di sana bukan jalur beasiwa tapi lewat jalur dompet orang tuaku!" Ruslan terkekeh.
"Kamu merupakan orang beruntung mendapat beasiswa dari oxford. Hanya saja aku juga merasa khawatir jika kamu di sana selain jauh pergaulan di sana juga mempengaruhi, mungkin itu juga yang di khawatirkan oleh ibumu dan ayahmu. Kamu itu seorang perempuan dan anak satu satunya mereka jadi dia tidak ingin kamu kenapa napa. Jangan salah artikan sikao mereka padamu sekarang, karena sebenarnya dia sangat sayang sama kamu!" jelas Ruslan lalu berpindah duduk di samping Saranni.
"Tapi itu keinginanku kuliah di sana, ucapan Dokter memang ada benarnya apa aku harus mengubur dalam keinginanku yang sejak dulu itu?" Sarani menatap Ruslan.
"Tidak ada yang lebih bahagia dibanding dengan kebersamaan bersama keluarga yang saling mengasihi dan saling sayang." Ucap Ruslan.
__ADS_1
"Kamu masih mempunyai orang tua yang utuh dan sangat sayang kepadamu, jika aku di posisimu aku akan senantiasa ingin selalu bersamanya karena nyawa seseorang tidak akan ada yang tau kapan dia pergi. Seperti ibuku yang meninggal saat aku akan wisuda di london, bukan hanya ibuku kakak ku dan kakak ipar ku juga. Bahkan aku merasa akulah yang menyebkan mereka meninggal!" Ruslan tertunduk.
"Jadi yang di maksud acara bahagia itu acara wisudanya," gumam Sarani di dalam hatinya.
"Pak Dokter! harusnya aku yang sedih kenapa kini jadi dokter Ruslan yang sedih?" Saranin menepuk bahu Ruslan.
"Mendengarmu akan kuliah di sana juga membuatku teringat akan hal itu, dan merasa sakit hati karena akan berjauhan dengan mu! Bagaimana kalau nanti anak kita saja yang kuliah di sana, dan kita juga tinggal di London setelah menikah!" ucaoan Ruslan seketika membuat Sarani mengerutkan dahinya.
"Kapan kita akan menikah? Emang aku mau menikah dnegan Dokter?" seketika ucaoan Sarani membuat Ruslan menatap tajam wanita di sampingnya itu.
"Mau tidak mau, kamu harus jadi miliku Sarani!" Ucap tegas Ruslan dan membuat Sarani merinding dibuatnya.
"He he!" Sarani tertawa ragu.
"Bulan depan kita akan menikah, hari ini aku akan memberitahu keluargaku dan malam aku akan meminangmu kesini!" Ruslan dengan muka seriusnua lalu pamit pulang, Saranin hanya bengong melihat kepergian Ruslan.
"Apa aku akan segera menikah, apa aku di paksa tidak jadi menerima beasiswa ke oxford?" pikir Sarani. Hingga Saraninm menyadari sesuatu lalu segera berlari menghampiri sang ibu dikamarnya.
"Ibu!" panggil Sarani menyambulkan kepalanya dibalik pintu. Dan terlihat sang ibu tengah mengusap air matanua dengan tisu. Sarani yang melihat itu segera menghampirinya.
"Ibu!" Sarani duduk di samping ibu allu memeluknya erat.
"Kamu tega!" ucap sang ibu sesegukan.
"Mana mungkin aku tega sama ibu," Sarani semakin erat memeluk sang ibu.
"Kamu benar benar tega akan meninggalakn ibu, padahal ibu tidak mau jauh darimu bayangkan london itu di inggris kesana memakai pesawat juga memakan waktu ber jam jam. Dan mana mungkin ibu setiao hari kesana hanya untuk melihat keadaanmu!" kembali snag ibu sesegukan sedih.
"Ibu, aku tidak jadi kesana aku mana tega meninggalkan ibu! Lagian nanti malam akan ada yang melamarku!" Sarani tersenyum.
"APA!" Sang ibu segera menghapus air matanya dan menatap terkejut pada Sarani.
"Hem, dokter Ruslan dan keluarganaya akan kesini nanti malam!"
"Jangan bercanda kamu!"
__ADS_1
"Ia Bu!"
"Sekarang kita harus belanja. Cepat panggilkan bibi di dapur suruh dia ikut bersama kita sekarang!"