Transmigrasi Mendadak Jadi Istri

Transmigrasi Mendadak Jadi Istri
Dokter Ruslan apa Elmanno?


__ADS_3

"Elmanno," lirih Sarani menatap nanar seorang dokter yang kini tengah memeriksanya.


"Apa yang anda katakan nona?" tanya dokter itu seraya tersenyum pada Sarani, tangannya mulai memeriksa tubuh Sarani.


"El?" Air mata terjatuh dari pelupuk mata, tangannya perlahan terangkat seraya memegang tangan dokter itu.


Doter itu membuka alat pernapasan pada Sarani karena di rasa Sarani mulai bisa untuk tidak menggunakan alat tersebut.


"Sekarang kamu bisa bicara denganku. Ada yang ingin di sampaikan atau ada hal yang membuatmu tidak nyaman?" tanya dokter itu.


"El! Elmanno!" Sarani menggengam erat tangan dokter itu.


"Ibu, Pak barangkali ada saudara atau seseorang yang bernama Elmanno yang nona kenal bisa dihubungi untuk kemari?" Dokter itu menatap sang ibu dan ayah bergantian.


"Perasaan tidak ada, bahkan teman dekat Sarani hanya bersama Lisa, Rima dan Dinda tidak ada laki-laki!" ucap sang ibu seraya mengingat teman Sarani wakti dikuliahan.


"Dia terus memanggi nama Elmanno,!" ucap Dokter itu.


"Kamu!" sahut Sarani menunjuk dokter itu.


"Saya?" Dokter itu menatap Sarani dan Sarani pun mengangguk pelan.


Dokter itu tersenyum lalu memegang tangan Sarani seraya berkata," Saya Ruslan Prasetya, saya dokter kamu. Mungkin seseorang bernama Elmanno itu ada kemiripan dengan saya tapi tidak mengapa saya bisa memaklumi."


"Baiklah syukur Allhamdulilah, Nona bisa pulih kembali. Bisa untuk di rawat lagi beberapa hari sampai sembuh total, saya harap nona beserta ibu dan bapak bisa bersabar sebentar lagi." sambung dokter yang bernama Ruslan itu, senyuman itu tidak pudar dari bibir tebalnya.


Sarani menggretakkan giginya menahan rasa sakit dan tangis di dalam benaknya. Kenyataannya memang sangat pahir dokter itu mirip dengan Elmanno, sang pujaan hati saat di dunia lain. Tapi dia pun tidak bisa memaksa dia hanya bisa bersedih hati.


"Bisakah kamu memelukku, ku mohon!" pinta Sarani pada Dokter Ruslan itu, sedangkan sang ibu dan ayah saling menatap.


Dokter Ruslan menatap kedua orang tua Sarani, dan menatap Sarani dengan pandangan aneh.

__ADS_1


"Maafkan saya-"


"Saya mohon untuk menurutinya, anakku baru saja siuman!" kini sang ayah yang meminta pada dokter Ruslan.


"Em!" Dokter Ruslan mengusap tengkuknya ada rasa ragu di dalam benaknya.


"Bisakan Dokter?" kini giliran sang ibu yang meminta.


Dokter Ruslan itu menatap Sarani yang tertidur, dirinya merasa canggung karena harus memeluk Sarani bahkan di hadapan kedua orang tuanya. Tapi dia adalah seorang Dokter yang harus membuat pasiennya senang, dan akhirnya dokter Ruslan mengangguk lalu menghampiri Sarani.


Dokter Ruslan mengangkat tubuh Sarani untuk duduk di ranjang lalu Sarani tiba-tiba saja memeluk dokter itu sangat erat.


"Aku sangat khawatir, aku takut hal ini akan terjadi dan ternyata benar adanya. Aku mencintaimu, aku menyayangimu! Aku menginginkan mu untuk tetap bersamaku, tapi aku tidak akan egois. Aku hanya berharap keajaiban datang dan menyatukan kita lagi!" ucap Sarani dengan tangis dan pilu yang dia rasakan.


"Em nona?" panggil dokter Ruslan memegang bahu Sarani.


"Biarakan hanya untuk beberapa detik saja, ku mohon! Sebelum kita benar-benar berpisah!" ucap Sarani yang menganggao itu adalah Elmanno yang berada di dunianya. Walau dia sadar sebenarnya itu bukan lah dia, karena Elmanno telah terbunuh oleh preman.


"Maaf!" Sarani kembali terbaring lalu memunggungi dokter Ruslan dengan mata sembab dan masih sesegukan menahan tangisnya.


"Elmanno sudah tidak ada," lirih Sarani menepuk dadanya yang di rasa sakit itu.


"Baiklah saya permisi , dan bapak bisa ikut saya?" ucap dokter menatap sang ayah. Setelah mendapati anggukan dari sang ayah dokter Ruslan itu berjalan meninggalakan ruang rawat Sarani.


Sang ibu menatap anaknya, lalu berjalan dan membelai kepala Sarani. "Nak apa yang sebenarnya telah terjadi padamu?"


"Ibu !" Sarani menoleh dan menatap sang ibu.


"Iya sayang!" ibu pun duduk di bangku dan menggengam tangan Sarani siap menjadi pendengar bagi anak satu satunya itu.


"Aku tidak bisa ceritakan hal ini, aku telah masuk novel dan menjadi peran utama sedangkan dokter tadi adalah pemeran laki-laki yang dicintaiku saat di dunia novel. Aku bisa di sangka gila sama ibu nanti!" pikir Sarani. Makanya dia mengurungkan niat untuk bercerita pada snag mamih.

__ADS_1


"Apakah kamu mengenal dokter itu? Apa dia kekasihmu dan mencampakanmu?" nada tinggi itu keluar dari mulut sang ibu.


"Tidak bu, hanya saja aku merasa telah mimpi panjang selama ini. Aku bermimpi bertemu sosok laki-laki yang wajahnya seperti dokter itu, makasnua terbawa perasaan!" jelas Sarani.


"Benarkah, apakah karena dia sering bertemu denganmu dan bicara kepadamu? Mungkin itu penyebabnya!" sang ibu menetap Sarani.


"Bicara denganku?" tanya Sarani menginginkan penjelasan dari omongan sang ibu.


"Hem terkadang ibu juga sering bercerita di dekatmu, tapi dokter itu juga selalu mengajakmu bicara saat koma beberpa bulan kemarin dia selalu bercerita dan bertanya bagaiaman kabar kamu. Dan apa saja yang pernah kamu lakukan, walau tidak ada sahutan karena kamu belum sadar dokter itu terus saja selalu mengajakmu berbicara. Katanya hal itu bagus untuk merangsang kamu untuk pulih." jelas sang ibu.


"Elmanno selalu bersamaku didalam novel itu, berarti dokter itu hanya mirip saja buktinya saat aku koma dia berada di dunia ini bukan di dunia novel dan menjadi sosok Elmanno. Tapi kenapa harus mirip?" hati Sarani bergemuruh.


"Hem ibu jadi penasaran apa kamu benar menyukai dokter itu? Sampai bilang sayang lah cinta lah. Ingin memiliki mu." goda sang ibu.


"Ibu itu hanya sepontan, suasana mimpi panjang masih mempengruhi pikiranku. Ibu aku baru tersadar dan ibu sudah godain aku aja!" Sarani memanyunkan bibirnya.


"Akhirnya ibu bisa melihat bibir itu muncung lagi, jadi penasarn mimpi panjang seperti apa yang kamu lalui?" sang ibu menggoyangkan lengan Sarani.


Sedangakn di ruang dokter. Sang ayah dan dokter Ruslan tengah berbicara mengenai kesehatan Sarani, terlihat sang ayah tersenyum.


"Akhirnya anakku bisa pulih lagi, ini berkat dokter Ruslan terimakasih banyak!" ucap sang ayah dan dokter Ruslan oun hanya tersenyum menanggapi.


Sesaat mata sang ayah tertuju pada jas dokter milik Ruslan yang basah karena ulah Sarani tadi, melihat hal itu dokter Ruslan pun mengikuti arah pandang sang ayah lakunkeduanya saling tatap dan tersenyum.


"Maafkan anak saya," ucap sang ayah.


"Tidak apa-apa saya senang membantu nona Sarani!" sahut dokter Ruslan.


"Tapi apakah kalian sebelumnya pernah bertemu?" tanya sang ayah karena dia masih penasaran dengan ucapan Sarani pada dokter dihadapannya itu yang tidak biasa.


"Sepertinya saya hanya mengenal anak bapa saat di bawa ke rumah sakit saja, itu juga dia sendiri dalam keadaan tidak sadarkan diri. Dan baru kali ini kami saling menyapa!" jawab dokter Ruslan.

__ADS_1


"Oh seperti itu, tapi kenapa bisa ya?" tanya sang aumyah, sedangkan dokter Ruslan hanya tersenyum sembari menunduk.


__ADS_2